Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Wanita Masa Lalu Robin


__ADS_3

Melihat Weni sudah mulai menjauh, Rio kembali ke kafe untuk mengambil mobilnya.


Rio mengendarai mobil menuju rumahnya, jalur jalan yang ia lalui macet membuatnya harus berjalan pelan-pelan.


Tanpa sengaja matanya melihat Weni sedang berdiri di halte seberang jalan yang Rio lalui. Sebuah bus lewat dan berhenti di depannya tapi Weni tak kunjung naik sampai akhirnya kendaraan roda empat itu berlalu.


Setelah melewati kemacetan yang cukup panjang, Rio membelokkan arah mobilnya ke jalan di mana sedang menunggu. Lagi-lagi sebuah bus berhenti namun wanita itu tak kunjung naik.


Tepat mobil Rio berdiri di depan halte. "Apa kau butuh tumpangan?" tawarnya sedikit berteriak.


"Tidak, terima kasih," Weni tersenyum tipis.


"Biar ku antar pulang," ajak Rio.


"Sudah ada yang jemput," ujar Weni.


"Siapa yang menjemputmu?" tanyanya lagi.


Tanpa menjawab Weni berlari kecil ke depan mobil Rio, seorang pria paruh baya telah menjemputnya dengan sepeda motor tua.


Weni duduk di belakang menggunakan helm yang diberi ayahnya dengan tersenyum. Motor tersebut pun melaju.


Rio perlahan mengikuti kendaraan yang ditumpangi Weni, wanita itu menoleh ke arah mobil yang ia kendarai.


Di persimpangan jalan membuat keduanya terpisah, laju motor yang dikendarai ayahnya Weni lebih cepat dan mobil Rio harus berhenti.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengejarnya," Rio melihat lampu lalu lintas berwarna merah.


...----------------...


Lima bulan berlalu....


Pernikahan yang dijalankan oleh Nia dan suaminya sudah berjalan 6 bulan. Namun, Robin jarang sekali tidur di rumah peninggalan papanya.


Suami Nia hanya tidur apabila Mama Carla dan Arum datang berkunjung. Selebihnya Robin akan menghabisi waktu di apartemen miliknya.


Nia mendengar sebuah mobil terparkir di halaman rumah, dengan semangat ia menghampiri asal suara. Begitu sampai di pintu utama langkahnya seketika berhenti dan senyumannya pun berubah masam.


"Dia siapa, Robin?" tanya seorang wanita muda tinggi dan cantik bagaikan model.


"Dia istriku!" jawab Robin.


"Semua begitu cepat, aku menikahinya karena ingin membalas semua perbuatan kakaknya pada kita," Robin berkata menatap istrinya.


"Jadi dia adik dari musuhmu?" tanya Silvia lagi.


"Ya," jawab Robin.


"Kalau begitu di mana kamar untukku?" tanya Silvia merangkul lengan Robin.


"Ada di atas," Robin menarik tangan Silvia ke lantai atas melewati Nia yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


Begitu sampai, Robin menunjuk sebuah kamar tepat di samping kamar istrinya.


Nia menikmati makan siang seorang diri, ia tak perlu mengajak suaminya. Tanpa ia sadar seluruh makanan yang tersaji ia santap dengan sangat lahap.


Robin turun menghampiri istrinya, "Apa masih ada makanan?"


"Jika ingin makan, masak sendiri. Pelayan sudah pulang untuk beristirahat," jawab Nia. Sebelumnya ia memberi izin kepada asisten rumah tangga untuk cuti bekerja selama sehari karena ia dan suaminya ingin berduaan tapi kenyataannya Robin malah membawa wanita lain ke rumahnya.


"Apa mereka tadi tidak memasak?" tanya Robin lagi.


"Masak, tapi aku sudah menghabisi semuanya. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan untuk menyuruh semua pelayan cuti sehari?"


"Ya, kau benar. Sekarang harus melayani kami itu dirimu!"


"Aku tidak mau!" tolak Nia.


Robin mencengkeram lengan Nia dengan kuat, "Kau harus melakukannya. Karena kakakmu aku terpaksa menikahimu!"


"Kenapa kau tidak langsung membalasnya pada Kak Bara?"


"Karena kelemahan dia ada padamu!"


"Aku tidak mau menjadi pelayanmu!" Nia menekankan kata-katanya.


Robin mengeraskan rahangnya, lalu melepaskan genggamannya dengan mendorong lengan istrinya secara kasar.

__ADS_1


Beruntung Nia berhasil memegang meja makan agar tidak terjatuh.


"Aku dan Silvia akan keluar makan siang, jika nanti kami pulang kau harus sudah menyiapkan makan malam!" perintah Robin kemudian berlalu.


__ADS_2