Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Mendekati


__ADS_3

Malam harinya, Marsha pulang dari kerja. Dengan wajah lesu ia memasuki rumah. Hari ini ia harus mengalami kejadian yang tidak diinginkannya. Pertama mendapatkan tamparan dari wanita yang tidak ia kenal dan kedua tatapan sinis dari beberapa pekerja wanita yang tokonya berdekatan dengan tempat ia bekerja.


"Marsha, sini!" panggil Papa Candra sambil tersenyum senang begitu juga wajah Mama Mira.


"Ada apa, Pa, Ma?"


"Hari ini 3 unit motor kita laku terjual," jawab Papa Candra berbinar.


"Benarkah?" Marsha juga ikutan senang.


"Pembelinya cuma satu orang, dia pemuda yang tampan. Katanya dia satu sekolah dengan kamu," jelas Mama Mira.


"Siapa namanya, Pa?" tanya Marsha penasaran.


"Siapa tadi namanya, Ma? Papa lupa, dia sama pengawalnya," tanya Papa Candra.


"Kalau tidak salah nama belakangnya Kartajaya," tebak Mama Mira.


"Tidak mungkin pria itu," batin Marsha.


"Apa kamu kenal dengannya?" tanya Mira.


"Tidak, Ma. Aku mau ke kamar," Marsha berdiri dan berlalu.


...----------------...


Pagi ini, Marsha meminta papanya untuk menemaninya mengantar kue. Entah kenapa jika bersama, dia tidak pernah mengalami sesuatu.


Dengan senang hati, Candra menemani putrinya mengantar pesanan kuenya dan seperti biasanya juga setelah melakukan aktivitas itu ia bergegas bekerja.


"Marsha, ada yang mencarimu!" Tampak wajah Weni begitu senang, menghampiri Marsha yang baru saja sampai di parkiran toko

__ADS_1


"Siapa?"


"Pria tampan," jawab Weni tersenyum.


"Bukan pria yang istrinya menampar ku, kan?"


"Bukan, cepat temui dia!" Weni menarik tangan sahabatnya itu.


Marsha berjalan dengan tangan yang terus dipegang Weni. "Mana orangnya?"


"Itu dia!" tunjuk Weni pada pria dengan kemeja berwarna biru tua yang sedang duduk memainkan ponselnya.


Marsha mendekati pria itu dan tersenyum. "Pagi!" sapanya.


"Pagi juga!" Pria itu menoleh dan membalas senyuman.


"Kau? Eh, maaf anda?" Marsha terbata.


"Baik, ada keperluan apa anda ingin bertemu dengan saya?"


"Saya ingin membeli ponsel," jawabnya memasang wajah semanis mungkin.


"Oh, begitu. Tapi kenapa harus menunggu saya? Kan, ada karyawan yang lain," ujar Marsha.


"Saya mau kamu yang melayani," pintanya.


"Baiklah, kalau begitu. Mari Tuan, biar saya tunjukkan ponsel yang anda inginkan," ajak Marsha ke arah etalase.


Pria itu mengikuti langkah Marsha lalu ia duduk di dekat etalase.


Marsha mengeluarkan berbagai jenis ponsel. Hampir setengah jam ia menjelaskan, akhirnya pria itu membeli 5 ponsel membuat Marsha tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"Oh, ya Tuan. Apa benar kemarin anda yang datang ke rumah saya membeli motor?"


"Iya."


"Dari mana anda tahu rumah saya?" Marsha penasaran.


"Ternyata anda tidak cukup pintar," jawabnya. "Tentunya dari iklan yang dipasang ayahmu di media sosial," lanjutnya.


"Oh, iya," Marsha kikuk. "Maaf, saya tidak tahu. Sekali lagi, terima kasih!" ia menundukkan kepalanya.


"Ya," Pria itu pun berlalu setelah seorang pengawal menghampirinya.


Weni mendekati temannya. "Sepertinya dia sangat mengenalmu," tebaknya.


"Dia kakak kelasku," jawab Marsha.


"Pantas saja," ujar Weni. "Sepertinya dia menyukaimu, dari dia menatap kau bicara," lanjutnya berkata.


"Kau jangan aneh, mana mungkin seorang kaya raya menyukai gadis penjaga toko seperti aku."


"Ya, bisa saja. Kalau cinta tidak akan memandang status sosial," tutur Weni.


"Jangan kebanyakkan mimpi, nanti susah bangun," Marsha tersenyum.


"Kalau begitu, traktir aku makan 'ya!" Weni memasang wajah manis.


"Iya, kau tenang saja!"


"Kalau tiap hari begini, kita banyak bonus dan tentunya aku tidak pernah capek mikirin uang kost," ungkap Weni.


"Semoga saja," harap Marsha.

__ADS_1


"Tapi, pria itu memang sangat tampan," puji Weni membuat Marsha geleng-geleng kepalanya.


__ADS_2