Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Bertemu Mantan Kekasih


__ADS_3

Marsha berjalan mengelilingi komplek rumahnya dengan menggandeng tangan putri kecilnya yang kini berusia 11 bulan.


Marsha ditemani asisten rumah tangganya menikmati udara pagi, ia sengaja membawa putrinya untuk melatihnya berjalan.


Kira-kira ada jarak beberapa meter dari kediaman suaminya, Marsha dihampiri seorang pria.


"Apa kabar, Sha?" pria itu tersenyum.


"Radit!" Marsha sedikit gugup dan terkejut.


"Anak perempuan ini siapa?" tanya Radit.


Marsha lantas menggendong putrinya.


"Jangan katakan kalau ini putrimu," ujar Radit.


"Dia memang putriku," ucap Marsha ketus, ia lalu menyerahkan putrinya pada asistennya. "Tolong, bawa dia pulang!" perintahnya.


"Baik, Nona." asisten rumah tangga pulang menggendong balita itu.


"Dia memang putriku," jawab Marsha ketus.


"Kenapa kau meninggalkanku dengan menikahi pria lain?"


"Apa? Kau bilang aku meninggalkanmu, ke mana saja enam tahun ini?" Marsha balik bertanya.


"Sha, aku ke luar negeri untuk bekerja. Ku ingin melamarmu tapi saat mendatangi kediaman keluargamu kalian sudah pindah."


Marsha menarik ujung bibirnya. "Kau meninggalkanku disaat perusahaan Papaku hancur. Dengan alasan bekerja kau mengatakan padaku, tapi tidak ada satu kabar pun darimu!"


"Waktu itu aku sangat sibuk, Sha." Radit memberikan alasan.


"Sudahlah, Dit. Hubungan kita juga telah berakhir beberapa tahun yang lalu. Ku sekarang bahagia bersama keluarga kecilku. Jangan rusak kebahagiaan aku," Marsha pun pergi.


"Sha, tunggu!" panggilnya.


Marsha berhenti dan menoleh.


"Siapa pria yang telah menikahimu?" tanya Radit.


"Aku!" jawab Bara.


Keduanya pun menoleh.


"Mas!" ucap Marsha.


"Jangan ganggu istriku!" Bara menatap tajam pria yang berada di samping Marsha.


"Bara Hermawan Kartajaya," Radit tersenyum sinis.


"Kau mengenalku?" Bara mengerutkan keningnya.


"Kita saling bekerja sama tapi kau tidak pernah tahu rekan bisnismu sendiri," jawab Radit.


"Perusahaan yang bekerja sama dengan aku bukan dirimu saja, jadi jangan salahkan ku tak mengenalmu," ucap Bara menyunggingkan senyumnya.


"Ya, Karta Grup perusahaan besar. Tapi seleranya wanita miskin yang tak memiliki kerajaan bisnis," Radit melirik Marsha.


Bara lantas menarik kerah baju Radit.


"Mas, cukup!" Marsha berusaha pelan sambil melihat sekelilingnya.


"Jangan pernah hina istriku!" Bara menekankan kata-katanya.


"Istrimu adalah mantan kekasih ku. Ternyata kau mendapatkan bekas dariku!" ujar Radit.


Bara mengeraskan rahangnya.


Dengan cepat Marsha menarik tubuh suaminya dan sedikit menjauh. "Jangan terpancing, Mas!" ucapnya berkata pelan.


Bara lantas memegang tangan istrinya, lalu meninggalkan Radit. Begitu sampai, Bara menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Mas!" Marsha duduk di sebelah suaminya.


"Jika dia berani mendekati dan menggodamu. Beri tahu aku!" Bara memijit pelipisnya.

__ADS_1


"Ya, Mas. Aku bisa menghadapinya sendiri," ujar Marsha.


"Ku pikir mantan kekasihmu itu cuma Rio saja, ternyata ada pria aneh lainnya," tutur Bara.


"Jadi menurut Mas, aku juga aneh makanya mantan kekasihku juga sama?" mengerucutkan bibirnya.


"Tidak, mereka aja yang aneh." Bara berusaha tersenyum.


"Aku juga heran, kenapa dia bisa muncul di hadapanku."


"Mungkin dia memang mencarimu," ujar Bara.


"Walaupun aku tidak menikah denganmu, ku takkan mau kembali padanya."


"Kenapa?"


"Ya, tidak mau saja."


"Tidak mau, pasti ada alasannya," ujar Bara.


"Mas, ingin mencari ribut denganku?" Marsha menatap suaminya.


"Tidak, kalau kita bertengkar. Aku juga yang rugi," jawabnya.


"Rugi apa?"


"Tak ada melayani aku di tempat tidur, tidak ada yang menyiapkan sarapan, menyediakan pakaian kerja, pasti ku akan sedih bila menjauh darimu," Bara memeluk istrinya.


"Ya, aku percaya Mas mencintaiku!" Marsha hendak mengecup bibir suaminya. Namun, suara mungil putrinya memanggil membuat keduanya menoleh lalu tertawa.


"Anak Papa, sini!"


-


-


Siang ini, Nia janjian dengan suaminya makan bersama di restoran. Jika Robin tidak sibuk pria itu akan menyempatkan waktunya.


Nia lebih dahulu tiba di restoran tempat dijanjikan suaminya. Ia memesan jus sembari menunggu. Seorang pria menghampirinya dan tanpa permisi duduk dihadapannya.


"Mas Alpa?" Nia sedikit terkejut dengan kehadiran pria yang begitu ia cintai sebelum menikah.


"Sudah lama kita tidak bertemu, apa kabar?"


"Aku baik, Mas." Nia tersenyum.


"Kamu sudah menikah?"


"Sudah, Mas."


"Harusnya aku yang melamarmu," Alpa sedikit menundukkan kepalanya.


"Tidak, Mas. Aku yang egois meninggalkanmu," ujar Nia.


"Apa kamu bahagia dengannya?"


"Ya, Mas. Ku doakan semoga menemukan wanita yang baik dan sayang pada Mas Alpa," harap Nia sembari tersenyum.


"Terima kasih, Nia. Pasti suamimu bahagia memilikimu," ujar Alpa.


"Andai Mas tahu, awal aku menikah seperti neraka. Suamiku sangat kejam," batin Nia.


"Kamu di sini menunggu siapa?" tanya Alpa.


"Suamiku, aku akan mengenalkan Mas padanya," jawab Nia.


Tak lama kemudian Robin datang, "Hai sayang!" menghampiri dan duduk di sebelah Nia.


"Tuan Robin!" Alpa berdiri sedikit menunduk memberi hormat.


"Mas Alpa kenal dengan suamiku?" Nia tampak heran.


"Tuan Robin atasan ku di kantor," jawabnya.


"Dia siapa? Kenapa kamu mengenalnya?" tanya Robin pada istrinya.

__ADS_1


"Dia mantan kekasihku, Mas." Nia menjawab tanpa ragu.


Robin langsung menatap tajam bawahannya itu.


"Hanya masa lalu, Tuan!" Alpa berkata dengan terbata.


"Benar, Mas. Kami tidak jadi menikah karena Papa belum mengizinkan maklum aku masih terlalu muda," jelas Nia percaya diri.


"Kenapa harus dijelaskan, Nia? Bisa-bisa suamimu ini akan memecatku," batin Alpa.


"Begitu, ya!" Robin menatap istrinya namun sekilas melirik karyawannya itu.


"Kalau begitu, saya duluan," Alpa berpamitan.


"Ya, pergilah!" Robin memaksakan tersenyum.


Alpa bergegas pergi.


"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?" tanya Robin.


"Ada sekitar tujuh bulan."


"Apa kamu sangat mencintainya?"


"Ya, itu dulu. Dia pria dewasa, lembut, perhatian dan pasti sayang padaku."


"Apa aku tidak seperti dia?" tanya Robin.


Nia menggelengkan kepalanya.


"Jadi, aku tidak baik?" Robin bertanya lagi.


"Mas Robin lebih dari itu!" Nia memeluk suaminya.


"Jika kamu berani memuji dirinya, ku tak segan memecat dia," ancam Robin.


"Iya, aku janji!" Nia tersenyum.


-


-


Bara keluar dari kantor tepat pukul 4 sore. Istrinya memintanya untuk membelikan diapers putri kecilnya di minimarket.


Bara berhenti di minimarket tak jauh dari kantornya. Ia lalu turun dan mencari merk yang biasa di pakai anaknya.


Tak cukup lama akhirnya barang yang dicari ia dapatkan. Ia lantas mengantri di kasir untuk transaksi pembayaran. Seorang wanita dibarisan depan sangat lambat. Beberapa pengunjung tampak menggerutu.


Bara akhirnya mendekati barisan paling depan, "Kenapa lama sekali?" protesnya.


"Maaf, Tuan!" ucap kasir.


"Anda bisa sabar, tidak?" wanita itu mendelikkan matanya melihat Bara, begitu sebaliknya.


Bara lantas bertanya padanya, "Apa yang terjadi?"


"ATM ku terblokir dan aku juga tidak memiliki uang di dompet," jawab Miranda.


"Berapa total belanjaan dia?" tanya Bara pada kasir dan karyawan itu menyebutnya. "Biar saya saja yang bayar," Bara menyodorkan kartu debitnya.


Setelah melakukan transaksi, Miranda keluar dari minimarket. Tak sampai 10 menit, akhirnya giliran Bara membayar belanjaannya.


Bara keluar dengan membawa dua kantong plastik besar lalu ia letakkan di bagasi mobilnya.


"Bara, aku tak menyangka kita bertemu di sini," ujar Miranda.


"Kau mau kita bertemu di mana?" Menatap tajam dengan senyuman sinis.


"Bukan begitu maksudnya, kita sudah lama tak bertemu." Jelas Miranda.


"Aku harus pulang, istri dan anakku sedang menungguku," pamit Bara.


Miranda tersenyum kaku, "Terima kasih sudah membayar tagihan belanjaku."


"Memang dari dulu, aku yang selalu membayar semua belanjaanmu," celetuk Bara. Lalu ia bergegas masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Miranda masih berdiri sampai kendaraan roda empat itu menghilang dari pandangannya.


__ADS_2