Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Kedatangan Mertua


__ADS_3

Nia terbangun lalu bangkit dari tidurnya, ia duduk di tepi ranjang dan melihat ke arah nakas. Ada dua potong roti dengan selai srikaya di satu piring, sebotol kecil vitamin, beberapa butir tablet di dalam bungkusan plastik, segelas jeruk, segelas susu segar dan sebotol air mineral.


Nia meraih botol air mineral dan meminumnya. Saat hendak berdiri, pintu kamar terbuka tampak Robin membawa sepiring potongan aneka buah.


"Akhirnya kau bangun juga," celetuk Robin.


"Untuk siapa semua ini?"


"Untukmu!"


"Aku? Tumben," sindir Nia.


"Kata Dokter kau hamil, jadi ku tak mau terjadi apa-apa dengan calon anakku," ujar Robin tanpa sadar.


"Anak?" Nia tertawa sinis.


"Ya, janin yang ada dikandunganmu adalah anakku."


"Bukankah kau tidak ingin anak ini?" Nia mengingatkan perkataan suaminya itu


Robin terdiam tak bisa berkata-kata, beberapa jam yang lalu ia mengatakan takkan mau mengakui dan membiayai hidup calon anaknya.


Nia berdiri memegang dinding kamar, badannya hampir saja terjatuh namun dengan sigap Robin membantunya. "Aku bisa sendiri!" ia berkata dengan nada dingin.


Robin melepaskan genggamannya.


Nia ke kamar mandi, sementara suaminya menunggu di depan pintu. Tak sampai 5 menit, ia pun keluar dan terkejut melihat pria yang menikahinya 6 minggu yang lalu berdiri dihadapannya. "Apa kau ingin ke kamar mandi?"


"Aku menunggumu dan memastikan kalau kau baik-baik saja," ujar Robin.


"Kenapa sekarang kau begitu perhatian padaku?"


"Aku melakukan demi janin di perutmu."


...****************...

__ADS_1


Sebulan kemudian....


Keluarga besar Robin datang berkunjung ke apartemen miliknya tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Ya, Mama Carla yang paling antusias mengunjungi putranya itu apalagi mendengarnya menikah. Akhirnya ia memiliki waktu untuk datang ke negara tempat kelahirannya.


Nia masih mengepel lantai dengan pakaian daster sementara suaminya duduk santai menikmati cemilan yang dibuatnya sembari memainkan ponselnya.


Suara bel berbunyi berulang kali, namun tak ada yang bergerak tuk membukanya.


"Apa kau tidak mendengarnya?" sindir Robin.


"Aku dengar dan sedang sibuk, bukankah kau tidak melakukan apa-apa?" Nia membalas menyindir.


"Aku sedang menjalankan pekerjaan kantor, tinggalkan saja pekerjaanmu itu."


Nia mendengus kesal, ia membanting gagang pel ke lantai hingga terdengar nyaring. Dengan wajah kesal ia berjalan ke arah pintu. Belum sampai, suaminya sudah menarik tubuhnya.


"Kau ini tadi tidak mau membukanya," gerutunya.


Nia terheran-heran dengan sikap suaminya yang berubah.


Robin membuka pintu lalu tersenyum. "Mama!" sapanya.


"Lama sekali buka pintunya!" omel Carla.


"Kakak, kami ingin bertemu dengan istrimu. Di mana dia?" tanya adik perempuan Robin.


"Hai, semua!" sapa Nia yang sudah berdiri di belakang suaminya.


"Nah, ini dia," Robin merangkul mesra istrinya.


"Ya ampun, menantuku ternyata cantik juga," puji Carla.


"Terima kasih, Ma." Nia menjawab sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kak, aku sangat haus," ujar Arum.


"Biar aku buatkan," Nia pun pergi ke dapur.


Mama dan adik Robin duduk di ruang tamu sambil bercerita sambil menunggu menantunya membuatkan minuman.


Tak lama kemudian, Nia membawa 4 gelas minuman. Ia pun menyajikannya kepada keluarga suaminya. Baru beberapa detik duduk, tiba-tiba perutnya bergejolak. Dengan cepat, Nia menutup mulutnya hendak muntah.


Sikap Nia membuat mertua dan adik iparnya mengalihkan pandangannya kepadanya begitu juga dengan suaminya.


Nia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


"Apa dia sedang hamil?" tanya Carla.


Robin mengangguk pelan mengiyakan.


"Wah, akhirnya aku punya keponakan," ujar Arum kegirangan.


"Kalian harus pindah segera ke rumah peninggalan Papa," ucap Carla.


"Kenapa harus di sana, Ma?" tanya Robin.


"Di sana rumahnya luas dan ada beberapa pelayan, Mama ingin Nia tidak terlalu kelelahan selama masa kehamilan," jawab Carla.


"Robin mau di sini saja, Ma." Tolaknya.


"Kau jangan egois, Robin. Mama ingin kebutuhan makanan dan kesehatan menantuku terjaga. Di sini, dia melakukannya sendiri," ujar Carla.


"Siapa bilang, Ma?" tanya Robin.


"Itu ada pel," Carla menunjuk lantai. "Dan istrimu menggunakan daster, artinya kau yang sudah menyuruh dia membersihkan ini semua. Apa kau tidak kasihan dengannya yang sedang hamil?" omelnya.


"Ma, dia yang memintanya," Robin berbohong.


"Usia kandungan istrimu sepertinya sangat muda, Mama tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon cucuku," ungkap Carla.

__ADS_1


"Baiklah, Ma. Kami akan pindah ke sana," Robin akhirnya pasrah dan mengalah.


__ADS_2