
Galvin mengerjapkan matanya dan memegang kepalanya yang sedikit pusing, jemarinya menyentuh rambut seseorang. Galvin melihat sebelah kanannya, tampak Arum sedang tertidur dengan kepala di atas tangan yang dilipat, ia menarik sudut bibirnya.
"Nona!" Galvin memanggil dengan suara pelan.
Arum belum terbangun juga.
"Nona Arum!" panggilnya dengan menyentuh kepala wanita itu.
Arum tersentak dan bangun.
Galvin melihat jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi. "Apa aku tidur sudah terlalu lama? Sampai Nona ketiduran di sini."
"Anda lihat sendiri saja, ku sampai harus tidur di sini. Kalau tak pandai bela diri, tidak perlu menjadi pahlawan untukku!"
"Aku hanya ingin melindungi dan menjagamu," jelas Galvin.
"Tapi, anda sudah membuat saya khawatir," ujar Arum.
"Nona mengkhawatirkan aku? Kenapa ku senang mendengarnya?" Galvin tersenyum.
"Kenapa saya khawatir? Karena anda mencoba mempertaruhkan nyawa demi menolong saya. Bagaimana jika keluarga anda bertanya? Saya harus jawab apa," ungkapnya.
"Melihat Nona baik-baik saja, sudah membuat aku bahagia."
"Sudah terbaring lemah di sini, masih saja menggoda," celetuk Arum.
"Apa di luar tadi hujan?" tanya Galvin.
"Tidak."
"Kenapa ranjang ini basah?" tanya Galvin.
Arum melihat ranjang tempat ia membenamkan wajah tampak basah.
"Apa semalaman anda menangis?" Galvin bertanya lagi.
Arum dengan cepat menghapus sudut matanya yang masih berair.
"Aku pikir anda tidak bisa menangis, ternyata lemah juga," sindir Galvin.
"Saya menangis karena tidak bisa menghubungi keluargamu. Karena ponsel milik anda memakai kode dan tak ada indentitas satu pun yang saya ketahui," jelas Arum.
"Jika kau tahu semuanya, bisa terbongkar rahasiaku," Galvin dalam hati.
Seorang perawat wanita masuk tak lupa mengetuk pintu, ia memberikan satu mangkok bubur dan beberapa obat-obatan. Sebelumnya juga ia bertanya tentang kondisi pasien, apa sudah mulai membaik atau belum.
Ketika perawat keluar, Galvin berkata, "Aku tidak bisa makan sendiri karena tanganku begini." Menunjukkan tangan kanannya yang terpasang selang infus.
Arum tahu dengan ucapan Galvin, ia lalu mengambil mangkok bubur dan menyuapkan ke mulutnya.
Galvin tersenyum ketika Arum dengan lembut dan sabar menyuapkannya. "Apa aku harus sakit dulu untuk mendapatkan perhatian seperti ini?"
"Saya juga terpaksa!"
"Awalnya terpaksa, kelamaan kau juga akan ikhlas," ujar Galvin.
Arum tersenyum tipis, "Apa anda tidak menghubungi keluarga?"
"Mereka tidak di sini," jawabnya berbohong.
"Satu orang pun?"
"Ya."
"Jadi anda sendirian di kota ini?"
__ADS_1
"Ya."
Arum tersenyum tipis.
"Apa kau mau menemaniku di sini, sampai aku sehat?" tanya Galvin.
Arum kembali tersenyum tanda mengiyakan.
"Terima kasih," Galvin tersenyum. "Aku ingin menikmati matahari pagi, apa kau mau membantuku turun dari sini!" matanya menunjuk ranjang.
"Aku akan meminta kursi roda kepada perawat," ujarnya. Setelah kembali Arum pun membantu pria itu turun, hingga jaraknya keduanya sangat dekat.
"Cantik sekali!" puji Galvin tersenyum.
Arum melepaskan genggamannya membuat pria itu terhuyung hampir jatuh.
"Kenapa kau melepaskanku?"
"Saya tak suka jika anda selalu mengucapkan kata rayuan," jawab Arum ketus.
"Ya, maaf. Ayo bantu aku keliling taman rumah sakit," pinta Galvin
Arum dengan terpaksa mendorong kursi roda. "Empat pria yang menyerang kita tadi malam sudah ditangkap," ungkapnya.
"Baguslah, tapi aku bersyukur dengan kejadian semalam," ujar Galvin.
"Kenapa?"
"Karena kejadian itu, aku jadi lebih dekat denganmu."
"Sudah berapa banyak wanita yang anda rayu?"
"Cuma dirimu!" jawab Galvin.
Galvin mendengarnya hanya mengulum senyum.
"Kata Dokter nanti sore anda sudah boleh pulang," Arum memberi tahu. "Apa anda ingin saya jemput dan di antar pulang?" tawarnya.
"Tidak, biar sopirku saja yang menjemputnya."
"Yakin? Kalau tidak ingin dijemput saya."
"Ya, terima kasih sudah menemaniku selama di sini."
"Ya, sama-sama."
...----------------...
Keesokan paginya, Galvin belum bisa ke kantor ia harus banyak beristirahat di rumah. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang kamar tamu, sesekali ia membalas pesan dari wanita yang menjadi target balas dendamnya.
Galvin menjalankan pekerjaannya dari rumah. Beberapa karyawannya datang silih berganti untuk meminta tanda tangannya.
"Perjuangan anda memang tidak main-main, Tuan." Ledek salah satu anak buahnya.
"Maksudmu apa?" tanya Galvin.
"Anda rela dipukul sampai harus dirawat di rumah sakit karena menolong wanita itu."
"Aku lagi berusaha untuk merebut hatinya, biar bisa membalaskan semuanya.
"Apa anda tidak takut kalau benar-benar jatuh cinta padanya? Secara Nona Arum sangat cantik dan baik hati," ujar anak buah kepercayaannya.
"Kau menantangku? Mana mungkin aku jatuh cinta pada musuh," ujar Galvin.
"Kita lihat saja, apa Tuan bisa memegang ucapannya atau tidak?"
__ADS_1
"Ya, kau lihat saja. Jika aku mampu tidak jatuh cinta padanya, gajimu aku potong!" ancam Galvin.
"Bagaimana kalau Tuan jatuh cinta?"
"Gajimu aku naikkan," jawab Galvin dengan cepat.
"Saya berharap semoga Tuan jatuh cinta!" Pria itu mengulum senyum.
-
Seorang wanita muda berusia sebaya dengan Arum, terburu-buru memasuki rumah Galvin.
"Aku mencari Kakak ke kantor ternyata lagi di rumah," ujarnya.
"Ada apa kau mencari Kakak?"
"Aku minta uang, ku ingin belanja."
"Kau hanya tahu meminta uang saja, apa kau tidak lihat Kakakmu ini lagi terbaring," ujar Galvin.
"Kakak sakit apa?" tanyanya.
"Tuan Galvin menolong seorang wanita."
"Aku tidak memintamu bicara!" Galvin menatap tajam anak buahnya.
"Memangnya siapa dia, Kak?" tanyanya penasaran.
"Kau tidak boleh tahu."
"Baiklah, kalau kakak tidak mau memberitahunya. Sekarang berikan aku uang," wanita itu membuka telapak tangannya.
"Kau harus bekerja, sampai kapan meminta uang terus?" omel Galvin.
"Kalau kedua orang tuaku masih hidup, tidak mungkin minta uang pada Kakak," wanita itu memanyunkan bibirnya.
"Baiklah, Kakak akan memberikan uang tapi jangan boros," Galvin mentransfer sejumlah uang.
"Aku akan mencari pria kaya untuk memenuhi semua kebutuhanku tanpa harus mengharapkan Kak Galvin."
"Jangan terus bermain-main dengan para pria," Galvin memberikan nasehat.
"Kakak tidak usah mengatur hidupku, Kak Galvin bisa seperti ini juga karena campur tangan kedua orang tuaku," ujarnya membanggakan diri.
Galvin mencoba menahan emosinya, ia sakit hati dengan ucapan adik angkatnya itu. Galvin memang berhutang pada budi pada keluarganya.
"Kalau Kakak belum bisa membalaskan dendamku pada mereka, jangan mencoba menasihatiku!"
"Sebentar lagi, Kakak akan membalaskan dendammu. Setelah ini tolong berubah!" pinta Galvin.
"Aku tidak janji!" Wanita itu pun pergi.
Galvin menghela nafasnya.
"Tuan, anda harus bersabar menghadapi Nona!"
"Kalau bukan janjiku kepada kedua orang tuanya, ku tidak mau diperlakukan seperti ini. Kenapa sulit sekali mengaturnya?" keluh Galvin.
"Itu karena Tuan selalu memanjakannya."
"Ya, aku memang salah. Sudah membiarkannya bebas begitu dan tak tahu aturan," ujar Galvin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote🌹
__ADS_1