Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Dengan Siapa Kamu Tidur?


__ADS_3

Silvia kini telah keluar dari tahanan, namun Galvin tetap menahan adiknya itu di rumah. Penjagaan cukup ketat, tak boleh menggunakan telepon dan dilarang bertemu dengan orang lain.


Hari ketujuh setelah kebebasan adiknya itu, Galvin sarapan bersama. Tak ada obrolan serius diantara mereka.


Saat Silvia mengunyah roti, perutnya terasa bergejolak ia bergegas ke wastafel dan membuang isinya.


Galvin mengerutkan keningnya melihatnya.


Silvia kembali duduk, ia meraih teh hangat dan meminumnya. Lagi-lagi perutnya berulah, ia pun bangkit dan lekas berlari memuntahkannya.


"Kamu sakit atau hamil?" tanya Galvin tanpa menatap.


Silvia hanya menundukkan kepalanya.


"Kakak sedang bertanya, apa kamu tidak bisa menjawabnya?" bertanya dengan sedikit nada tinggi.


"Aku tidak tahu, Kak."


"Dengan siapa kamu tidur?" tanya Galvin.


Silvia tetap diam.


"Apa telingamu itu tidak bisa mendengar?" sentaknya.


"Bukan urusan Kakak, aku mau tidur dengan siapa saja!" Silvia menjawab dengan suara tinggi.


"Silvia, kenapa kamu tidak bisa pernah berubah? Apa hukuman kemarin belum bisa membuatmu jera dan bersikap lebih baik?"


Silvia malah meninggalkan meja makan.


Galvin menghela nafas panjang, ia pun menghentikan sarapan paginya. Kemudian berdiri, memberikan pesan kepada anak buahnya. "Jangan sampai lengah mengawasi dia!"


"Baik, Tuan!"


Galvin pun bergegas ke kantor Arum karena urusan pekerjaan. Setelah selesai semua juga sudah berakhir. Ia berjanji kepada Robin untuk menjauhi adiknya.


Begitu masuk di ruang rapat yang berada di perusahaan milik Arum, mata Galvin tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi roda dengan wajah masih pucat.


Galvin duduk di depan wanita itu tanpa tersenyum, padahal dalam hatinya ia begitu senang bisa bertemu dengannya.


Rapat berlangsung selama 30 menit, beberapa orang yang hadir saling berjabat tangan begitu juga dengan Galvin dan Arum walaupun tanpa senyuman. Setelah itu Galvin dengan cepat meninggalkan ruangan.


Arum menatap punggung Galvin dengan nanar. Ada rindu yang tak bisa diungkapkan, kenapa rasanya sakit bila dicuekin. Padahal jelas-jelas dirinya sendiri yang mengatakan jangan terlalu banyak berharap lebih padahal sekarang dialah yang berharap besar.


"Ayo kita pulang, Nona!" ajak asisten pribadi Mama Carla.


Arum mengangguk mengiyakan.


Galvin memandangi gedung tinggi itu dari jendela mobilnya. Ia berharap Arum menampakkan wajahnya lagi agar bisa memandangnya. Dan benar saja, wanita itu muncul dengan seorang pria yang usianya ditaksir 40 tahun.


Galvin menarik sudut bibirnya.


"Tuan, apa kita bisa jalan sekarang?" tanya sopir sekaligus orang kepercayaannya.


"Sebentar lagi," jawab Galvin.


"Sepertinya saya akan naik gaji," celetuknya.


"Kenapa kau pula yang menentukannya?" Galvin mengarahkan pandangannya kepada anak buahnya itu.


"Tuan, sudah jatuh cinta padanya. Sesuai dengan perjanjian kita," jawabnya mengingatkan.


Galvin menghela nafas.


"Jadi naikkan, Tuan?"


"Ya, aku akan menaikkan gajimu sebanyak sepuluh persen," jawab Galvin.


"Sedikit sekali, Tuan," protesnya.


"Kau mau berapa?"


"Lima puluh persen."


"Terlalu besar, tiga puluh persen saja!"

__ADS_1


"Ya, tidak masalah. Kapan mulai naik, Tuan?"


"Bulan depan," jawab Galvin.


"Terima kasih, Tuan."


"Ya," ia lalu kembali mengarahkan wajahnya ke arah jendela namun Arum sudah menaiki mobilnya kemudian berlalu.


"Kau lihat, kan. Dia sudah pergi!" ucap Galvin kecewa.


"Maaf, Tuan. Apa perlu kita menyusulnya?"


"Tidak, kalau kita mengikutinya kakaknya akan menghajarku!"


Arum yang berada di dalam mobil terus bertanya dalam batinnya, "Kenapa dia belum pergi juga? Apa yang ditunggunya?"


-


-


-


Galvin baru saja tiba di rumahnya, seorang anak buahnya meneleponnya mengabarkan kalau Silvia pingsan dan kini Dokter sedang menanganinya.


Galvin bergegas ke rumah adiknya untuk memastikan kondisinya. Kebetulan begitu sampai sana, Dokter baru selesai memeriksanya.


"Bagaimana dengan kondisi Silvia, Dok?" tanya Galvin.


"Sepertinya Nona Silvia hamil."


Galvin mendelikkan matanya mendengarnya lalu ia menatap adiknya yang terbaring di ranjang.


"Untuk memastikan usia kandungan, Nona Silvia harus diperiksa Dokter Obgyn."


"Baiklah, Dok. Jika Silvia sudah siuman kami akan membawanya ke sana," ujar Galvin..


"Kalau begitu, saya permisi!" pamitnya.


"Terima kasih, Dok!" Galvin tersenyum.


-


"Kakak, kenapa di sini?" tanyanya dengan suara parau.


"Siapa pria itu?" Galvin balik bertanya tak menghiraukan pertanyaan adiknya.


"Aku tidak mengerti dengan pertanyaan, Kakak."


"Kamu mau aku mencarinya?" Galvin menawarkan diri.


"Kak..."


"Bersiaplah, kita akan ke rumah sakit. Dokter tadi mengatakan jika kamu hamil," jelas Galvin.


Silvia menutup mulutnya.


"Temui dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya atau aku yang akan menariknya ke sini!" titahnya.


Silvia bergegas bersiap-siap untuk pergi ke dokter dan Galvin menemaninya. Perjalanan ke rumah sakit tak ada obrolan serius. Wajah pria yang duduk di sampingnya tampak dingin.


Silvia tak berani menatap wajah Galvin, karena dia sudah melakukan banyak kesalahan dan membuat kakak angkatnya itu marah besar.


Silvia turun bersama seorang asisten rumah tangganya yang perempuan. Keduanya memasuki ruangan periksa khusus pasien dokter obgyn.


Galvin menunggu di dalam mobil sembari memainkan ponselnya.


"Tuan, sepertinya itu Nona Arum," tunjuk orang kepercayaannya bernama Leo ke arah wanita yang kursi rodanya di dorong seorang pria muda.


Galvin mengikuti arah telunjuk anak buahnya.


"Tuan, tidak ingin turun dan menyapanya?" tanya Leo.


"Tidak," jawabnya.


"Tuan, ingin menyerah?"

__ADS_1


"Aku menyerah bukan karena kalah, tapi ku melakukan ini semua demi kebaikan dirinya," jawab Galvin.


"Bagaimana jika sebenarnya Nona Arum memiliki perasaan kepada anda?"


"Kau jangan membuatku terlalu banyak berharap padanya."


Hampir 30 menit menunggu, akhirnya Silvia keluar dari pintu masuk rumah sakit bergegas ke mobil.


Arum melihat wanita itu berjalan cepat ke mobil Galvin dari kejauhan.


Mobil Galvin meninggalkan rumah sakit.


"Kenapa Silvia di sini? Siapa yang sakit?" batin Arum.


"Ayo kita pulang!" ajak Radit mendorong kursi roda.


"Apa kuncinya sudah ketemu?" tanyanya. Karena tadi Radit meminta izin kembali untuk mengambil kunci mobil yang ketinggalan di ruang periksa dirinya.


"Sudah," jawabnya


Sepanjang perjalanan, Arum lebih banyak melamun. Berbagai pertanyaan tentang kemunculan Silvia di rumah sakit.


"Arum!" panggil Radit lembut.


"Ya," menoleh lalu tersenyum sekedarnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya.


"Tidak ada."


"Kamu mau kita makan?"


"Tidak, aku makan di rumah saja. Hari ini sangat lelah sekali," jawab Arum.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang," ujar Radit tersenyum.


...----------------...


Dengan langkah terburu-buru Silvia pergi ke apartemen kekasih selingkuhannya ketika masih bersama Robin. Ya, pria itu memang sering bolak balik luar negeri.


Tiga bulan terakhir ini keduanya sangat dekat dan sering berduaan di apartemen milik pria itu.


Begitu pintu terbuka, Silvia mendorong tubuh pria itu dengan kasar. "Kau harus bertanggung jawab!"


Pria itu mengerutkan keningnya.


"Aku hamil!"


Pria itu tersenyum sinis.


"Kau tidak percaya?"


"Aku tidak mencintaimu, Silvia."


"Kau pikir aku cuma pemuas dirimu," menatap tajam.


"Kita sama-sama mau melakukan itu, kau mendekati aku karena mantan kekasihmu itu bangkrut."


"Ya, aku salah meninggalkan dia dan pergi bersamamu. Tapi sekarang kau harus bertanggung jawab, aku tidak pernah dengan lelaki lain selain kau!"


"Aku tidak mau!"


"Brengsek!" desisnya.


"Kau juga sama, Silvia. Sampai kapanpun aku tidak akan menikahimu!" pria itu berkata tegas.


"Kau akan tahu akibatnya jika bermain-main denganku!" Silvia mengeraskan rahangnya.


"Aku tidak takut, lagian ku akan menikah dengan wanita kaya raya. Dia lebih baik dari dirimu!"


"Kau pikir semudah itu lepas dariku!" menatap sinis.


"Sudahlah, Silvia. Lebih baik pergi dari sini, aku akan memberikan uang. Terserah kau mau berbuat apa dengan janin itu," ujarnya.


"Kau jahat, kau akan menyesal setelah melakukan ini kepadaku," Silvia menekankan kata-katanya kemudian berlalu.

__ADS_1


Pria itu hanya tersenyum sinis.


__ADS_2