
Galvin dan istrinya kini berada di bandara bersama Silvia serta beberapa anak buahnya yang mengantarkannya.
"Aku titip adikku, jika dia berbuat ulah lagi jangan segan menghukumnya!"
"Aku tidak bisa menghukumnya, Nona terlalu galak," ujar Leo.
Silvia menyipitkan matanya dengan tatapan tajam.
"Anda lihat sendiri, kan. Belum bicara saja sudah terlihat garang," bisiknya di dekat Galvin.
"Kalian sangat cocok!" celetuk Arum.
"Ya, mereka sangat serasi!"
"Aku tidak mau dengannya, Kak!" Silvia menolak pria yang ada di sampingnya.
"Saya juga tidak mau, Tuan. Bisa hancur ini tubuh jika bersamanya," ungkapnya.
"Hei, kau pikir aku ini monster!" sentak Silvia.
"Sudah, kalian jangan bertengkar lagi. Jika masih seperti ini setelah kamu melahirkan, Kakak akan menikahkan dirimu dengan Leo!" Galvin menghentikan perdebatan keduanya.
"Baiklah, aku tidak akan berbuat ulah," janji Silvia.
"Pesawat kami segera berangkat, jangan berulah lagi!" Galvin menunjuk adik angkatnya itu.
"Ya, Kak." Silvia mengacungkan jempol kanan.
Galvin memegang tangan istrinya, kopernya di dorong oleh pengawal mereka. Silvia menatap punggung keduanya dari kejauhan.
"Apa Nona ingin menangis?"
"Kau ingin memberikan bahumu lagi?" Silvia menatap sinis.
"Tidak saya hanya ingin memberikan tisu saja!" jawab Leo.
"Aku tak ingin menangis lagi, sudah lelah. Ayo sekarang kita pulang!" ajaknya. Silvia berjalan lebih dahulu di belakangnya Leo dan beberapa anak buahnya.
...----------------...
Beberapa bulan kemudian....
Tia membuka matanya setelah hampir 7 jam ia tertidur, telinganya mendengar suara ketukan pintu yang terasa kuat. Ia pun bergegas membukanya betapa terkejutnya dirinya pria yang sama ketika mengantarnya kini berada di hadapannya.
"Selamat pagi, Nona!" sapa Key dengan wajah datarnya.
"Pagi juga, kenapa kau sudah sampai di negara ini?"
"Saya ditugaskan oleh Nyonya besar untuk menjemput anda," jawab Key.
"Apa? Kenapa harus kau? Memang ke mana mereka?" tanya Tia tanpa jeda.
"Nona Nia sedang mengalami ngidam parah, jadi Nyonya Laras menemaninya," jelas Key.
"Tapi Kak Nia punya suami, memangnya ke mana Kak Robin?"
"Tuan Robin pagi hingga sore hari bekerja, dia hanya memiliki waktu luang bersama istrinya pada malam hari dan hari libur saja," Key menjelaskan lagi.
Tia pun terdiam mendengar penjelasan pengawal papanya itu.
"Ada lagi pertanyaan, Nona?" tanya Key.
"Tidak, ya sudah kau pergi sana istirahat. Kepulangan kita juga esok sore, hari ini aku mau mengurus beberapa hal," jelas Tia.
"Baik, Nona. Sore nanti saya akan ke sini lagi," ujar Key.
"Untuk apa?"
"Untuk memberitahu Nyonya Laras, apa saja yang anda lakukan," jawab Key.
__ADS_1
Tia menghela nafasnya, rasanya sangat malas jika harus berdebat dengan Key pasti selalu ada saja jawaban yang tepat.
-
-
Sore harinya Key kembali ke apartemen Tia. Pria itu datang tepat waktu, seperti biasa ia akan mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kata Nyonya Laras sore ini anda akan bertemu dengan seseorang di kafe tak jauh dari sekolah," ujar Key.
"Astaga, Mama. Kenapa mulutnya bocor sekali?" gerutunya.
"Nyonya Laras meminta saya untuk menemani anda," jelas Key.
"Lebih baik tadi aku tak memberitahu Mama," ocehnya.
"Ayo kita gerak sekarang, Nona!" ajak Key.
"Ya, aku akan pergi tapi denganmu!"
"Saya akan melakukannya karena yang memberikan gaji adalah Nyonya Laras bukan Nona Tia. Jadi, saya hanya menurut apa kata Nyonya besar saja," ungkapnya.
Tia menatap geram, "Kau boleh ikut!"
Key menarik sudut bibirnya.
-
Begitu sampai teman Tia seorang pria keturunan Eropa sudah menunggunya. Key juga duduk di sebelah putri atasannya itu.
"Dia siapa?" tanya teman Tia.
"Perkenalkan saya Key, pengawal pribadi Nona Tia," ia mengulurkan tangannya di sambut oleh pria itu.
"Kau memiliki seorang pengawal?" Teman Tia tampak heran.
"Ya," jawab Tia tersenyum kaku.
"Silahkan Tuan kalau mau berbicara, sesuai perintah Nyonya besar saya harus tahu apa yang kalian bicarakan dan rencanakan," ujar Key.
Tia dan temannya itu mengerutkan keningnya.
"Kenapa diam? Ayo bicara, saya akan memainkan ponsel," ucap Key.
Kedua orang berlainan jenis hanya saling pandang sesekali melirik Key.
"Kita di sini hampir dua puluh menit, kenapa kalian belum bicara?" tanya Key.
"Aku mau pulang," sahut Tia. Ia lalu berpamitan kepada teman prianya sekaligus mengucapkan salam perpisahan karena dirinya akan kembali ke tanah air.
Setelah berbincang singkat, Tia berjalan lebih dahulu menuju apartemennya dan Key berada di belakangnya.
Mereka sengaja berjalan karena memang tidak terlalu jauh.
Tia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah belakang, "Apa kau ingin mengikuti aku terus?"
"Ya, sampai Nona masuk ke dalam apartemen," jawab Key.
Tia menghentakkan kakinya karena kesal, ia pun mempercepat langkahnya begitu juga Key.
...----------------...
Galvin dan Arum dengan wajah panik mendatangi rumah sakit terdekat dari kediaman adik angkatnya. Leo mengabarkan kalau Silvia akan melahirkan.
Galvin menggenggam jemari istrinya berjalan cepat menghampiri Leo yang sudah lebih dahulu tiba.
"Bagaimana? Apa dia sudah lahiran? Kondisi ibu dan anak, apa mereka baik-baik saja?" cecar Galvin.
Belum sempat di jawab, perawat keluar dari ruangan bersalin lalu bertanya, "Suami dari Nona Silvia, silahkan masuk!"
__ADS_1
Galvin dan Leo saling pandang.
"Ayo, Tuan. Nona Silvia butuh semangat dari suaminya," jelas perawat lagi.
"Kau saja!" Galvin memberikan perintah pada bawahannya.
"Tapi, Tuan. Saya bukan suaminya," ujar Leo.
"Sudah tidak apa-apa," Galvin mendorong tubuh pria itu ke ruangan bersalin. "Aku akan menaikkan gajimu!" bisiknya.
Mendengar ucapan itu, Leo menjadi semangat. Ia pun masuk ke ruangan bersalin tampak Silvia kesakitan dengan keringat bercucuran. Seketika matanya berkaca-kaca, ia pun mendekati wanita itu.
"Kenapa kau yang masuk ke sini?"
"Tuan Galvin yang menyuruhnya," jawab Leo.
"Tuan, tolong beri semangat kepada istrinya," ucap Dokter yang sudah bersiap melakukan persalinan.
"Apa?" Silvia menatap heran kepada Leo.
"Nona, kau sangat kuat!" bisiknya di telinga wanita itu.
Karena sangat sakit, Silvia memegang tangan Leo begitu kuat dan menjerit di telinga pria itu. Setelah 30 menit berjuang akhirnya bayi yang ditunggu lahir ke dunia yang selamat.
Leo menangis haru tanpa sadar ia memeluk Silvia, membuat wanita itu mendorong tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga selepas melahirkan.
"Maaf, Nona!" Leo tertunduk salah.
-
Silvia kini sudah berada di dalam ruangan rawat inap dan ia ditunggui 2 asisten rumah tangganya karena Galvin dan istrinya sudah pulang.
"Nona, kami izin pulang juga karena nanti ada Tuan Leo yang akan gantian menjaga anda," jelas salah satu asistennya.
"Kenapa harus dia, sih?" protes Silvia.
"Tuan Galvin yang memintanya," jawabnya.
"Ya sudah, kalian boleh pulang!"
Tak lama kemudian Leo telah datang seorang diri, ia duduk di sofa tamu sambil membaca membaca majalah dan memainkan ponselnya. Hampir 1 jam ia melakukan itu, karena dirinya bingung harus apa.
"Tolong kupasin apel!" pintanya dengan suara pelan.
"Baik, Nona!" Leo pun melakukan tugasnya.
"Apa kau tidak ingin menikah?" tanya Silvia.
"Tentunya saya ingin, Nona."
"Kalau begitu menikahlah," ujar Silvia.
"Saya belum memiliki calonnya."
"Kalau begitu carilah, pasti para wanita tidak akan menolakmu," tuturnya.
"Saya sudah menyukai seorang wanita, Nona."
"Oh, ya. Siapa dia?" Silvia penasaran.
"Saya tidak ingin memberitahunya, Nona. Karena tak pantas bersanding dengannya," jawab Leo.
"Kau belum perang sudah menyerah," ucap Silvia.
"Saya memang tidak pantas untuknya," Leo menyerahkan potongan buah apel kepada wanita itu.
"Memangnya seperti apa wanita yang kau sukai?"
"Dia sangat galak tapi dia wanita yang kuat dan cantik," jawab Leo.
__ADS_1
"Kalau aku boleh tahu siapa namanya?" Silvia begitu penasaran.