Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Robin vs Bara


__ADS_3

Siang ini Marsha dan suaminya mendapatkan undangan makan siang dari Mama Laras. Alasan orang tua Bara mengundang karena putra dan menantunya tidak pernah berkunjung setelah kepulangan mereka dari luar negeri.


Bara tidak sempat ke rumah orang tuanya karena Marsha selalu mengeluh pusing dan mual. Belum pekerjaan yang sangat padat.


Akhirnya, hari ini sepasang suami istri itu menyempatkan waktunya berkunjung.


Begitu sampai, Nia memeluk Marsha. "Apa kabar Kakak Ipar?"


"Baik, Nia. Apa kau lagi bahagia?" tanya Marsha.


Nia mengangguk.


"Apa yang membuatmu bahagia? Coba sedikit cerita padaku," ujar Marsha.


"Nanti saja kita bicara," bisik Nia.


"Baiklah," Marsha tersenyum.


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Bara.


"Tidak ada, Kak. Ayo, kita makan!" ajak Nia penuh semangat.


Mereka menikmati makan siang bersama tanpa Tia karena sedang melanjutkan sekolahnya di luar negeri.


Selesai makan mereka melanjutkan mengobrol di ruang keluarga, Nia sesekali memainkan ponselnya untuk membalas pesan seseorang. Dan akhirnya ia berpamitan keluar rumah untuk bertemu temannya.


Ya, Nia bertemu dengan Robin di sebuah kafe. Orang tuanya dan Bara tahu jika dirinya dengan salah satu temannya.


"Kak Robin, kenapa tiba-tiba ingin bertemu? Padahal ada Kak Bara dan istrinya di rumah," ujarnya.


"Aku rindu denganmu."


"Kak, kita baru dua hari yang bertemu."


"Memangnya kenapa kalau aku ingin bertemu?"


"Tidak apa-apa, sih."


"Oh, ya. Aku ingin bertemu dengan salah satu rekan bisnis di sebuah hotel. Apa kamu mau ikut?"


"Bolehlah, Kak. Tapi tidak lama, kan?"


"Tidak, sebelum jam delapan malam kamu sudah pulang," jawab Robin.


"Ya, sudah kita berangkat sekarang saja menemuinya," ujar Nia.


"Baiklah," Robin menggandeng tangan Nia menuju parkiran mobil.


Selama perjalanan, Robin selalu mengecup jemari Nia dengan lembut. Sesampainya di hotel, ia menyuruh kekasihnya beristirahat di kamar.


Tak lama kemudian, Robin membawa minuman dan ia berikan kepada Nia. "Silahkan di minum!"


"Kak Robin, jangan lama-lama bertemunya," pinta Nia.


"Tidak, aku hanya sebentar saja." Robin pun berdiri ia berjalan pelan.


Nia meminum air pemberian kekasihnya, tak lama kepalanya pusing dan berat kemudian tertidur.


Robin membalikkan badannya dan tersenyum puas. Ia mendekati Nia dan merebahkan tubuh gadis itu di ranjang.


Robin membelai lembut wajah Nia, "Karena ulah Kakakmu terpaksa kau yang jadi pelampiasan ku."


Robin membuka kancing yang menutupi bagian dada Nia, tangannya menyusuri setiap lekuk tubuh mulus.


Wajahnya mendekati Nia yang terlelap tidur, ia pun melakukan aksinya menjelajahi seluruh tubuh molek gadis itu dengan rakus.


-


Beberapa jam kemudian Nia terbangun dengan sakit di seluruh badannya. Matanya menatap langit kamar, ia lalu menoleh ke samping. Seketika tubuhnya lemas, wajahnya pucat, ia melihat di balik selimut kemudian berteriak sekencang-kencangnya.


"Brengsek!" Nia menimpuk badan Robin dengan bantal.


"Hei, apa yang kamu lakukan?"


"Apa yang telah kita lakukan?" Nia menangis sekuatnya.

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab," jawab Robin santai.


"Iya, Kak Robin harus tanggung jawab!" Nia mengacak rambutnya dan terus terisak.


"Jangan menangis lagi, aku akan menemui orang tuamu!" Robin berbicara santai tanpa ada beban.


Nia meremas wajahnya, "Bagaimana jika Papa tahu kita telah melakukan ini?"


"Aku akan tanggung jawab dan kita menikah, mudahkan!"


"Seenaknya saja, bilang mudah. Kak Robin tahu jika Papa belum mengizinkan aku menikah!"


"Baiklah, aku tidak akan menikahimu!"


Nia mendorong tubuh Robin hingga terjatuh ke lantai. "Bagaimana jika aku hamil?"


"Makanya aku akan menikahimu."


"Aaarrrghhh....." teriak Nia.


...----------------...


Dua hari kemudian, Nia mengumpulkan kedua orang tuanya dan Kak Bara di rumahnya. Ia pun memberanikan diri berbicara.


"Ada apa yang ingin kamu katakan, Nak?" tanya Handoko.


"Maafkan aku, Pa, Ma, Kak."


"Kenapa minta maaf, Nia?" Laras mulai curiga.


"Aku ingin menikah," jawabnya.


"Menikah dengan siapa? Bukankah kamu bilang sudah putus?" tanya Laras lagi.


"Aku akan menikah dengan Robin Alonso."


"Apa!" Handoko dan Bara terkejut.


"Nia, apa kamu tahu dia itu musuh kakakmu?" tanya Handoko.


"Aku tidak tahu, Pa. Tapi, kami saling mencintai," jelas Nia.


"Papa juga," sahut Handoko dengan tegas.


"Tapi, kami sudah tidur bersama," Nia berkata jujur.


Handoko dan Bara mengepalkan tangannya.


Laras menghampiri putrinya lalu menamparnya, "Apa kau tidak punya harga diri?" teriaknya.


"Maafkan aku, Ma." Nia memegang pipinya dan menangis.


"Cepat bawa pria itu ke sini, sekarang juga!" titah Laras dengan tegas.


Nia mengirimkan pesan kepada Robin yang sudah menunggu di luar pagar.


Setelah mendapatkan pesan dari Nia, ia pun turun dengan berjalan santai memasuki rumah milik Handoko Kartajaya.


Nia berdiri setelah melihat Robin menemui keluarganya.


Bara yang tidak menahan emosinya, memukul wajah Robin dengan sekuatnya.


"Kak Bara!" Nia menahan tangan kakak kandungnya itu.


Bara menghempaskan tangan Nia, Handoko dan Laras memegang tubuh putrinya untuk tidak mendekat.


Bara menarik kerah baju Robin, "Apa yang kau lakukan pada adikku?" tanyanya lantang penuh amarah.


"Kami hanya tidur bersama dan saling mencintai," jawab Robin yang tidak membalas pukulan Bara.


"Kak Bara, cukup!" teriak Nia.


"Aku akan menghajar pria ini sampai menjadi debu!" Bara kembali melayangkan pukulan hingga membuat Robin terjatuh.


"Silahkan saja memukulku sampai puas," Robin tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Aku tidak rela, adikku menikah denganmu!" hardik Bara.


"Apa kalian siap menanggung malu, jika Nia hamil?" Robin sengaja berkata begitu agar lawannya lemah.


"Ma, Pa, izinkan kami menikah. Aku sangat mencintainya," Nia menangis terisak.


"Dasar gadis bodoh! Kau pikir aku mencintaimu," batin Robin.


"Nia, pria ini licik. Percayalah kamu tidak akan hamil," Bara menyakinkan adiknya agar tak menikah dengan musuhnya.


"Tapi aku sudah tidak suci lagi, Kak!"


"Pilihan ada ditangan kalian, jika tak diizinkan aku akan pergi," ujar Robin santai.


"Jangan tinggalkan aku, Kak Robin!" panggil Nia. "Ma, Pa, ku mohon!" ia menatap kedua orang tuanya.


"Biarkan dia pergi!" ucap Handoko.


"Pa, dia harus tanggung jawab!" Nia berbicara dengan nada memohon.


"Biarkan mereka menikah, Pa." Laras akhirnya ikut berbicara.


Robin tersenyum puas.


"Mama mengizinkan mereka menikah, apa tidak salah?" Bara merasa tak senang.


"Apa kamu mau jika adikmu hamil dan anak yang dilahirkannya itu tidak memiliki ayah?" tanya Laras.


Handoko dan Bara terdiam.


"Bagaimana?" tanya Robin.


"Baiklah, Papa mengizinkan Nia menikah dengannya. Pernikahan akan dilakukan seminggu lagi dan hanya dilaksanakan sesederhana saja," jawab Handoko.


"Nah, itu baru benar. Kenapa tidak bicara dari tadi saja kalau kalian menyetujui hubungan kami," ujar Robin.


Bara masih menatap kesal, ia pun bergegas meninggalkan kediaman orang tuanya.


-


Begitu sampai rumahnya, Bara menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan memijit pelipisnya. Marsha melihat suaminya pulang dari rumah mertuanya dengan wajah kesal.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Marsha memegang perutnya yang masih rata. Karena baru kemarin ia dinyatakan hamil 4 Minggu.


"Nia akan menikah seminggu lagi."


"Kenapa mendadak begini?"


"Ya, karena dia dan calonnya membuat pengakuan sudah tidur bersama," jawab Bara.


Marsha menutup mulutnya tak percaya. "Pria itu mau tanggung jawab, kenapa wajahmu marah begitu?"


"Bagaimana aku tidak marah, Sha. Nia akan menikah dengan Robin. Pria yang merencanakan dan menyuruh orang untuk merampok kita. Dia musuhku, aku sangat membencinya," ungkap Bara.


"Kenapa Nia bisa bertemu dengannya?"


"Aku juga tidak tahu, mungkin Robin sengaja mendekati Nia untuk menghancurkan ku."


"Aku akan coba berbicara pada Nia."


"Tidak, sayang. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu, lebih baik jangan ikut campur. Aku takut Robin akan menyakitimu, apalagi kamu sedang mengandung," jelas Bara.


Marsha pun mengangguk.


...****************...


Seminggu kemudian pernikahan terjadi. Nia tampak cantik dibalut dengan gaun sederhana namun tetap mewah.


Robin sejenak terpesona dengan adik dari musuhnya itu. Ia tersenyum tipis kepada istrinya yang telah duduk di sampingnya setelah beberapa menit yang lalu mengucapkan janji pernikahan.


Beberapa keluarga mengucapkan selamat, dari pihak Robin hanya diwakilkan oleh teman papanya dan beberapa pengawalnya.


Bara mendekati adik ipar sekaligus musuhnya. "Jika aku mendengar Nia tersakiti, ku tidak akan segan mencari keberadaanmu!" bisiknya


"Apa tidak ingat yang telah kau lakukan pada istrimu?" Robin menyindir.

__ADS_1


Bara mengeraskan rahangnya, menahan emosinya untuk tidak memukul.


Robin tersenyum puas, akhirnya dendamnya terbalaskan.


__ADS_2