
Hari ini Tia kembali ke luar negeri untuk melanjutkan sekolahnya karena masa libur telah habis. Key menemani gadis itu selama beberapa hari ke depan.
"Kenapa Mama menyuruh Key menemani aku pergi ke sana?" protes Tia.
"Kami tidak sempat mengantarmu, hanya Key yang bisa," jawab Laras.
"Aku bisa sendiri kalian jangan khawatir," ucapnya.
"Kami ingin memberikan terbaik untukmu, jika Key bersamamu kami bisa sedikit bernafas lega," jelas Laras lagi.
Tia tak mau berdebat lagi, akhirnya ia pasrah pergi bersama ajudan papanya yang dingin.
Seluruh keluarga besarnya melambaikan tangan kepadanya, sementara itu Key mendorong troli putri bungsu atasannya.
Di dalam pesawat mereka duduk bersebelahan. Tia berpura-pura bersikap cuek seperti tidak kenal. Hingga pesawat berada di atas, wanita masih terlihat acuh.
Tia mulai memejamkan matanya dan menjatuhkan kepalanya di bahu pria yang selalu dianggapnya cuek.
Key memindahkan kepala Tia dengan lembut agar tidak dibahunya. Ia lalu menyelimuti wanita itu dengan hati-hati supaya tak terbangun.
Tak lama kemudian, Key memejamkan matanya. Kepala wanita itu kembali di jatuhkan di bahunya. Key akhirnya membiarkannya, selama Tia nyaman.
Tia terbangun melihat kepalanya di bahu Key, ia lantas segera menggeser tubuhnya. Dia menatap pria yang tidur sangat nyenyak, tanpa disadarinya tangannya menyentuh wajah rupawan itu.
Key lantas terbangun karena wajahnya disentuh.
Tia pun memperbaiki posisi duduknya, pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Maaf, Nona!" ucap Key.
"Tidak apa, tidurlah kembali. Perjalanan kita masih lama," ujar Tia.
"Saya tidak akan tidur, Nyonya."
"Kenapa? Apa kau ingin matamu itu terus terbuka?"
"Saya tidak mau kalau Nona melihat saya tidur," jawabnya.
"Dari mana dia tahu?" batin Tia bertanya.
"Apa Nona butuh sesuatu?" tanya Key.
"Tidak."
"Tidak ingin tidur lagi?" Key bertanya lagi.
"Kau ingin melihat wajahku saat tidur?" Tia menyipitkan matanya.
"Bukan begitu, Nona."
"Lalu? Oh, apa kau ingin berbuat yang aneh-aneh padaku?" tuduhnya.
Key memperbaiki posisi duduknya menghadap Tia ke samping, "Jika saya melakukan kesalahan, mohon maafkan!" ia sedikit menunduk.
"Sudahlah, tak perlu diperpanjang. Jangan melihatku, arahkan pandanganmu ke tempat lain," titahnya.
"Baik, Nona!" Key akhirnya memunggungi majikannya itu.
Di sebelah mereka ada dua orang wanita yang tersenyum genit memandang Key yang melihat ke arah mereka.
Tia yang melihatnya tak suka jika Key diganggu wanita lain. Entah pikiran apa dibenaknya, ia menggunakan tangannya mengarahkan wajah Key dihadapannya. "Aku tidak suka mereka memandangimu seperti itu!"
Key menatap wajah Tia yang terlihat kesal menarik sudut bibirnya. "Nona seperti orang yang sedang cemburu!"
Tia segera membuang wajahnya saat mata mereka saling bertemu. "Siapa yang cemburu?"
__ADS_1
"Sikap Nona mengatakannya," jawab Key.
"Jangan terlalu percaya diri Keydra Vallecano!" Tia menekankan kata-katanya.
"Anda mengucapkan nama saya dengan lengkap, padahal Tuan Bara, Nona Nia dan Nyonya besar tidak pernah mengucapkannya," ungkap Key.
"Kebetulan saja saya mengucapkannya, jangan terlalu percaya diri," Tia lalu memunggungi asisten papanya. Ia merutuki dirinya kenapa bisa begitu cemburunya melihat dua wanita memandangi wajah Key.
Pria itu hanya mengulum senyum dan pandangannya lurus ke depan.
...----------------...
Malam ini Arum mendapatkan undangan makan malam dari seorang klien, pria yang beberapa hari ia temui.
Sebenarnya ia malas untuk datang, namun pria itu adalah klien besar di perusahaannya. Menggunakan gaun berwarna biru muda dengan lengan pendek dan rambut di kuncirnya.
Arum mengendarai mobilnya seorang diri menuju restoran pilihan pria itu.
Begitu sampai, pria yang bernama Galvin Armani berdiri menyambut kedatangan Arum dengan senyuman.
"Aku belum terlambat, kan?" Arum membuka percakapan basa-basi.
"Hanya telat lima menit," jawab Galvin.
"Makanan sudah tersedia, padahal saya belum memesannya," celetuk Arum.
"Saya melakukan ini agar Nona tidak lama menunggu," Galvin memberikan alasan.
Arum hanya tersenyum mendengar penjelasannya.
"Silahkan makan, Nona!"
"Apa saya bisa mengganti minumannya?"
"Ya, silahkan." Galvin pun memanggil pelayan.
"Saya mau jus jeruk satu dan spaghetti bolognese juga satu, lalu sepiring buah potong," ucapnya.
"Baik, Nona!" Pelayan tersebut pun berlalu.
"Hidangannya kenapa sama dengan saya pesan?" Galvin mengerutkan keningnya.
Arum tersenyum, "Makanan yang anda pesan salah satu menu favorit, tapi saya tidak bisa menerima pemberian seseorang yang baru saja dikenal."
"Anda takut kalau saya berbuat curang?"
"Ya, karena orang terdekat saja berani melakukannya. Apalagi kita yang baru beberapa hari kenal," jelas Arum.
"Ya, ada benarnya yang Nona katakan," ujar Galvin tersenyum.
Tak lama pesanan Arum datang, Galvin lantas menyuruh pelayan membungkus makanan yang sebelumnya di pesannya.
Mereka mulai menikmati makan malam, Galvin terus memandangi wanita yang ada dihadapannya.
"Apa anda akan terus memandangi saya?" Arum bertanya sambil menyesap jusnya.
"Anda sangat cantik," pujinya.
"Apa anda mengatakan ini kepada semua wanita?"
"Hanya anda, karena sangat berbeda."
"Oh, ya. Benarkah? Saya curiga dengan pujian yang anda berikan, ada maksud lain?"
"Apa anda selalu mencurigai semua orang?"
__ADS_1
"Tidak semua, cuma akhir-akhir ini saya harus waspada karena ada seseorang yang tidak menyukai keluargaku," jawabnya.
"Berarti nyawa anda dalam bahaya?"
"Ya."
"Kenapa tidak melaporkannya kepada pihak berwajib?"
"Ada alasan ku tak melaporkannya," jawabnya.
"Apa itu?"
"Anda tidak boleh tahu, ini rahasia," jawab Arum tersenyum.
"Baiklah, jika anda tak ingin memberitahunya," ujar Galvin. "Apa saya boleh tahu juga? Apakah anda sudah memiliki kekasih atau calon suami?" lanjut bertanya.
"Apa anda sedang mencari jodoh?" Arum balik bertanya.
"Tidak ingin saja kalau pria kesayangan anda menghajar saya."
Arum tertawa kecil, "Saya akan menolak makan malam dengan anda, kalau memang memilikinya."
"Berarti saya masih ada kesempatan mendekati anda?"
"Tuan Galvin, hubungan kita cukup hanya sebagai rekan bisnis tidak lebih," jawab Arum.
"Kenapa? Apa ada seseorang yang anda taksir?"
Arum menarik sudut bibirnya, "Apa perlu saya memberitahunya?"
"Kalau anda tidak ingin memberi tahu juga tak masalah."
Arum hanya menampilkan senyum tipis, ia tak membalas ucapan pria yang ada dihadapannya. "Apa saya sudah boleh pulang?"
"Biar saya antar!" Galvin menawarkan diri.
"Tidak perlu, Tuan. Saya mengendarai mobil sendiri," jelasnya.
"Saya akan temani, takut terjadi apa-apa dengannya," Galvin kembali menawarkan.
"Tidak usah, Tuan. Terima kasih atas tawarannya, kalau begitu saya permisi!" Arum pun meninggalkan restoran.
Galvin mengikuti mobil yang dikendarai Arum.
Beberapa meter Arum menghentikan laju kendaraannya, dua orang pemuda mencegatnya. Dengan keberaniannya, ia pun turun walau sangat beresiko untuknya.
Dua pria itu mulai menyentuh tangan Arum, namun dengan cepat dirinya menepisnya. Arum mendorong tubuh salah satu pria dan mulai menghajarnya. Beruntung ia sempat belajar ilmu bela diri semasa sekolah.
Galvin juga berhenti ketika melihat Arum sedang bertarung dengan dua orang pria, ia pun turun.
Karena kurang fokus, tubuh Arum terjatuh terkena pukulan diperutnya.
Galvin segera mengambil alih menghajar dua pria itu. Tak cukup lama keduanya menyerah dan langsung melarikan diri.
Galvin menghampiri Arum yang sudah berdiri dan bersandar di badan mobil. "Beruntung aku mengikutimu!"
"Karena anda datang, saya jadi tidak fokus menghajarnya," ujar Arum.
"Kemampuan bela diri anda tidak terlalu bagus," sindir Galvin.
"Benarkah?" Arum malah memukul lengan Galvin dengan kuat. Pria itu menjerit kesakitan. "Bagaimana? Apa bela diriku tidak bagus?" lanjutnya bertanya.
Galvin lalu menjawab, "Ini sangat sakit."
"Saya harus bergegas pulang, terima kasih bantuannya," Arum membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Jika butuh bantuan, hubungi saya!"
"Tidak akan sempat untuk menghubungi anda!" Arum lantas masuk ke dalam mobil dan kemudian berlalu.