Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Hari Bahagia


__ADS_3

Hari lamaran tiba, Weni akhirnya menerima ajakan menikah Rio kepadanya walau hatinya masih ragu. Apalagi mendengar jika calon suaminya itu memiliki banyak kekasih.


Acara dilaksanakan di kediaman keluarga dari pihak ibunya Weni, karena rumah mereka berada di gang sempit jadi diputuskan di rumah saudaranya yang tidak jauh dari rumah kedua orang tuanya.


Weni tampak cantik dengan gaun warna merah muda tapi dia hanya tersenyum tipis.


Marsha tak dapat menghadiri acara karena menjelang hari kelahiran, suaminya takut jika Marsha melahirkan di tempat acara bahagia sahabatnya.


Dengan sedikit grogi, Weni mengangkat tangannya. Jemarinya di pasang cincin oleh calon Mama mertuanya.


Begitu para keluarga menikmati makanan, Weni segera menarik Rio menjauh dari para tamu.


"Ada apa?"


"Aku perlu bicara padamu."


"Ya, mau bicara apa?" tanya Rio.


"Apa kau yakin kalau kita menikah?"


"Aku yakin, apa kau tidak yakin?"


"Kenapa balik bertanya?" Weni menatap kesal.


"Aku serius denganmu, jadi jangan bertanya hal seperti ini lagi," jawab Rio.


"Kau tidak mempermainkan pernikahan kita nanti, kan?"


"Tidak, kau jangan takut," jawab Rio tersenyum.


-


-


Robin mendorong kursi roda istrinya dengan sabar ia menemaninya terapi dan melakukan perobatan.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" Tanya Robin lembut begitu sampai rumah.


"Tidak, cuma ingin menonton televisi saja," jawabnya.


Robin membantu istrinya duduk dan menyetel acara televisi.


"Mas, tidak kerja?" tanya Nia.


Robin tersenyum ketika istrinya itu memberi panggilan kepadanya. "Ini hari Minggu, Nia."


"Oh, ya. Aku tidak tahu kalau hari ini libur," ucapnya.


Robin kembali tersenyum.


"Mas, sudah tiga bulan aku melahirkan. Kamu melakukan ini kepadaku karena kasihan atau cinta?"


"Kenapa berkata seperti itu?"


"Kau menikahiku karena dendam pada Kak Bara, apa rasa sakit hatimu masih ada?"


Robin menggenggam tangan istrinya lalu tersenyum, "Awalnya aku salah menikahimu karena dendam, tapi sekarang ku tak mau jauh darimu."


"Aku ikhlas jika Mas ingin melepaskan ku. Aku katakan pada Kak Bara untuk tidak membencimu," ujarnya. "Apa Mas ingin menikah dengan Silvia?" tanyanya lagi.


"Aku tidak ingin menikah lagi, istriku cuma kamu. Hanya kamu, Nia!"


Nia memeluk suaminya dan menangis sesenggukan, "Harusnya aku bisa mempertahankan anak kita."


"Aku juga bersalah telah menyakitimu," Robin menghapus air mata istrinya dengan jemarinya.


"Aku mencintaimu, Mas!" Nia mendekap erat tubuh suaminya.


"Aku juga," Robin tak dapat menahan air matanya.


...----------------...


Marsha berjalan mondar mandir mengelilingi taman, kedua mertuanya sedang menikmati teh di meja teras bersama Bara.


Marsha hendak menghampiri suami dan mertuanya tiba-tiba ia mendadak memegang perutnya.


"Marsha!" teriak Bara, ia berlari mendekati istrinya.


"Mas, perutku terasa sakit," mengerang kesakitan.

__ADS_1


Bara berteriak memanggil nama sopirnya, tak lama sebuah mobil pribadinya sudah siap mengantar Marsha ke rumah sakit.


Kedua orang tua Bara menyusul dari belakang.


Begitu sampai, segera melakukan persalinan. Bara selalu menemani sang istri. Tarikan baju dan teriakan kesakitan menggema di telinganya.


Hampir dua jam Marsha berjuang akhirnya bayi mungil perempuan lahir ke dunia. Bara yang berada disampingnya tersenyum bahagia.


Begitu perawat membersihkan sang bayi dan memakaikan kain. Bara menggendong anak perempuannya dengan wajah sumringah, lalu ia mendekatkan kepada istrinya. "Sangat cantik!" pujinya.


"Apa dia mirip seperti aku?" Marsha bertanya.


"Ya, sangat mirip. Cantik seperti kamu," jawab Bara.


Setelah Marsha dipindahkan ke ruang rawat inap, kedua mertua dan kedua orang tuanya datang menjenguk. Keempatnya sangat bahagia menyambut penerus keluarga Kartajaya.


"Mas, semoga nanti putri kita selalu bahagia," Marsha berharap dengan berkata pelan di samping suaminya.


"Ya, sayang. Putri kita harus selalu bahagia," ujarnya.


......................


Beberapa bulan kemudian....


Nia belanja ke supermarket dengan di temani dua orang asisten rumah tangganya. Ia memilih dan membeli beberapa bahan masakan.


Namun, di tengah antrian yang panjang. Seseorang menyerobotnya dengan tersenyum sinis. Nia ingin membalas perlakuan wanita yang ada dihadapannya tapi ia tak mau mengundang keramaian orang lain.


Begitu selesai membayar semua transaksi, wanita yang menikung antriannya memanggilnya. Nia pun menoleh dan tersenyum tipis.


"Aku ingin berbicara padamu," ujarnya.


"Kalian duluan ke mobil, aku nanti akan menyusul," perintahnya pada kedua asisten rumah tangganya.


"Baik, Nona." Keduanya pun meninggalkan Nia.


"Kita mengobrol di sana saja!" tunjuknya ke arah restoran yang ada di dalam mall.


Nia pun menuruti kemauan wanita itu.


"Silahkan di minum!" Silvia menyodorkan secangkir teh kepada Nia.


"Aku tidak memberi apa-apa dalam minuman itu, jadi kau tenang saja," Silvia tersenyum.


"Benarkah? Tapi aku belum haus," Nia membalas dengan senyuman. "Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanyanya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Robin?"


"Kami baik-baik saja."


"Apa dia mencintaimu?"


"Sampai sekarang kami bertahan, itu artinya dia sangat mencintaiku," jawab Nia.


"Aku sangat mencintai Robin tapi semua berakhir setelah kau hadir diantara kami," ujar Silvia.


"Bukankah kau yang meninggalkan Robin saat ia terpuruk?" Nia tersenyum menyindir menatap mantan kekasih suaminya.


Silvia tak bisa berkata-kata.


"Aku mau pulang, suamiku pasti mencariku," ujarnya.


"Kau tidak ingin meminumnya?"


"Tidak, terima kasih," Nia pun pergi.


Silvia mendengus kesal. "Aku harus cari cara lain untuk mendapatkan Robin lagi," batinnya.


-


-


Begitu sampai rumah, Robin menghampiri istrinya. "Apa kamu tadi bertemu dengan Silvia?"


"Iya," jawabnya. "Mas, kenapa cepat sekali pulangnya?" lanjutnya bertanya.


"Dua asisten itu memberi tahu aku kalau kamu bertemu dengan Silvia, jadi aku segera pulang ke rumah. Dia tidak bertindak kasar kepadamu?"


"Tidak, Mas."

__ADS_1


"Syukurlah."


...----------------...


Sebentar lagi Weni akan menikah, ia akan mengajukan surat pengunduran diri kepada Mark. Pria itu menyambutnya dengan hati tak ikhlas karena dirinya salah satu karyawan terbaik di toko ponsel miliknya.


"Aku ucapkan selamat, semoga lancar acaranya," ucap Mark.


"Terima kasih, Tuan."


Begitu Mark pergi dan membawa surat pengunduran diri Weni, Tania menghampirinya. "Mau menikah saja, pakai pelet apa tuh sampai pria kaya itu tergila-gila padamu," sindirnya.


"Bilang saja iri, lebih baik perbaiki tingkah biar para pria kagum padamu bukan karena wajah," Weni kembali menyindir.


"Hei, aku tuh lebih cantik darimu tapi entah kenapa para pria lebih tertarik padamu dan temanmu daripada aku. Apa jangan-jangan kalian memakai sihir untuk menggaet para pria kaya itu?"


"Mulut ini perempuan memang tidak bisa dijaga, ya!" geram Weni.


"Jangan dilawan, Wen. Lebih baik kau pulang saja, daripada stress menghadapinya," ucap salah satu teman Weni kerja.


"Ya, kau benar lebih baik aku fokus dengan pernikahanku daripada melawan nenek sihir sepertinya," Weni menatap Tania. "Kalau begitu, aku pulang. Jangan lupa datang, ya!" Ia lalu menatap temannya dan tersenyum kemudian berlalu meninggalkan toko.


-


-


Sementara itu di lain tempat, Marsha sedang menimang bayinya di ruang keluarga. Suaminya sedang mengerjakan pekerjaan di laptop.


"Mas, aku mendapatkan undangan dari Weni. Nanti kita datang, ya!" ajaknya.


"Ya, sayang," ucap Bara. "Apa dia menikah dengan mantan kekasihmu itu?" tanya Bara.


"Kenapa bahas dia sih', Mas?"


"Aku cuma bertanya saja, Sha."


"Kan kamu tahu sendiri, masih saja selalu menyebut kata mantan," gerutu Marsha.


"Iya, maaf." Bara tersenyum menatap istrinya yang tampak manyun.


-


-


Seperti biasa di sore hari, Nia akan menyediakan cemilan buat suaminya yang sedang libur kerja.


Dia hendak menyajikan kepada suaminya yang duduk di teras samping rumah. Seorang tamu yang tak diharapkan datang berkunjung menghampiri Nia di dapur.


"Sore!" sapanya tersenyum.


"Kau!"


"Apa ada Robin?" tanya Silvia.


Nia menyuruh asistennya untuk memanggil Robin, tak lama kemudian pria itu muncul.


"Aku ingin berbicara berdua denganmu," ujar Silvia.


Nia yang sadar diri, hendak pergi namun lengan tangannya dipegang suaminya.


"Tetaplah di sini," pintanya pada istrinya.


Nia pun menuruti kata suaminya.


"Cepat katakan apa yang mau dibicarakan?" tanya Robin.


"Beri aku kesempatan lagi," jawab Silvia.


Nia memandang wajah suaminya.


"Aku tidak bisa, ku mencintai istriku. Pergilah bersama pria yang sudah menidurimu," ujar Robin.


"Robin, saat itu aku dijebak." Silvia memberi alasan.


"Aku tidak percaya, kau sering bertemu dengannya. Dan ku tahu semuanya," ungkap Robin.


"Itu tidak benar, Robin!" Silvia terus menyangkal.


"Kau ingin keluar sendiri atau ku usir paksa!" Robin memberikan pilihan.

__ADS_1


Silvia pun akhirnya pergi.


__ADS_2