Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Pernikahan Arum


__ADS_3

Nia mengatur nafasnya agar bisa tenang dalam menyampaikannya. "Radit mantan kekasih Kak Marsha!"


Robin tertawa kecil mendengarnya.


"Mas, tidak terkejut?" Nia mengernyitkan keningnya.


"Hanya mantan kekasih," jawab Robin santai.


"Mas, kata Kak Marsha. Radit itu tidak baik, dia meninggalkannya saat keluarga Kakak ipar bangkrut," jelas Nia.


"Mungkin dulu dia pria yang brengsek tapi sekarang tidak," ujar Robin.


"Mas, apa salahnya untuk menyelidikinya terlebih dahulu?" saran Nia.


"Sayang, aku percaya pada Mama. Dia dan Arum mengenal siapa sosok Radit," jawabnya.


Nia menghela nafas pasrah.


...----------------...


Radit dan Arum kini sedang berada di sebuah butik. Keduanya mencoba gaun yang akan dikenakan saat pernikahan.


Arum terlihat pasrah ketika para pegawai membantunya memakaikan gaun pengantin.


"Nona, anda pilih yang mana?"


"Terserah kalian saja."


"Yang ini cocok dengan tubuh anda," pegawai butik menunjukkan gaun berwarna putih tulang.


"Saya bilang terserah kalian pilih yang mana!" Arum dengan nada tinggi.


"Baiklah, Nona."


Radit yang mendengar percakapan itu mendekatinya. "Kamu kenapa?" tanyanya dengan lembut.


Arum tak menggubrisnya dan memasang wajah ketus.


"Tuan, Nona belum menentukan pilihan gaunnya," ujar pegawai butik.


"Ya, sudah pilih yang warna ini saja!" Radit menunjuk warna biru muda.


"Baiklah, Tuan." Para pegawai pun meninggalkan keduanya.


"Arum, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" Radit bertanya dengan lembut.


"Pernikahan ini semua terpaksa, kau tidak usah bersikap lembut dan baik padaku," jawabnya ketus.


Radit mencoba tersenyum, walau hatinya kesal dengan perlakuan Arum.


-


-


Leo berdiri di depan meja kerja Galvin dengan wajah sedikit menunduk dan sendu.


"Ada apa?"


"Apa Tuan akan pergi ke luar negeri?" tanya Leo.


"Ya, aku akan membuka cabang baru di sana. Kemungkinan akan menetap di sana," jawabnya.


"Tuan meninggalkan aku di sini sendiri?"

__ADS_1


Galvin tersenyum kecil, "Kau memang harus ku tinggal. Siapa yang akan menjaga Silvia dan perusahaan."


"Apa Tuan menyerah begitu saja? Tak ada berjuang untuk merebut hati Nona Arum?"


"Aku sudah berjanji pada Robin dan seharusnya ku tak memaksa atau mengejarnya jika ibunya tak merestuinya," jawab Galvin.


"Kepergian Tuan ke luar negeri bukan untuk menghilangkan rasa sakit hati, kan?"


"Aku sudah menjelaskan alasannya, Leo. Bukan karena yang lain," jawab Galvin.


"Tuan, Nona Arum akan menikah seminggu lagi," ucap Leo.


Galvin mengarahkan pandangannya kepada Leo.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan." Pamitnya pergi meninggalkan ruang kerja atasannya.


Setelah Leo pergi, Galvin menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak menghadap langit-langit ruang kerjanya.


"Kenapa sesakit ini mendengar kabar pernikahannya?" Galvin membuka telapak tangannya lalu meraup wajahnya dengan kasar.


Pikiran jahat terlintas dibenaknya, Galvin ingin membatalkan pernikahan Arum namun ia urungkan. "Aku tidak boleh menghancurkan kebahagiaannya," ucapnya lirih.


...----------------...


Janji pernikahan akan dilaksanakan beberapa hari lagi, gedung sudah dipersiapkan. Arum tak ingin ada karangan bunga atau kertas undangan yang tersebar luas selain keluarga.


Pernikahan ini tidak terlalu diharapkannya, cukup keluarga inti dan dekat saja yang harus datang.


Mama Carla akhirnya pasrah mengikuti keinginan putrinya itu. Padahal ia ingin menikahkan Arum dengan pesta mewah yang dihadiri seluruh teman, sahabat dan rekan kerjanya.


Walaupun tinggal beberapa hari menjelang pernikahan, Arum tetap melakukan pekerjaannya di kantor. Ia masih memantau karyawannya di lapangan.


Sementara itu Galvin dan Arum sudah tidak terikat lagi kerja sama. Ya, akhir-akhir ini pria itu sangat sibuk hingga ia tidak sempat untuk mengunjungi adiknya.


Belum lagi persiapan ia pergi ke Belanda. Membuat waktunya tersita begitu banyak.


Galvin sedikit terkejut dengan kehadiran adik angkatnya itu. "Kenapa kamu di sini? Bagaimana kalau orang-orang tahu dengan perutmu itu?"


"Kak, jangan pergi!" pintanya.


"Pasti pria ini yang memberitahumu!" Galvin menunjuk Leo yang di sebelah Silvia.


"Kak, tega meninggalkan aku di sini sendiri!" ia menampilkan wajah sendu.


"Setelah bayi itu lahir, kamu boleh menyusul kakak di sana!" ujar Galvin.


"Kak, pergi bukan karena sedang patah hati, kan?" tanya Silvia.


"Tidaklah, ini cuma urusan pekerjaan saja. Kakak sudah melupakan wanita itu, mungkin ini yang terbaik untuk kami," jawab Galvin mencoba tersenyum.


"Kak, aku janji akan mengembalikan dia untukmu!"


"Silvia, cukup. Jangan usik keluarga mereka lagi," mohonnya.


"Kak, Arum tak pantas dengan pria itu!" ceplos Silvia.


"Kenapa? Jangan bilang kamu sudah memata-matai mereka?" cecar Galvin.


"Aku hanya menebak saja, Kak." Jawab Silvia berbohong.


Leo bernafas lega mendengar jawabannya.


"Silvia sudah, ya. Jangan bahas mereka lagi, Kakak sangat pusing dengan pekerjaan di perusahaan yang cukup menyita waktu. Jangan tambah beban Kakak karena tingkah dan ulah dirimu lagi," pinta Galvin.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku pulang!" Silvia pun pamit.


Leo berjalan di samping wanita itu lalu bertanya. "Apa selanjutnya rencana kita?"


"Aku akan memberitahumu, pastikan seluruh anak buah tidak ada yang memberitahukan rencana ini pada Kak Galvin," jawab Silvia.


"Baiklah!"


......................


Kediaman keluarga besar Alonso sibuk dengan persiapan pernikahan. Arum lebih dahulu tiba di gedung karena ia calon pengantin yang harus di rias.


Pernikahan berlangsung tertutup. Semua karena permintaan Arum dan keluarga menyetujuinya.


Tepat pukul 9 pagi, seluruh keluarga telah hadir. Bara dan istrinya juga datang begitu juga dengan pasangan Rio dan Weni.


Nia sengaja mengundang teman Marsha itu karena Weni pernah memberi tahu kepada Kakak iparnya mengenai Radit.


Nia berusaha mempertemukan Rio kepada Robin. Namun, pria itu menolaknya dengan alasan begitu banyak pekerjaan dan lebih percaya pada ucapan Mama Carla.


Tamu undangan telah banyak yang hadir. Arum duduk di deretan kursi keluarga besarnya. Radit hanya membawa dua orang perwakilan keluarganya. Pria itu berdalih saudaranya tak dapat datang karena jauh di luar negeri.


Robin duduk berhadapan dengan calon adik iparnya itu.


Arum menatap dua pria itu dengan wajah getir. Ya, dia berharap pernikahan ini batal dilaksanakan.


Sementara itu diluar gedung, Silvia berjalan bersama Leo dan dua orang pria sebagai pengawalnya.


"Anda tidak boleh masuk!" seorang penjaga keamanan menghentikan langkah mereka.


"Kami ini dari keluarga calon pengantin pria," ucap Leo berbohong.


"Apa kalian memiliki undangannya?"


"Radit lupa memberikan undangannya kepada kami," jawab Silvia.


"Tuan Radit mengatakan kepada keluarga Nyonya Besar kalau tak memiliki keluarga di sini," ujarnya.


"Ya, kami memang tidak tinggal di sini. Kami jauh-jauh dari luar kota, karena dia pernah menghubungi kami," jelas Silvia berbohong lagi.


"Baiklah, kalian boleh masuk!" ucap penjaga.


Silvia tidak menunjukkan wajah aslinya. Ya, dia harus melakukan penyamaran karena sebagian anak buah Robin mengenal dirinya. Ia harus menggunakan rambut palsu panjang berwarna pirang, kacamata hitam besar dan membuat tanda lahir palsu di bawah matanya. Hal yang sama dilakukan Leo yang memakai kumis dan rambut palsu.


Leo dan Silvia berjalan masuk gedung dengan wajah tersenyum. Keempatnya duduk tak jauh calon mempelai akan mengucapkan janji pernikahan.


Silvia membalas pesan dari kakaknya kalau ia sebentar lagi akan pulang.


Silvia tampak keringat dingin, Leo yang paham mengenggam jemari wanita itu. "Nona, tenanglah. Semua akan berhasil!"


"Radit apa kau sudah siap?" tanya Robin.


"Dia tidak bisa menikah dengan Arum!" Silvia berdiri dan berkata lantang.


Seluruh mata tertuju padanya.


"Siapa dia?" Semua tamu yang hadir saling berbisik.


"Siapa kamu?" Radit berdiri dan bertanya tegas.


Silvia menarik sudut bibirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komen 🌹


Selamat Membaca


__ADS_2