
Marsha dan Weni kini berada di kafe, sementara Bara yang ada di sampingnya hanya diam saja.
Weni ingin bicara tapi matanya tertuju pada suami sahabatnya, rasanya canggung jika harus tertawa tak tahu malu pada pria itu.
Marsha merasa hal dirasakan Weni wajar. Karena dia juga merasakan seperti itu, berbicara sembari bercanda di depan orang yang tidak terlalu kenal dekat akan menjadi kaku.
Bara yang mendapatkan lirikan dari dua wanita itu segera berdiri, "Sayang, aku mau keluar menemui teman. Nikmati waktu kalian mengobrol." Ia tersenyum lalu mengecup kening istrinya dan berlalu.
Weni melihat suami Marsha telah pergi dengan mobilnya, tersenyum senang. "Akhirnya kita bisa berbicara puas!" ujarnya.
"Ya, tapi kenapa aku jadi sedih dia pergi?" Marsha memanyunkan bibirnya.
"Ya ampun, payah kalau sudah cinta banget." Weni mendengus kesal.
Marsha tersenyum nyengir, "Mari kita puaskan mengobrol!"
-
Hampir sejam Marsha dan Weni mengobrol tiba-tiba Rio muncul dihadapan keduanya.
"Aku tak menyangka kita bertemu di sini," Rio tersenyum pada Bara.
"Dia siapa, Sha?" tanya Weni pelan.
"Aku tidak kenal dengannya," jawab Marsha melirik Rio yang berada disampingnya.
"Terus kenapa dia masih di sini? Apa dia sudah gila?" tanya Weni lagi.
"Hei, kau bilang aku gila?" Rio tak senang dengan ucapan Weni.
Weni tersenyum lalu menatap Rio. "Temanku tidak mengenalmu, kenapa kau masih di sini?"
"Aku mengenal dia," jawab Rio mengalihkan pandangannya ke arah Marsha.
"Tidak mungkin temanku berbohong," ujar Weni.
"Dia mantan kekasihku," ungkap Rio.
__ADS_1
"Benarkah, Sha?" Weni menatap temannya itu
Marsha mengangguk pelan.
"Ya ampun, ternyata mantan. Bukankah anda sudah tahu kalau Marsha telah menikah dan mengandung?"
"Aku tahu," jawab Rio santai.
"Lalu kenapa masih mengganggunya?" Weni berdiri menatap Rio.
"Marsha harus menjadi milikku," jawabnya.
"Weni sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini," ajak Marsha.
"Ayo!" sahut Weni. "Kau mengganggu saja," ia menatap sinis Rio lalu dengan sengaja menabrak lengan pria itu.
Rio mendengus kesal melihat perlakuan Weni terhadapnya.
-
Ternyata Rio mengikuti mereka.
"Dia datang lagi, Sha!" Weni menatap pintu masuk kafe.
"Mau dia apa, sih?" Marsha merasa geram.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Rio pura-pura tidak tahu.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa mengikuti kami?" Weni bertanya balik.
"Aku ke sini untuk bertemu klien," jawab Rio.
"Wen, maaf ku pulang lebih dulu. Suamiku sudah menjemput," ujar Marsha.
"Ya sudah, Sha. Hati-hati, ya. Terima kasih traktirannya," ucap Weni.
"Maaf, tidak bisa mengantarmu pulang," ujar Marsha.
__ADS_1
"Tidak masalah," ungkap Weni.
"Sha, kita belum mengobrol!" Rio hendak mengikuti langkah Marsha namun lengan tangannya di tarik Weni.
"Kau mau ke mana?" tanyanya.
"Aku mau mengejarnya," jawab Rio.
"Apa kau ingin dihajar suaminya?"
"Kenapa kau memegang tanganku?" Rio menatap genggaman Weni yang menyentuh lengannya.
Dengan cepat Weni melepaskan genggamannya. "Aku tidak mau kau mengganggu rumah tangga temanku!"
"Aku harus mendapatkan apa yang ku inginkan," menekankan kata-katanya.
"Kalau begitu, kau akan berhadapan denganku jika berani mengganggunya!" Weni mengambil tasnya kemudian berlalu.
Rio menjatuhkan tubuhnya di kursi yang tadi ditempati oleh Weni, matanya tertuju pada sebuah ponsel yang terletak di atas meja sebelah gelas jus.
Rio mengambilnya dan membuka layar ponsel tampak wajah Weni. "Sangat jelek!" ia mengomentari foto tersebut.
Ia pun berdiri dan mengejar Weni yang kebetulan belum jauh melangkah.
Weni menyadari ada yang mengikutinya membalikkan tubuhnya. "Kenapa mengikutiku?"
"Aku tidak mengikutimu, tapi mau mengembalikan ini!" Menyodorkan sebuah ponsel.
Weni meraihnya dengan kasar. "Kau sengaja 'ya mengambil ponselku," tuduhnya.
"Lebih baik aku tadi tidak mengembalikannya padamu," ujar Rio.
Weni tanpa berkata, membalikkan badannya dan kembali melangkah.
Rio masih mengejarnya. "Kau pulang naik kendaraan apa?"
"Bukan urusanmu!" jawab Weni ketus.
__ADS_1