
Arum berpamitan pulang kepada kakaknya, setelah dua jam mengobrol.
"Rum, kamu hati-hati, ya!" nasehat Nia.
"Iya, Kak."
"Bagaimana kalau kakak yang mengantar kamu?" tawar Robin.
"Tidak usah, Kak. Aku bisa sendiri," ucap Arum.
"Jika ada sesuatu yang mencurigakan segera hubungi Kakak," ujar Robin.
"Baik, Kak!" keduanya pun berpelukan.
Arum pun pergi meninggalkan rumah mengendarai mobilnya seorang diri, dari balik ke spion ia melihat seorang pengendara motor mengikutinya.
Arum berusaha tetap tenang, ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Motor yang mengikutinya kini berada disebelah mobilnya, pengendara tersebut mengetuk kaca jendelanya.
Arum membunyikan klakson berulang kali dan menambah kecepatan mobilnya lebih kencang. Setelah itu ia meminggirkan kendaraannya. Karena mendapatkan perhatian dari beberapa pengendara yang lainnya, pria itu pun berlalu.
Arum mencoba mengatur nafasnya, agar tidak panik. Setelah dirasakan aman ia pun melanjutkan perjalanannya.
Begitu sampai rumah, salah satu pelayannya memberikan sesuatu. "Nona, ada kiriman paket untuk anda?"
"Dari siapa?"
"Tidak ada nama pengirimnya," jawabnya.
"Ya sudah, terima kasih!" ucap Arum, lalu pelayan tersebut pun pergi.
Ia berjalan ke kamarnya, membawa paket dan membukanya. Dengan cepat ia mencampakkan kotak itu, matanya mendelik, keringatan mulai bercucuran. Ia pun berteriak beberapa pelayan menghampirinya.
"Ada apa, Nona?" tanya salah satu pekerja di rumahnya.
"Buang itu!" perintahnya.
Pelayan yang mendapatkan perintah nampak terkejut, ia memberanikan memungut boneka yang tidak utuh namun penuh darah.
"Pastikan seluruh paket yang datang, tanyakan siapa pengirimnya. Dan jangan sampai kejadian ini terulang lagi!" ucapnya kepada seluruh pekerjanya.
"Baik, Nona!" jawab pelayan serentak.
"Kalian boleh pergi!" titah Arum dan para pelayan membubarkan diri.
Arum mondar-mandir di kamarnya, ia ingin menghubungi kakaknya namun diurungkan karena akan jadi beban pikiran pria itu.
"Siapa yang sudah berani main-main denganku?"
-
Tia hendak pergi menggunakan mobil sendiri dengan cepat Key menghampirinya dan mengambil kunci dari putri atasannya itu.
Tia tampak terkejut, "Kembalikan kuncinya!"
"Nona, mau ke mana? Biar saya antar!"
"Aku mau pergi ke rumah teman."
"Nona, saya disuruh Tuan Handoko untuk menemani anda ke manapun," jelasnya.
"Tapi, ku tak mau selalu diikuti seperti ini," keluh Tia.
"Nona, kita kemarin baru saja di teror. Tuan besar tidak ingin terjadi apa-apa dengan anda," jelas Key lagi.
"Tapi aku bisa jaga diri, kau tidak perlu ikut!" Tia tetap bersikeras.
"Saya tetap akan mengantar anda," Key lantas masuk ke dalam mobil. "Ayo Nona!" ajaknya.
Dengan mendengus kesal, akhirnya Tia menuruti ucapan bawahan papanya.
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Key sebelum menghidupkan mesin.
__ADS_1
"Ke rumah temanku yang kemarin juga," jawabnya.
"Baik, Nona!" mobil pun melesat ke rumah teman Tia.
Hingga sampai tak ada halangan apapun.
...----------------...
Nia pun pergi ke kantor ditemani suaminya. Karena teror beberapa hari ini membuat rasa khawatir pria yang menikahinya setahun lalu sangat besar.
"Sayang, jika ada orang yang memberikan kamu sesuatu, jangan diterima," nasehat Robin.
"Bagaimana kalau sesuatu dari penggemarku, Mas?"
"Memangnya kamu artis," jawab Robin.
Nia pun tersenyum.
"Jika ada yang mencurigakan seperti pengirim paket tanpa nama lebih baik jangan diterima," ujarnya.
"Siap, suamiku."
"Setelah dari sini, aku mau ke rumah Arum. Ku khawatir padanya, takutnya peneror itu mengincarnya. Walaupun sama sekali tidak ada laporan darinya."
Nia mengangguk mengiyakan.
Robin mengantar istrinya ke kantor, lalu lanjut ke rumah adiknya. Begitu sampai, Arum tidak berada di tempat. "Di mana Nona?"
"Nona Arum lagi ada urusan di luar, Tuan."
"Apa kemarin ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Robin.
"Tidak ada, Tuan." Jawab pelayan berbohong.
"Apa kalian tahu dia pergi ke mana?"
"Nona tidak memberi tahu, Tuan."
"Aku mau bertemu dengan klien, Kak."
"Kamu baik-baik saja, kan?"
"Aku baik-baik, Kakak tenang saja."
"Kakak khawatir padamu," ujar Robin dari kejauhan.
"Aku bisa jaga diri, Kak. Jangan terlalu mengkhawatirkan ku."
"Arum, kamu di sini adalah tanggung jawab Kakak. Apa perlu dikirimkan pengawal?"
"Tidak perlu, Kak."
"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu jika merasa terancam beri tahu Kakak dan asisten Mama," ujar Robin.
"Baik, Kak."
Robin menutup teleponnya lalu ia pergi ke kantornya.
-
Arum terus melihat ponselnya, sudah sejam di menunggu calon rekan kerjanya. Tak lama kemudian pria dengan tinggi 180 cm, ditaksir usianya 28 tahun.
"Maaf membuat anda menunggu, Nona!" sapanya.
"Tidak masalah, Tuan." Arum tersenyum.
Keduanya saling mengobrol membahas kerja sama. Pria itu terus menatap Arum yang sibuk menjelaskan.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Arum.
"Saya setuju saja," jawabnya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau anda sudah cukup jelas dengan penjelasan yang saya berikan," ujar Arum kembali tersenyum.
Pria itu membalasnya dengan senyuman juga.
"Kalau begitu, saya duluan," pamit Arum.
"Kenapa buru-buru, Nona? Apa anda tidak ingin makan siang bersama?"
"Tidak, Tuan. Ada urusan lagi, jadi harus ke sana," jawab Arum.
"Baiklah, semoga lain waktu kita makan bersama."
"Ya, Tuan." Arum pun pamit pergi.
Pria itu kemudian menelepon seseorang, "Target sudah keluar!" ia lalu menutup teleponnya.
-
Arum meninggalkan restoran, ia melanjutkan perjalanannya ke kantor mamanya. Sebuah mobil berhenti tepat di depannya, ia pun mendadak menghentikan laju. "Mengganggu saja!" gerutunya.
Beberapa orang pria turun, Arum bergegas menelepon asisten mamanya. Para pria mulai mendekati mobilnya dan mengetuk kaca dengan kuat.
Arum menekan klakson berulang kali, ia lalu memundurkan mobilnya dengan cepat memutar kemudinya kemudian kabur.
Sepanjang jalan ia terus mengklakson, berusaha tetap santai ia menghentikan kendaraannya di keramaian kemudian turun.
Mobil yang mengikutinya pun berhenti.
Arum lalu berteriak meminta tolong, beberapa warga mulai mendekat.
"Ada apa, Nona?"
"Pria yang di dalam mobil itu ingin menculikku, mereka mengikuti ku sampai di sini," tunjuknya ke arah mobil yang hendak bergerak.
"Ayo kita hajar mereka!" ucap salah satu warga.
"Lihat, kan. Mereka kabur!" Arum menunjuk mobil yang sudah pergi.
"Lebih baik anda segera melaporkan ini kepada pihak berwajib," saran dari salah satu warga.
"Iya, Pak. Nanti saya akan melaporkannya, terima kasih atas bantuannya," ucap Arum.
"Sama-sama, Nona." Warga pun meninggalkan tempat.
Anak buah pengawal Mama Carla, akhirnya tiba. "Maafkan kami datang terlambat, Nona!"
"Tidak masalah, sekarang temani saya ke kantor. Dan segera lacak plat nomor ini!" Arum menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
"Baik, Nona!"
Sementara itu di lain tempat seorang pria memarahi anak buahnya. "Mengurus dia saja kalian tidak bisa!" bentaknya.
"Wanita itu sangat cerdas, Tuan."
"Aku membayar kalian mahal, membasmi kelinci kecil seperti dia saja tak mampu. Pakai pikiran agar mudah menculiknya!"
"Bagaimana kalau kita menculik istri Tuan Robin saja, Tuan?"
"Jangan, ini tak ada hubungannya dengan putri Handoko Kartajaya. Aku hanya bermasalah dengan Robin Alonso," jawabnya. "Jika aku menculik istrinya Bara akan ikut campur," lanjutnya.
"Kami ada usul, Tuan." Ujar salah satu anak buahnya.
"Apa?"
"Bagaimana kalau Tuan mendekati Nona Arum dan menjadikannya kekasih?"
Pria itu kemudian tampak berpikir sejenak, lalu ia bicara. "Baiklah, aku terima usulannya. Tapi, gaji kalian ku potong!"
"Kenapa di potong, Tuan?"
"Karena sekarang aku yang bekerja bukan kalian!"
__ADS_1