Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Bara Mulai Luluh


__ADS_3

Marsha kelihatan lemas, wajahnya pucat. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang samping pengemudi. Sesekali matanya terpejam.


Bara terus melihat Marsha sambil menyetir. Sebenarnya ia tak mau membawa istrinya pulang, namun mulut dokter itu membuatnya kesal.


Begitu sampai, ia menggendong istrinya ke kamar tamu lalu merebahkannya di ranjang. "Jangan kemana-mana, aku akan membuatkan makanan untukmu!"


Bara pergi ke dapur melewati barang-barang yang sengaja ia biarkan berantakan. Sebelumnya ia juga sudah melaporkan kejadian ini kepada anak buahnya. Untuk mencari tahu, pelaku perampokan.


Bara membuat telur ceplok buat Marsha karena cuma masak yang bisa ia lakukan. Beruntung, ada nasi yang sempat di masak istrinya.


Bara membawa makanan yang ia buat ke dalam kamar. "Ayo, makan!" ia mengangkat sendok lalu menyuapkannya ke mulut istrinya.


Marsha menerima suapan suaminya setelah itu meminta menghentikannya.


"Kenapa?" tanya Bara.


"Telurnya sangat asin," jawab Marsha.


Bara pun mencoba mencicipinya, lalu ia buru-buru meraih gelas dan meminumnya.


Marsha tersenyum melihat ekspresi keasinan suaminya.


"Rasanya memang asin," Bara meletakkan piring di nakas. "Aku akan memesan makanan online saja," ujar Bara.


Marsha memegang tangan suaminya. "Tidak usah, aku ingin tidur saja."


"Kau belum makan," ucap Bara.


"Aku sudah biasa tidak makan, Mas tenang saja." Marsha menjatuhkan kepalanya di bantal lalu memejamkan matanya.


"Marsha, aku minta maaf!" ucapnya lirih.


......................


Bara terbangun lalu mengarahkan matanya ke arah ranjang. Marsha tidak ada di sana, Bara pun keluar mencari keberadaan istrinya.


Barang-barang yang berantakan kembali rapi dan tersusun karena beberapa anak buah Bara yang melakukannya. Pihak berwajib juga sudah melihat kejadian, namun saksi mata belum bisa dimintai keterangan.


Hanya rekaman kamera pengawas yang terpasang di depan rumah menjadi bukti.


"Kau belum sehat," Bara menghampiri istrinya di dapur.


"Aku tidak mau kau memarah dan memukuliku," Marsha mengaduk masakannya. "Barang-barang yang berantakan sudah kembali seperti semula, apa Mas yang membereskannya?" tanyanya.

__ADS_1


"Tidak, orang suruhanku yang melakukannya," jawab Bara. "Pihak berwajib juga sudah datang, apa kau bisa memberikan kesaksian?" lanjutnya bertanya.


"Bisa!"


Selesai sarapan, Bara dan istrinya pergi memberikan keterangan.


Menurut kesaksiannya, dua orang pria mengetuk pintu. Marsha berpikir jika suaminya yang pulang, salah satu pria mendorong tubuhnya hingga terjatuh.


Flash back...


"Hei, apa yang kalian lakukan?" teriak Marsha.


Dua orang pria itu memporak-porandakan seisi ruang tamu. Marsha mengambil sapu lalu memukul salah satu pria.


Dengan beringas pria yang dipukul menampar dan menjambak rambut Marsha kemudian ia lepaskan. Pria yang satu lagi berlari ke arah kamar suaminya.


Marsha mengambil barang-barang yang bisa ia raih lalu melemparkannya ke arah perampok sambil menjerit-jerit minta tolong.


Kedua pria itu mengejar Marsha, dengan cepat ia masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Pintu terus digedor, ia sangat ketakutan.


Suara gedoran tidak terdengar lagi, namun ia mendengar suara mesin mobil meninggalkan kediamannya.


Marsha memilih diam di kamar menunggu suaminya pulang.


Flash on...


Mendengar kabar perampokan itu keluarga Bara datang untuk melihat menantunya.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Laras memeluk Marsha.


"Aku baik-baik saja, Ma. Jangan khawatir," jawabnya.


"Apa ada yang hilang?" tanya Handoko.


"Tidak ada, Pa. Cuma barang-barang berantakan," jawab Bara.


"Apa motif mereka sebenarnya?" Handoko bertanya lagi.


"Entahlah," Bara menaiki kedua bahunya.


-


Tak lama orang tua Bara pulang, Mike datang bersama kekasihnya. Sesampainya di sana, Bara terkejut wanita yang berada di sebelah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sayang, pria ini yang ku ceritakan kemarin," Alexa berkata pelan.


"Jadi, Dokter ini kekasihmu?" Bara melirik Alexa.


"Iya, Bara. Dia menceritakan semua tentangmu dan beberapa luka di tubuh istrimu," jawab Mike.


"Di mana dia?" tanya Alexa.


"Dia siapa?" Bara balik bertanya.


"Istrimu!" jawab Alexa ketus.


Bara memanggil istrinya, tak lama ia kembali lagi datang bersama.


"Bagaimana kabarmu, Nona?" Alexa bertanya pada Marsha.


"Baik, Dokter!" jawabnya.


"Coba kamu jelaskan padanya yang sebenarnya!" pinta Bara pada istrinya.


"Rumah kami benar-benar kerampokan, Dokter." Tutur Marsha.


"Saya tahu, Nona. Tapi ada beberapa luka dan memar yang cukup lama di tubuh anda," Alexa terus memaksa.


"Sayang, sudahlah. Jangan ditanya seperti itu," Mike berusaha menghentikan pertanyaan kekasihnya karena melihat wajah Bara yang tidak nyaman dan kesal.


"Aku curiga, kalau temanmu ini melakukan kekerasan dalam rumah tangga," ujar Alexa menatap sinis Bara.


"Ini luka karena saya kurang hati-hati, Dokter!" Marsha berkata berbohong.


"Anda tidak perlu takut, saya siap menemani Nona," ujar Alexa menyakinkannya.


"Kalian berdua kesini hanya untuk bertanya seperti itu?" Bara mulai jengkel.


"Bukan begitu, Bara. Kekasih ku hanya penasaran saja," ujar Mike.


Bara mendengus kesal dan memilih pergi meninggalkan tamunya.


"Hemm, Marsha, aku dan Alexa permisi pulang," pamitnya Mike.


Marsha menganggukan kepalanya.


"Lebih baik anda berhati-hati, Nona!" nasehat Alexa.

__ADS_1


"Terima kasih atas perhatiannya, Dokter Alexa. Tapi percayalah, suami saya tidak seperti itu," ujar Marsha tersenyum.


__ADS_2