
"Siapa dia?" Arum bertanya untuk ketiga kalinya.
"Arum, kamu di sini? Kenapa kita tadi tidak makan siang bersama?" Galvin tampak terbata.
"Apa hubungan anda dengan wanita itu?" tanya Arum.
"Kami hanya teman," jawab Galvin berbohong.
"Saya benci seorang pembohong!" Arum menekankan kata-katanya.
"Arum, aku tidak berbohong," ujar Galvin.
"Apa tujuan anda mendekati saya? Apa wanita itu yang menyuruhnya?"
"Tidak, Arum."
"Silvia mantan kekasih Kak Robin, dia meninggalkan Kakakku ketika jatuh namun dirinya kembali lagi setelah Kak Robin menikah," ungkap Arum.
"Aku tidak tahu kalau dia pernah memiliki hubungan spesial dengan Robin," Galvin lagi-lagi berbohong.
"Lalu, kenapa anda sampai mengejarnya dan saya lihat kalian berdebat?" Arum menatap tajam.
"Hanya masalah kecil saja," Galvin menjawab dengan tersenyum.
"Baiklah, saya percaya pada anda. Tapi, jika berbohong anda akan tahu akibatnya," Arum pun pergi.
Mobil Arum mulai menjauh, Galvin bisa bernafas lega.
-
Begitu sampai kantor, Arum menjatuhkan tubuhnya di kursi. Di kepalanya terbayang wajah Galvin dan Silvia. "Ada hubungan apa mereka berdua?"
Arum lantas menghubungi seseorang, "Aku mau kau mencari tahu siapa saja keluarga dan orang terdekat Silvia Rosa!"
"Baik, Nona!" ucap seorang pria dari ujung telepon.
Arum lalu menutup ponselnya. Ia kemudian meraih tasnya dan kunci mobil, ia bergegas menemui Robin di kantornya.
Begitu sampai, Robin lantas bertanya, "Ada apa?"
"Apa Kakak tahu siapa saja keluarga Silvia?"
"Kakak hanya tahu kedua orang tuanya namun mereka sudah meninggal," jawab Robin.
"Saudara laki-lakinya?"
"Dia tidak punya saudara kandung," jawab Robin lagi.
"Silvia anak tunggal?"
"Ya."
"Orang terdekatnya?"
"Kakak tidak terlalu mengenal, karena dia tak pernah memberitahunya," jelas Robin. "Kenapa kau bertanya tentangnya?" lanjutnya bertanya.
"Aku melihat dia bersama Galvin, mereka seperti terlibat cekcok kecil di parkiran restoran."
"Galvin Armani?"
"Ya, katanya mereka hanya sekedar teman. Apa Kakak yakin?"
__ADS_1
"Kakak yakin saja, kamu bertanya tidak sedang cemburu, kan?" Robin balik bertanya.
"Kakak, aku tidak lagi cemburu. Cuma ku curiga pada mereka berdua," jawab Arum.
"Curiga kalau mereka merencanakan sesuatu?"
"Ku menduga kalau dalang teror selama ini dari mereka," jawab Arum lagi.
"Kakak akan menyuruh seseorang untuk mengawasi gerak-gerik Silvia," ujar Robin.
"Kakak terlambat, aku sudah menghubungi mereka. Kak Robin kalah cepat denganku!"
Robin tersenyum, "Ternyata keberanian dalam pengintaian suatu masalah turun padamu!"
"Ya, Kak Robin selalu kalah dengan perempuan. Sampai Mama dan aku harus turun tangan," ujar Arum bangga.
"Ya, tak sia-sia aku memiliki adik sepertimu!" Robin tersenyum.
-
Sore harinya, orang suruhan Arum memberikan laporan. Bahwa apa yang dijelaskan oleh Robin sama dengan apa yang dikatakan anak buahnya itu.
"Apa dia tidak memiliki keluarga atau saudara terdekat?"
"Tidak ada, Nona. Tetangga mengatakan kalau rumah itu tak pernah kelihatan ramai. Namun, mereka mengatakan kalau kedua orang tua Nona Silvia pernah mengadopsi seorang bayi laki-laki."
"Siapa namanya?"
"Alvin."
"Usianya?"
"Jadi, di mana anak laki-laki itu?"
"Masih kata tetangga, kalau Alvin di kembalikan pada orang tua kandungnya di usia empat tahun."
"Jadi, kalian tidak tahu orang tua kandung dari bayi itu?"
"Tidak, Nona."
Arum berpikir sejenak setelah itu menyuruh anak buahnya itu keluar dari ruangannya. "Apa Galvin dan Alvin adalah orang yang sama? Tapi kata dia kalau mereka hanya teman," gumamnya.
...----------------...
Marsha, putri kecilnya, Nia dan Arum akan menikmati waktu bersama di kolam renang. Ya, mereka berangkat pukul 9 pagi menggunakan mobil pribadi milik Robin. Keempatnya duduk di kursi penumpang.
Ditengah perjalanan sopir mengatakan kalau ada mobil yang mengikutinya. Hal itu membuat Marsha dan Nia khawatir.
"Kakak ipar kalian tenang saja," Arum menenangkan dua wanita itu.
Marsha lalu mengirimkan pesan kepada suaminya.
Mobil itu menghalangi jalan dan membuat sopir terpaksa berhenti. Silvia turun menghampiri kendaraan yang ditumpangi 3 wanita itu.
"Kenapa kau menghalangi mobil kami?" Nia bertanya dengan lantang ketika keluar dari mobil.
"Aku ingin bertemu denganmu," Silvia tersenyum menyeringai.
Di lain tempat, Galvin yang sedang menikmati waktu istirahat di hari libur kerja mendapatkan kabar dari anak buahnya kalau Silvia pergi mengikuti mobil kakak iparnya Arum. Ia tak ingin adik angkatnya itu berbuat nekad segera menyusulnya.
"Beri tahu di mana Silvia sekarang berada?" tanya Galvin melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Anak buah Galvin menyebutkan nama jalan, ia pun bergegas meluncur ke sana.
Sementara itu, Silvia dan Nia saling beradu mulut. Arum turun membantu kakak iparnya tentunya membelanya. "Mau apa lagi kau datang di kehidupan kami?"
"Tentunya merebut kembali kakakmu, adik ipar!" Silvia tersenyum manis.
"Kakakku sudah bahagia, jangan mengusik kehidupan kami. Pergilah dan cari kebahagiaanmu sendiri," usir Arum.
"Tidak, aku takkan pergi dari kehidupan kalian sebelum mengembalikan Robin padaku," ucap Silvia.
"Aku tidak akan rela bila Kak Robin bersamamu wanita licik!" Arum menekankan kata-katanya.
"Wanita ini yang telah merebut dariku!" Silvia menunjuk ke arah Nia.
"Aku tidak merebut Robin tapi dia yang memilih ku. Jika kau menginginkan suamiku, kembalikan anakku!" Nia berkata tegas.
Silvia tersenyum menakutkan, ia mengambil pisau dari tasnya lalu mengacungkan pada Nia. "Kau akan menyusul anakmu!" ia mengarahkan ke arah tubuh lawannya.
Arum dengan cepat menghalangi tubuh Nia hingga ia akhirnya yang harus mendapatkan tusukan di bagian perut.
Arum berusaha tetap berdiri dan menjerit kesakitan di susul dengan teriakan Nia yang kuat.
Silvia menjatuhkan pisaunya memundurkan langkahnya gontai, wajahnya mendadak pucat melihat benda tajam itu berlumuran darah.
Begitu keluar dari mobil, Galvin berlari dan berteriak memanggil, "Arum!"
Silvia mendengar suara Galvin menjadi ketakutan apalagi dua orang pria telah memegang kedua tangannya.
Marsha menggendong bayinya turun begitu juga dengan sopirnya, semua tampak panik.
Galvin memeluk tubuh Arum yang memegang lukanya tampak air mata wanita itu mengalir.
Galvin dengan cepat mengangkat tubuh Arum ke dalam mobil dibantu beberapa orang pria, "Bertahanlah!"
Nia dan Marsha menyusul Arum ke rumah sakit terdekat.
Galvin membuka kemejanya dan ia letakkan di perut Arum agar darah tidak banyak keluar. Wajah wanita yang ia sukai itu tampak pucat dan matanya hampir tertutup. "Arum, tolong bertahan. Kamu wanita kuat, ku mencintaimu!" ia memeluk wajahnya dan mengecup kening Arum dengan sudut mata berair.
Arum memejamkan matanya.
"Arum!" teriaknya memanggil. "Jangan tinggalkan aku!" ucapnya.
Begitu tiba di rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian, Galvin membantu tim medis merebahkan diri Arum di brankar.
Dokter dan timnya mulai melakukan tindakan, Nia dan Marsha terus menangis. Galvin mondar-mandir di ruangan Instalasi Gawat Darurat.
Bara dan Robin berlari dari arah parkiran menghampiri para istrinya. Mereka saling berpelukan dan menangis.
"Bagaimana kondisi Arum?" Robin tampak paling khawatir.
"Dokter belum keluar dari ruangan, Mas." Jawab Nia.
"Aku tidak akan pernah memaafkannya!" geram Robin.
Galvin terus memandangi ruangan itu, hatinya harap-harap cemas. Salah satu perawat keluar dari ruangan dengan berjalan tergesa-gesa. Membuat keluarga menjadi panik.
"Suster, bagaimana dengan adik saya?" tanya Robin menghampiri perawat yang membawa kantong darah.
"Dokter yang akan menjelaskannya!" perawat bergegas masuk kembali dengan cepat menutup pintu.
Galvin terduduk lemah di kursi tunggu pengunjung, ia menundukkan kepalanya sesekali menghapus air matanya yang menetes. "Maafin aku, Rum!"
__ADS_1