Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Kedatangan Mama Laras


__ADS_3

Bara pulang lebih awal, karena pikirannya sedang kacau. Papanya memarahinya, belum lagi Miranda minta putus dan salah satu klien membatalkan kerja sama.


Sesampainya di rumah ada satu mobil terparkir di halaman. Bara tahu jika itu milik mamanya dengan cepat ia masuk dan menghampiri mereka.


"Ada tamu, kapan datang?" sapa Bara tersenyum, ia berpura-pura mendekati istrinya lalu mengecup kening. Hal itu membuat Marsha mendelikkan matanya.


"Ih, Kakak romantis banget. Aku 'kan jadi iri," Nia tersenyum gemes.


"Ini hanya dibolehkan untuk orang yang sudah menikah," ejek Bara.


"Ma, boleh 'ya aku menikah?" rengek Nia.


"Selesaikan dahulu pendidikanmu!" ujar Laras.


"Sayang, aku mau jus jeruk. Bisakah kau membuatnya?" pinta Bara.


"Sebentar ya, Mas!" Marsha pergi ke dapur membuatkan jus buat suaminya.


"Kenapa kamu cepat pulang, Bara? Ini masih jam tiga sore," Laras melihat jam di dinding.


"Bara kangen dengan istri, Ma." Jawabnya berbohong.


Marsha yang mendengarnya, tersenyum sinis.


"Mas, ini jus yang kamu minta," menyodorkan gelas kepada suaminya.


Bara menyesap jus, lalu ia menatap istrinya.


"Kenapa, Mas?" pura-pura panik.


"Jusnya asem pasti kau lupa memberikan gula, tapi itu tidak masalah melihat wajahmu sudah terasa manis," Bara berbohong, padahal dalam hati ingin memaki istrinya.


"Mas, maaf aku tadi lupa!" Marsha tersenyum puas dalam hati.

__ADS_1


"Itu lebih bagus, Nak. Jangan terlalu banyak makan gula," sahut Laras.


"Kalian tidak memiliki pelayan?" tanya Tia.


"Tidak," jawab Bara.


"Ya, ampun Bara. Kamu tidak kasihan dengan istrimu membersihkan dan mengurus rumah seorang diri," omel Laras.


"Aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, Ma." Marsha berucap.


"Harus ada satu atau dua orang, biar kamu tidak capek dan kalian bisa memiliki momongan," ujar Laras.


"Bagaimana kalau kami tidak memiliki anak, Ma?" tanya Marsha.


"Coba saja lagi terus menerus sampai dapat, kalau tidak ya harus bagaimana lagi? Mungkin itu memang takdir kalian, tapi Mama akan tetap sayang sama kamu," Laras tersenyum.


Marsha tersenyum tipis. "Bagaimana mau memiliki anak? Putramu selalu menyiksaku," dalam hatinya.


"Iya, Ma. Hati-hati, salam untuk Papa," ujar Marsha tersenyum, melepaskan pelukan.


"Iya, Nak," ucap Laras kemudian menatap putranya. "Besok Mama akan mengirimkan pelayan di sini," lanjutnya.


"Tidak usah, Ma. Aku bisa sendiri," sahut Marsha.


"Ya sudah kalau memang itu mau kamu, jangan terlalu lelah," nasehat Laras.


Marsha mengangguk mengiyakan.


Sepasang pengantin baru itu mengantarkan keluarganya menuju mobil.


"Kami pulang, Kak!" pamit Nia dan Tia, keduanya melambaikan tangan.


Marsha pun membalas dengan lambaian tangan juga.

__ADS_1


Setelah mobil mertuanya pergi, Marsha ditarik paksa suaminya ke dalam rumah.


"Mas, sakit!" Marsha menghempaskan tangannya.


Bara mengambil gelas berisi jus jeruk tadi, "Cepat minum!" menyodorkannya pada istrinya.


"Aku tidak mau, Mas!" tolak Marsha tegas.


"Ayo, cepat minum!" paksanya.


"Aku bilang tidak mau!" Marsha melempar gelas itu.


Bara mencengkeram rahang istrinya, "Sekarang kau sudah berani, ya!"


Marsha memegang tangan suaminya lalu hempaskan secara kasar. "Kenapa kau tega padaku? Apa salahku?" tanyanya dengan tegas.


"Karena menikahimu, hubungan aku dengan Miranda putus!"


"Itu bukan salahku, tapi kau yang bodoh, Mas!"


Bara menampar Marsha, "Kau bilang aku bodoh!"


"Jika kau mencintainya lebih baik menikahinya bukan aku," Marsha berbicara tegas.


"Hubungan kami tidak direstui!"


"Kau adalah pria pengecut!" Marsha menatap sinis suaminya.


Bara mendekati istrinya lalu menjambak rambutnya. "Kau bilang pengecut?"


"Harusnya kau perjuangkan cinta kalian bukan menyakiti hati dua wanita sekaligus!" jawab Marsha menahan sakit.


"Ada alasan lainnya, kenapa aku menikahimu?"

__ADS_1


__ADS_2