
Begitu sampai di kediaman orang tua Rio, Weni tak bergerak malah tampak gugup.
"Ayo, turun!" ujar Rio lembut.
"Kenapa kau mengajakku kemari?"
"Aku pengen mengenalkanmu kepada mereka."
"Kita tidak memiliki hubungan apa-apa, untuk apa harus pakai memperkenalkan segala."
"Kau tidak memiliki hubungan dengan orang lain begitu juga aku."
"Kau belum bertanya padaku, apa ku bisa menerima ini semua atau tidak."
Rio tak membalas ucapan Weni ia bergegas turun lalu membukakan pintu wanita itu.
"Apa kita bisa balik pulang?" tanya Weni.
Tak menjawab Rio menarik tangan Weni dan menggenggamnya.
Orang tua Rio berdiri dari kursi melihat kedatangan putranya dengan seorang wanita.
"Ma, Pa, ini wanita yang ku katakan pada kalian," ucap Rio.
"Cantik!" puji Mama Rio.
Weni tersenyum gugup.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Papa Rio.
Weni terkejut ia lalu menatap Rio.
"Secepatnya, Pa." Rio menjawab tegas.
"Ayo, kita makan!" ajak Mama Rio.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Papa Rio pada Weni.
"Dijalan Mawar, Paman."
__ADS_1
"Orang tua bekerja apa?" tanya Mama Rio.
"Ayah seorang guru sekarang sudah tidak mengajar lagi," jawab Weni.
"Pantas saja, darah ayahnya menurun padanya," batin Rio.
"Ibu hanya penjual sarapan pagi," lanjutnya Weni menjawab.
"Oh," Mama Rio tersenyum.
"Kapan kami bisa melamar kamu?" Tanya Papa Rio.
"Aku harus jawab apa?" batin Weni bertanya.
"Aku belum bicara pada kedua orang tuanya, Pa. Nanti kami akan kabari," jelas Rio.
"Jangan lama-lama, nanti Weni diambil orang," celetuk Mama Rio.
"Mama tenang saja," Rio tersenyum melirik Weni.
-
Begitu di dalam mobil, Weni segera bertanya. "Apa maksud semua ini?"
"Apa kau sudah gila? Tanpa bertanya padaku mau melamarku saja, memangnya aku akan menerimamu," omelnya.
Rio tak menanggapi ocehan Weni, ia memasangkan sabuk pengaman pada tubuh wanita itu.
"Rio, aku bertanya padamu. Bisakah kau menjawab semua pertanyaanku?"
"Kau hanya perlu diam dan tak perlu bertanya. Aku dan kedua orang tuaku akan datang melamarmu," ujar Rio.
"Aku tidak mau menikah denganmu."
Sambil menyetir sekilas menatap wanita disampingnya, "Memangnya kau akan menikah dengan siapa?"
"Ya, tidak tahu. Tapi memang belum bertemu saja dengan orang yang tepat."
"Kau saja belum tahu, sudah sama yang pasti saja," ujar Rio.
__ADS_1
"Apa kau kehabisan wanita sampai harus memilih aku?"
Pertanyaan itu membuat Rio menghentikan laju kendaraannya secara mendadak.
"Mereka bahkan menginginkan menikah dengan ku," ucap Rio bangga.
"Kenapa tidak dengan mereka?"
"Karena aku memilihmu."
Weni terdiam.
Rio kembali mengemudi.
Begitu sampai rumah, Weni bergegas masuk ke kamarnya. Sementara Rio masih mengobrol dengan ayahnya.
...----------------...
Keesokan harinya, ia bertemu dengan Marsha untuk mencurahkan segala isi hatinya. Beruntung sahabatnya itu belum melahirkan.
"Dia memang sangat aneh, Sha."
"Aneh? Bagaimana?" mengerutkan keningnya.
"Kemarin malam dia pertama kali mengajakku kencan ke rumah orang tuanya."
"Itu artinya dia serius padamu."
"Tapi aku belum siap, Sha. Dia sudah mau melamarku saja," ocehnya.
"Ya, kau terima saja. Kalian berdua tidak terikat dengan siapapun," ujar Marsha.
"Tapi, aku belum terlalu mengenalnya. Apa lagi dia sudah bicara pada kedua orang tuaku."
"Apa kau mencintainya?" tanya Marsha.
Weni seketika terdiam.
"Jika kau memang mencintainya, terima saja lamarannya," ujar Marsha.
__ADS_1
"Aku takut, Sha. Dia akan mengkhianati pernikahan kami," ungkap Weni.
"Banyak berdoa semoga dia tidak seperti itu," Marsha memberikan saran kepada sahabatnya.