
Dengan berurai air mata, Marsha membersihkan kamar suaminya. Hampir setengah jam ia membereskan ruangan tersebut.
Selesai membersihkan kamar, ia turun dan berjalan ke dapur mencari makanan namun tidak ada sama sekali. Suaminya juga tak terlihat.
Dengan memakai uangnya sendiri, ia keluar rumah mencari warung nasi terdekat. Beruntung, ia menemukan warung yang hanya berjarak 50 meter dari kediaman suaminya.
"Bu, tolong bungkus seporsi nasi dengan lauk telur, ya!" pintanya pada penjual nasi.
"Baik, Non. Sebentar, ya!" penjual nasi mulai membungkus pesanan setelah itu ia menyerahkannya kepada Marsha dan menyebutkan nominal harga makanannya.
"Ini uangnya, Bu. Terima kasih!" Marsha pun kembali ke rumah dengan menenteng bungkusan nasi.
Sesampainya di rumah ia mulai menyantapnya begitu lahap, sesekali air matanya menetes. Mengingat begitu bodohnya dia menerima lamaran pria yang tidak mencintainya.
Baru selesai makan dan hendak pergi ke kamar, Marsha mendengar suara orang yang lagi tertawa dari pintu. Ia lantas melihatnya ternyata suaminya bersama seorang wanita asyik bercanda.
"Dia siapa Bara?" tanya wanita itu.
"Dia wanita yang kemarin aku nikahi," Bara membelai lembut pipi wanita yang bukan istrinya itu.
"Kamu jahat, Bara. Kenapa bukan aku yang dinikahi?" rengek wanita itu.
"Aku siap melepaskan suamiku, jika kau mau!" sahut Marsha. Kemudian ia pergi ke kamarnya.
Bara menarik sudut bibirnya melihat ekspresi wajah Marsha yang marah.
Dengan menutup pintu kasar, Marsha menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Kalau dia sudah memiliki kekasih kenapa harus menikahi aku?" omelnya.
"Kau pulanglah, aku sudah membelanjakanmu," perintah Bara.
"Tapi, aku ingin berduaan denganmu!" ujar wanita yang bernama Miranda manja.
"Kau tahu aku sudah menikah, tidak mungkin kita selalu berduaan begini. Pergilah, jangan membuatku marah," ucap Bara dengan nada dingin.
"Baiklah, terima kasih sudah bawa aku belanja," Miranda tersenyum menggoda.
"Ya," Bara menjawab tanpa menatapnya.
-
-
Suara ketukan pintu berulang kali dan kua terdengar dari luar kamar Marsha. Ia bergegas membukanya, tampak suaminya berdiri dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ada perlu apa?" tanyanya ketus.
Bara mencengkeram kuat lengan istrinya lalu menarik keluar kamar menuju dapur kemudian melepaskannya secara kasar. "Masak buat makan malam ku!" perintahnya dengan dingin.
"Jika kau ingin makan malam, tidak perlu memaksaku dengan cara kasar seperti ini," Marsha menatap suaminya.
Bara membuang wajahnya, "Jangan membantah, kerjakan saja yang ku suruh!"
Marsha membuka isi plastik yang terdapat berbagai macam barang belanjaan kebutuhan dapur. Ia mulai mengiris bawang dan cabai.
Sejam kemudian masakannya selesai lalu ia menghidangkannya di meja.
Bara yang sudah berada di meja makan, mulai mengambil lauk dan aneka sayuran buatan istrinya.
"Apa aku boleh makan bersamamu?" pinta Marsha.
"Tidak, kau hanya boleh makan ketika aku selesai."
Marsha hanya mengangguk pasrah.
-
Hampir 30 menit, Bara berada di meja makan dan selama itu pula Marsha berdiri.
Bara beranjak meninggalkan meja makan, dengan cepat Marsha mengambil lauk dan sayuran sisa. Ia begitu lahap memakannya.
Ia menghubungi kedua orang tuanya melalui sambungan video. "Apa kabar, Ma, Pa?"
"Baik, Nak. Bagaimana kabarmu dan suamimu?" tanya Mira.
"Baik, Ma, Pa."
"Kamu itu di mana? Kenapa kamarmu kelihatan kecil?" tanya Mira lagi.
"Oh, ini kamar pelayan, Ma." Jawab Marsha berbohong.
"Kenapa kamu bisa di kamar pelayan?" Candra bertanya.
"Kebetulan pelayan hari ini cuti sehari, jadi aku menumpang telepon di sini," Marsha kembali berbohong. "Mas Bara sedang mengerjakan tugas kantor di kamar, aku takut mengganggu pekerjaannya, Pa." Lanjut Marsha menjelaskan sebelum orang tuanya bertanya lagi.
"Ya, sudah. Kalian baik-baik, ya di sana!" doa Mira pada anak dan menantunya.
"Titip salam pada suamimu," ucap Candra.
__ADS_1
"Iya, Pa. Nanti aku akan sampaikan, yang penting Mama dan Papa sehat-sehat di sana. Ku merindukan kalian!" Marsha memaksakan tersenyum walau hatinya menangis.
"Mama dan Papa juga merindukanmu," Mira tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Setelah menutup teleponnya, Marsha menghapus air matanya yang mulai menetes. Ia tak mau memberi tahu yang sebenarnya, karena tidak ingin kedua orang tuanya kepikiran tentangnya dan merasa bersalah telah menikahkan dirinya dengan Bara.
"Marsha!" teriak Bara memanggil.
Dengan langkah terburu-buru, ia menghampirinya. "Ada apa, Mas?"
"Tunggu, kau bilang aku Mas?"
"Ya."
"Ya, sudah. Tidak masalah," ucap Bara.
Marsha tersenyum lega mendengarnya.
"Aku ingin sate yang ada diujung jalan itu, pergi dan belikan untukku!" perintahnya.
Marsha melihat jarum jam dinding menunjukkan pukul hampir 10 malam.
"Kenapa? Kau tidak mau?"
"Baiklah, aku akan membelinya," jawab Marsha.
Bara menyodorkan uang selembar berwarna biru. "Beli satu saja, kau sudah makan 'kan?"
"Ya, Mas." Marsha pun keluar membeli sate yang diminta suaminya.
Langit tampak memerah, suara menggelegar terdengar dari atas. Marsha berusaha memberanikan diri berjalan di jalan yang sunyi dengan angin berhembus cukup kencang.
Marsha mempercepat langkahnya, agar tiba di warung sate. Sesampainya di sana, ia lantas memesan pesanan suaminya.
Rintik hujan mulai membasahi jalanan, Marsha melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia bersyukur ketika sampai rumah air dari langit turun dengan deras.
Masih dengan baju yang basah terkena rintikan air hujan. Ia menyajikannya kepada suaminya. "Ini satenya, Mas!"
Bara melihat sekilas pakaian dan rambut Marsha yang kelihatan sedikit basah. "Buatkan aku teh hangat!"
"Baik, Mas." Marsha segera ke dapur membuat teh tanpa mengganti pakaiannya.
Ia berjalan cepat ke kamar suaminya, lalu meletakkannya di nakas.
__ADS_1
"Sekarang kau bisa tidur!"
"Terima kasih, Mas." Marsha pun kembali ke kamarnya dan bisa tidur dengan nyenyak.