
Arum pagi ini sengaja mendatangi kantor Galvin. Ya, dia ingin mengetahui kondisi pria itu. Begitu sampai ia bertanya pada sekretarisnya, "Apa Tuan Galvin ada di ruangannya?"
"Ada, Nona!"
"Bisakah saya bertemu dengannya?" Arum bertanya ramah.
"Baik, Nona. Saya akan tanyakan Tuan Galvin terlebih dahulu," jawabnya.
"Ya, saya akan menunggu di sini," Arum tersenyum.
Sekretaris pun masuk tak lupa mengetuk pintu, "Permisi!"
"Ya, silahkan!" ucap Galvin. "Ada apa?" lanjut bertanya.
"Nona Arum ingin bertemu dengan anda," jawabnya.
"Suruh dia masuk!" memberi perintah.
"Baik, Tuan." Sekretaris pun keluar ruangan, kembali menghampiri Arum dan menyampaikan pesan atasannya itu.
Galvin yang mendengar Arum datang, bergegas melihat cermin berukuran kecil yang ada di meja kerjanya, merapikan rambutnya dengan tangan, memperbaiki dasinya dan bersikap sesempurna mungkin.
Arum masuk dan menyapa pria itu, "Pagi!"
Galvin lantas berdiri dan tersenyum, "Pagi juga!"
"Bagaimana kabar anda?"
"Lumayan lebih baik," jawab Galvin.
"Syukurlah," Arum tersenyum lega.
"Ada apa kamu eh Nona Arum ke sini?"
"Saya ingin tahu keadaan anda saja," jawabnya.
"Seperti anda lihat saya baik-baik saja," Galvin kembali tersenyum.
"Saya senang mendengarnya," ujar Arum menampilkan senyum tipis.
"Nona Arum ke sini hanya untuk bertanya itu saja?"
"Ya, karena saya berhutang budi kepada anda."
"Saya akan melakukan hal yang sama, walau bukan diri Nona," ujar Galvin.
"Ya, saya tahu."
"Oh, ya. Silahkan duduk!" Galvin menarik kursi mempersilakan wanita itu.
"Tidak, Tuan. Saya harus kembali ke kantor!"
Galvin mendekati wanita itu, "Tunggu!"
"Ya, ada apa?" tanya Arum.
Galvin tampak salah tingkah.
"Tuan!" Arum menatap wajah pria yang ada dihadapannya itu.
"Bagaimana kalau kita mengobrol sambil minum kopi terlebih dahulu?" tawarnya.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini," jawab Arum.
"Bagaimana kalau nanti sore setelah pulang bekerja?"
Arum tampak berpikir sejenak lalu menjawab, "Baiklah."
Galvin tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi," pamitnya.
"Ya, hati-hati!" ucap Galvin.
Arum pun berlalu meninggalkan kantor Arman Grup.
-
-
Menjelang sore harinya, Galvin bersiap ke kafe tempat mereka berjanji sebelumnya ia juga sudah mengirimkan pesan kepada Arum.
Galvin memperhatikan dirinya, ia terus memegang dadanya yang terus berdebar. Seharusnya ia mampu menjaga sikap.
Galvin mengendarai mobilnya di jalanan ibukota yang mulai ramai pengendara. Sesekali ia melihat wajahnya di kaca spion.
Begitu sampai ia memesan kopi terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia menyesap minuman berwarna hitam itu setelah disajikan. "Ingat, Galvin. Tujuan awal dirimu!"
Tak lama kemudian Arum datang menepati janjinya.
"Terima kasih sudah datang," Galvin tersenyum senang.
Arum hanya membalasnya dengan senyuman.
Dari beberapa wanita yang pernah dekat dengan Galvin, hanya Arum yang pelit senyum dan berbicara serta sedikit sombong.
Arum menyesap teh pesanannya sambil melihat Galvin.
"Aku ingin mengenal keluargamu," pinta Galvin. Ia berbicara tidak formal karena tidak berada di dalam kantor.
Arum meletakkan cangkir tehnya di atas meja. "Mama tidak di negara ini," ucapnya.
"Keluarga yang lainnya?"
"Anda ingin bertemu dengan mereka untuk apa? Hubungan kita cuma sekedar rekan bisnis saja, jadi jangan terlalu berharap lebih," jawabnya.
"Memang kenapa kalau aku ingin berharap lebih?"
"Tidak, Arum. Aku mendekati kamu benar-benar ingin serius," ungkap Galvin.
"Saya curiga kalau anda yang meneror," tuding Arum.
"Kamu bicara apa, Arum?"
"Anda tiba-tiba datang menjalin kerja sama dengan perusahaan saya bersamaan dengan teror yang saat itu tengah kami hadapi," Arum menatap wajah Galvin. "Merayu dan mendekati saya padahal kita baru saja bertemu. Sikap dan perilaku yang anda tunjukkan itu menunjukkan kecurigaan," lanjutnya.
"Ternyata benar, Arum wanita yang cerdas!"
"Sebenarnya siapa orang yang ada dibalik anda?" tanya Arum.
Galvin menarik sudut bibirnya, "Apa setiap orang selalu kamu curigai?"
"Tidak semua, cuma saya harus berhati-hati."
"Arum, aku menyukaimu saat kita bertemu!" Galvin berkata untuk mengurangi kecurigaan wanita yang ada dihadapannya.
"Apa alasan anda menyukai saya?"
"Kamu cantik dan pintar."
"Selain itu?" Arum menatap tajam.
"Ya, tidak tahu. Aku tak bisa melukiskan rasa sukaku padamu, namun di dalam lubuk hatiku. Aku memang jatuh cinta padamu," jawab Galvin.
Arum menghela nafasnya, ia lalu meraih cangkir tehnya dan menyeruputnya. Kemudian meletakkannya kembali di atas meja.
"Apa aku perlu membuktikannya kepadamu, kalau aku memang serius dan menyukaimu?"
"Tidak perlu, obrolan kita cukup sampai di sini. Saya mau pulang," Arum meraih tasnya dan berdiri.
__ADS_1
Galvin bergegas berdiri juga. "Arum, aku minta maaf. Kalau tidak tepat waktu mengatakannya!"
Tak membalas ucapan pria itu, Arum memilih pergi.
Galvin menjatuhkan tubuhnya di kursi dan mencoba mengatur nafasnya. "Kenapa jadi aku yang bimbang?" tanyanya dalam hati.
...----------------...
Beberapa hari kemudian....
Arum dan Galvin kembali bertemu di proyek. Keduanya tampak lebih banyak diam ketika mendengar mandor menjelaskan tentang bangunan apartemen yang akan segera selesai dalam waktu beberapa bulan lagi.
Menjelang makan siang, Arum memilih pergi lebih dahulu dan Galvin tidak menyusulnya. Ia merubah taktiknya untuk mendekati wanita itu.
Siang ini makan siang dengan adik angkatnya di restoran tak jauh dari tempat proyek.
"Bagaimana? Apa Kakak sudah masuk ke kehidupannya?"
"Belum, sangat sulit."
"Kenapa sulit?"
"Karena membuat adiknya jatuh cinta tak mudah," jelasnya.
"Jadi, apa langkah Kakak selanjutnya?"
"Kakak ingin menikahinya," jawab Galvin.
"Apa!"
"Ya, cuma itu cara terakhir bisa menghancurkan mereka."
"Aku tidak setuju, bagaimana kalau Kakak jatuh cinta padanya?"
"Itu tidak mungkin," jawab Galvin.
"Aku tak setuju dengan cara Kakak itu," menolak usulan.
"Jadi, harus bagaimana?"
"Kakak culik dan rusak adiknya setelah itu tinggalkan!"
"Kakak tidak mau menyakitinya," tolak Galvin dengan cepat.
"Kenapa? Apa Kakak sudah jatuh cinta padanya?"
Galvin diam.
"Apa Kakak mulai menyukainya?" tanyanya.
Galvin masih diam, ia mengarahkan pandangannya ke lain arah.
"Pantas saja, tidak berani berbuat nekad. Kakak sudah jatuh cinta padanya," wanita tersenyum sinis.
"Ya, aku memang sudah jatuh cinta padanya," Galvin berucap dalam hati.
"Kalau tidak bisa menuruti permintaan aku, ku akan melakukannya dengan caraku sendiri!" wanita itu pun berdiri dan berlalu.
Galvin mengejar adik angkatnya. "Jangan berbuat yang bisa membahayakan dirimu!" larangnya.
"Kakak tenang saja, mereka yang sebenarnya dalam bahaya!"
"Jangan sakiti Arum!"
"Aku tidak akan menyakitinya tapi kakak iparnya karena sudah merebut Robin dariku!" wanita itu pun menaiki mobil dan berlalu.
Dari kejauhan Arum melihat dua orang yang dikenalnya, penasaran ia pun mendekatinya. Wanita itu telah pergi, kini tinggal Galvin di parkiran. "Siapa dia?"
Galvin bergegas menoleh dan terkejut jika Arum ada di belakangnya. "Apa dia sudah tahu?"
__ADS_1
"Siapa dia?" Arum bertanya sekali lagi dengan nada tinggi.
Galvin tampak gugup.