
Menjelang sore hari, Lisha dan Dena pergi ke sebuah restoran mewah dengan pemandangan kota yang sangat menakjubkan karena tempat pertemuan mereka berada di lantai gedung tertinggi.
Dena berdiri saat seorang pria muda dengan tinggi 180 centimeter menghampirinya. Ia tersenyum lalu keduanya saling berjabatan tangan. "Selamat sore, Tuan."
Pria itu tak membalas ucapannya.
Talisha juga mengikuti cara yang dilakukan sahabatnya. Namun, ia tak mengucapkan kata sapaan.
"Tak perlu berbasa-basi, tolong jelaskan kepada temanmu!" titah pria itu pada Dena.
Talisha masih menatap pria yang ada dihadapannya, ia lantas berdiri dan menarik kerah jas. "Kau pria brengsek!" desisnya.
Dena yang kaget menarik tangan sahabatnya itu. "Lisha, apa yang kau lakukan padanya?" bertanya dengan merapatkan giginya sembari melirik para tamu sekitarnya.
Pria itu tampak santai dan tersenyum.
"Dia pria itu, Dena!"
"Kau salah orang!" ujarnya.
Talisha melepaskan cengkeramannya. "Aku tidak salah, dia persis pria itu!"
"Pria mana?"
"Maaf, Tuan Ezaz. Dia pikir anda lelaki yang ia temui beberapa minggu lalu," jawab Dena.
"Oh, pria yang ada diberita itu?"
Talisha kembali duduk dengan wajah kesal, ia tak peduli pandangan orang kepadanya.
"Apa dia pikir kalau aku pria yang ada di hotel bersamanya waktu itu?" Ezaz melirik Lisha.
"Ya, Tuan!" jawab Dena.
"Itu artinya...."
Talisha kini pandangannya tertuju pada Ezaz. "Aku tidak melakukan apapun dengannya!" berkata tegas.
"Benarkah?" tanyanya.
__ADS_1
"Ya," jawab Lisha tegas.
"Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan berita itu. Cepat katakan pada temanmu ini," perintahnya pada Dena. "Jangan membuang waktuku!" lanjutnya.
"Baiklah, Tuan. Saya akan memberitahunya sekarang," ujar Dena.
Talisha kini menatap temannya.
"Lisha, Tuan Ezaz menawarkan kerja sama denganmu. Dia berjanji akan membersihkan nama baik dirimu dan merekrutmu sebagai bintang iklan di perusahaannya," jelas Dena.
Talisha bersemangat mendengarnya.
"Apa kau mau dengan tawaran ini?" tanya Dena.
"Mau."
"Tapi ada syaratnya," ujar Dena.
"Apa syaratnya?" tanyanya penasaran.
"Kau harus menikah dengannya!" jawab Dena.
"Ya, Lisha."
"Aku tidak mau!" tolaknya secara tegas.
"Aku tidak suka penolakan!" Ezaz menyahut.
Kini tatapan ke arah pria itu, "Kau pikir siapa? Tidak suka penolakan, aku tak mau dengan syarat yang kau berikan!" berkata tegas.
Ezaz tersenyum sinis, "Kau harus menerima tawaran ini atau kau ingin perusahaan kedua orang tuamu hancur dan karirmu akan semakin jatuh." Berbicara dengan nada santai.
"Kenapa harus ada pernikahan?" tanya Talisha.
"Ya, karena dengan kita menikah. Aku bisa mengawasi dirimu," jawabnya.
Talisha sejenak berpikir.
"Cepat jawab, aku tidak memiliki banyak waktu!" pinta Ezaz.
__ADS_1
"Terima saja!" paksa Dena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai semua...
Jangan lupa mampir di karyaku selanjutnya..
Cerita ini kelanjutan dari novel berjudul 'Marsha Milik Bara'...
Semoga kalian suka..
Mampir juga di karyaku lainnya...
- Pesona Ayahku
- Menikahi Putri Konglomerat
- Fall in Love From The Sky
- Dikejar Cinta Putri Atasan
- Bisnis, Benci dan Cinta
- Penculik Hati
- Dijodohkan Dengan Musuh
- Salah Jatuh Cinta
- Calon Istriku Musuhku
- Melupakan Sang Mantan
- Mengejar Cinta si Tampan
- Jangan Mengejarku, Cantik!
Semoga Suka 🌹
__ADS_1