Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Hari Bahagia (2)


__ADS_3

Setelah memandikan dan memberikan ASI kepada bayi mungilnya. Marsha dan suaminya pergi ke acara pernikahan sahabatnya.


Weni kini bersiap akan menjadi seorang istri dari Rio Rahardi. Pria usil yang awal mereka bertemu selalu mengejar sahabatnya berstatus istri orang lain.


Pertengkaran kecil dan perdebatan itulah yang membuat Rio jatuh hati pada calon istrinya itu. Diantara para mantan kekasihnya, memang bukan wanita dari kalangan atas. Tapi ketulusannya dapat ia lihat sikap dan sorotan matanya. Ia begitu penasaran dengan sahabat Marsha yang selalu ketus, cuek dan cerewet padanya.


Kini Rio duduk di depan Ayah dari Weni. Meraih tangan calon mertuanya ia mengucap janji pernikahan secara lantang dan berani.


Ketika para hadirin mengatakan sah dan berdoa bersama. Tangis kebahagiaan menetes di pipi pria paruh baya itu, dia harus melepaskan putri bungsunya.


Weni berjalan dengan gaun yang cukup merepotkannya menghampiri suaminya yang berdiri tersenyum kepadanya. Jantungnya berdetak kencang, saat pria itu meraih tangannya. Tepukan gemuruh saat Rio menyematkan cincin pernikahan dijemari manisnya.


Para tamu undangan pun memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin. Termasuk Marsha dan suaminya.


Begitu sahabatnya pulang, Weni memperhatikan suaminya yang selalu memandangi wajahnya. "Kenapa melihatku saja? Apa ada yang aneh?"


"Ada. Kau sangat aneh hari ini," jawab Rio.


Weni menjadi bingung dan gelagapan, "Apa wajahku terlihat aneh di rias seperti ini, ya?"


Rio menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa yang aneh?" Weni menatap bingung.


"Kau sangat cantik dengan pakaian ini," jawabnya.


"Lalu di mana letak anehnya?"


"Aneh aja, kau tidak pernah seperti ini tapi kelihatan cantik."


"Bilang saja kau ingin memujiku secara langsung dan tak perlu memakai kata aneh," Weni mendengus.


"Aku takut kau besar kepala jika ku puji," Rio berbicara sambil melihat ke arah tamu yang hadir.


"Kau sangat menyebalkan!" Weni memanyunkan bibirnya.


-


Rio membantu istrinya berjalan memasuki kamar pengantin yang disulap tampak indah.


"Jadi sekarang kita tidur berdua?" tanya Weni.


"Menurutmu suami istri tidur terpisah?"


Weni tersenyum nyengir.


"Sini biar ku bantu membuka gaunmu," ucap Rio.


Weni tampak gugup saat suaminya menyentuh kulitnya.


"Aku tidak sabar ingin menerkam dirimu," Rio berbisik mesra di telinga istrinya.


Weni membalikkan tubuhnya hingga keningnya menabrak bibir suaminya.


"Apa kau sudah siap?" Rio tersenyum kepada istrinya.


Tubuh Weni gemetaran.


Perlahan jemari Rio membelai lembut wajah istrinya, menundukkan kepalanya menyentuh bibir ranum Weni dan menyesapnya cukup lama.


Dengan sigap ia membuka gaun yang dikenakan istrinya lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang, menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya.

__ADS_1


Weni akhirnya menikmati permainan yang dilakukan suaminya, walau ia sempat menolaknya.


...----------------...


Sejak Marsha melahirkan kedua orang tuanya dan mertuanya rajin mengunjunginya. Paling tidak seminggu 2 kali.


Mira menyempatkan membuat makanan kesukaan putrinya walaupun Marsha hidupnya sekarang telah dilayani oleh beberapa pelayan.


Dengan senyum bahagia, Mira menggendong cucunya. Sedangkan Chandra mengobrol dengan kedua besannya.


"Lihatlah Mama Laras dan Mama Mira saling rebutan, bagaimana kalau kita buat satu lagi?" Bara berbicara pelan di telinga istrinya.


"Putri kita masih dua bulan, terlalu kecil untuk memiliki adik lagi," jawab Marsha.


"Justru itu biar ada temannya," Bara memberi alasan.


"Nanti ku pikirkan lagi, Mas." Marsha tersenyum pada suaminya.


"Jangan lama-lama berpikirnya," Bara mengingatkan istrinya itu.


"Iya, suamiku cerewet!"


-


-


Nia sedang menyiapkan makan siang buat suaminya, Robin memeluk perut istrinya meletakkan dagunya di bahu.


"Mas, aku sedang memasak. Jangan seperti ini," ucapnya.


"Aku ingin berlama-lama seperti ini, sangat menyenangkan," Robin mengecup pipi istrinya.


"Biarkan saja mereka melihat kemesraan kita, sayang."


"Oh, ya Mas. Kapan kita ke rumah Kak Bara? Aku belum bertemu dengan bayi mereka," ucap Nia.


"Bagaimana nanti sore kita ke sana?"


"Aku mau, Mas." Nia menjawab dengan semangat.


"Kalau begitu cepatlah masaknya, aku sudah lapar," ujar Robin.


"Bagaimana aku bisa cepat masak, kalau Mas masih memelukku begini?"


Robin melepaskan pelukannya lalu mengecup bibir istrinya. "Jangan lama, ya!" ia tersenyum.


"Siap, Mas!" Nia mengacungkan dua jempol tangannya.


-


-


Sesuai janjinya, Nia dan suaminya mengunjungi kediaman Bara.


Marsha yang melihat kehadiran tamunya tersenyum senang. Tak lupa keduanya saling berpelukan melepaskan rindu.


Robin dan Bara hanya saling pandang lalu tersenyum tipis.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Marsha pada adik iparnya.


"Baik, Kak. Kalian sehat, kan?"

__ADS_1


"Iya, Nia."


"Lucunya putri kalian," Nia tersenyum gemes.


Marsha hanya tersenyum.


"Seandainya waktu itu bayiku bisa selamat, mungkin saat ini aku sedang berjuang melahirkan," ujar Nia sedih.


"Yakinlah dan percaya, dibalik musibah yang kalian dapatkan ada hikmah yang segera kalian gapai," ucap Marsha menguatkan adik iparnya.


"Benar, Kak." Nia tersenyum.


Sementara itu dua pria duduk berdua di ruang tamu hingga akhirnya Bara bersuara, "Keponakan aku pergi selamanya karena kesalahanmu kalau tidak adikku pasti akan bahagia."


"Semua juga karena kesalahanmu kakak ipar, ku terpaksa menikahi adikmu karena perbuatan masa lalu dirimu," ujar Robin.


"Sekarang adikku sudah menderita karena kematian anaknya, kenapa kau masih mempertahankannya?" Bara tersenyum menyeringai.


"Karena aku kasihan saja padanya, ku merasa bersalah telah membuatnya begitu. Jadi, jangan kakak ipar pikir ku mencintai adikmu," jawabnya.


Bara mengeraskan rahangnya, rasanya ia ingin memukul adik iparnya itu.


Nia berdiri terdiam mendengar percakapan antara suami dan kakaknya. "Apa kalian sudah selesai mengobrolnya?"


Robin dan Bara mengarahkan pandangannya ke arah Nia dengan wajah terkejut.


"Mas, ayo kita pulang!" ajak Nia memaksakan tersenyum.


"Ayo," Robin berdiri tak lupa ia berpamitan pada Bara dan istrinya.


Di dalam mobil Nia memilih diam, suaminya terus memperhatikannya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Robin.


"Tidak, Mas." Jawabnya ketus.


"Terus kenapa diam saja?"


"Lagi malas bicara."


"Lain waktu lagi kita akan main ke rumah Kak Marsha, sekarang kita mau ke mana? Apa ingin ke rumah orang tuamu?"


"Pulang ke rumah saja, Mas. Aku mau beristirahat," jawabnya.


"Baiklah," ucap Robin.


Begitu sampai rumah Nia berjalan ke dalam melakukan aktivitasnya sebagai seorang istri tanpa berbicara sama sekali. Hal itu membuat Robin bertanya-tanya.


Makan malam biasanya Nia akan mengoceh namun hari ini lebih banyak diam dan hanya bicara sekedarnya saja.


"Nia, apa kamu sakit?" tanya Robin.


Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Setelah pulang dari rumah Kak Marsha, kamu lebih sering diam. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Tidak ada," Nia meraih gelas berisi air putih dan meminumnya. "Aku mau tidur, Mas!" ia lalu memundurkan kursinya dan meninggalkan meja makan.


Robin pun menyusul istrinya ke kamar. "Kenapa sikapmu seperti ini? Apa yang kamu sembunyikan?"


"Harusnya aku yang bertanya padamu, Mas anggap aku apa saat ini?" Nia menatap wajah suaminya.

__ADS_1


__ADS_2