Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Target Teror


__ADS_3

Tepat pukul 4 sore, Handoko beserta keluarganya bersiap meninggalkan kediaman suami dari putrinya. Mereka saling berpelukan sebelum pulang dan memberikan hadiah.


Nia tersenyum senang mendapatkan hadiah begitu banyak. Tak hanya dari keluarganya para asisten rumah tangganya dan pelayan rumah kedua orang tuanya juga turut memberikan kado.


"Ya, ampun. Terima kasih, banyak!" Nia sampai menangis haru.


"Semoga Nona Nia selalu bahagia!" ujar para pelayan.


"Terima kasih, atas doanya!" ucapnya.


"Sayang, kami pamit pulang!" Laras mendekap erat putrinya.


"Iya, Ma." Nia tersenyum hangat.


Nia dan suaminya mengantar para tamu ke halaman rumah.


"Pa, jadi ke rumah kami?" Bara bertanya pada Handoko.


"Jadi, sekarang kami ke sana," jawab Handoko.


"Kita satu mobil saja dengan Bara, Pa." Laras memberikan usulan.


"Boleh juga," Handoko menerima saran dari istrinya itu.


"Kalau begitu, ayo!" ajak Bara.


"Aku dengan siapa, Pa?" tanya Tia.


"Kamu dengan Key saja," jawab Handoko.


"Memangnya aku tidak bisa satu mobil dengan kalian?" tanyanya lagi.


"Mobil Kakak sudah penuh, lagian kamu bilang tadi mau ke rumah temanmu. Biar Key saja yang mengantarnya," ujar Bara.


"Iya, tidak mungkin kami berdua," ucap Tia.


"Memangnya kenapa? Kamu dengan Pak Ridwan diantar ke mana-mana juga berdua," ungkap Laras.


"Ya, tapi ini beda," ujar Tia.


"Jelas beda, Ma. Kalau dengan Pak Ridwan tidak pakai hati dengan Key pakai...." Nia menghentikan ucapannya setelah adiknya itu mengacungkan jari manis di bibirnya.


"Baiklah, aku akan pulang bersama Key." Tia lantas berjalan ke mobil di mana asisten papanya itu berdiri.


Keluarga yang lainnya tersenyum melihat tingkah putri bungsu Handoko itu.


Key membukakan pintu belakang dan mempersilakan putri atasannya itu masuk. Ia lalu menundukkan kepalanya dari kejauhan berpamitan pada Nia dan suaminya.


Setelah rombongan keluarga Bara berserta para asisten rumah tangga meninggalkan kediaman Nia, baru mobil Key menyusul di belakangnya.


Diperjalanan pulang, Tia hanya dia menatap jalanan dari kaca jendela mobil.


"Kata Tuan, anda mau ke rumah seorang teman. Di mana alamatnya?" tanya Key sambil melirik kaca spion dalam.


"Jalan Galaksi nomor 7 C," jawabnya ketus.


"Baik, Nona." Key mengendarai mobilnya ke alamat yang dituju.


Begitu sampai, Key ingin turun dari mobil namun Tia melarangnya.


"Kau pulang saja, nanti baru jemput aku!"


"Saya akan tetap di sini sampai Nona pulang," ucap Key.


"Baiklah, tapi kau tunggu di mobil!"


Key mengangguk paham.


Tia pun turun dari mobil berlari-lari kecil mendatangi rumah temannya itu.


Hampir dua jam Key menunggu di mobil. Ketika melihat Tia ia bergegas turun lalu membukakan pintu untuknya.


"Dia siapamu?" bisik temannya sebelum Tia masuk mobil.


"Pengawal papaku."


"Tampan sekali!" pujinya.


"Biasa saja!" sahut Tia ketus.


"Kenalkan aku dengannya," bisiknya lagi.

__ADS_1


"Ayo kita pulang, Nona!" ajak Key.


Teman Tia melambaikan tangannya kepada Key sambil tersenyum dan pria itu hanya membalasnya dengan sedikit menunduk.


Tia bergegas masuk ke mobil lalu berpamitan pada temannya itu.


Mobil melaju di jalanan, "Kita mau ke mana lagi?" tanya Key.


"Ke rumah!"


"Baik, Nona."


Ditengah perjalanan, mobil yang dikemudikan Key dilempar dua pengendara motor melemparkan sesuatu. Pria itu pun terpaksa menghentikan lajunya.


Dua orang pria yang melakukannya tancap gas meninggalkan sasarannya.


"Siapa mereka?" Tampak raut wajah gadis itu.


"Saya juga tidak tahu, Nona." Key hendak turun namun dicegah Tia.


"Jangan turun!"


"Saya ingin melihat saja, Nona."


"Bagaimana kalau mereka kembali lagi dan menyerangmu?"


"Nona, tenang saja!" jawab Key dan ia pun keluar kaca samping dan depan mobil tampak pecahan telur. Lalu ia kembali masuk. "Mereka melemparkan telur-telur busuk," ujarnya.


"Kenapa mereka menyerang kita? Apa Papa mempunyai musuh?" tanya Tia.


"Saya tidak tahu, Nona."


"Kau ini bagaimana, sih? Pengawal papa tapi tidak tahu apa-apa," gerutu Tia.


"Maafkan saya, Nona."


"Sudahlah cepat kita pulang, aku takut mereka kembali datang," titahnya.


"Baik, Nona."


Sementara itu Handoko bergegas pulang dari rumah putranya karena mendapatkan kabar dari Tia kalau mobilnya dilempari telur.


Marsha yang mendengar adik iparnya mendapatkan teror mulai panik.


Kabar mobil Key dan Tia diserang sampai juga di telinga Robin dan istrinya.


"Mas, mobil yang dibawa Key adalah milikmu. Apa ini ada hubungannya denganmu?" tanya Nia.


"Mungkin juga, mereka pikir kalau aku berada di dalamnya."


"Apa kau memiliki musuh atau masalah utang piutang?" tanya Nia lagi.


"Sepertinya tidak ada, sayang."


"Tia tidak mungkin memiliki musuh apalagi dia masih sekolah belum tahu apa-apa. Apa seseorang itu memiliki dendam sama Mas, Kak Bara atau papa?"


"Aku akan menyelidikinya, ku harap kita harus berhati-hati juga. Bisa saja mereka menyerang kita," jawab Robin.


"Ya, Mas."


-


Begitu sampai rumahnya, Laras berlari berteriak memanggil putrinya setelah melihatnya ia segera memeluknya. "Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Tidak, Ma. Cuma aku sangat takut," jawabnya.


"Kamu tenang, ya. Selama berpergian, Mama akan menyuruh pengawal atau Key untuk mengawalmu," ujar Laras.


Tia mengangguk paham.


Handoko mencecar Key dengan berbagai pertanyaan.


"Siapa tujuan mereka sebenarnya?"


"Saya rasa target mereka adalah Tuan Robin, karena mobil yang kami pakai adalah miliknya," tebak Key.


"Bisa jadi."


"Robin dan Nia harus waspada," ujar Handoko.


"Benar, Tuan."

__ADS_1


...----------------...


Arum adiknya Robin, siang ini pergi ke sebuah toko ponsel. Sesampainya di sana ia dilayani seorang pria.


Setelah bernegosiasi harga dan bertanya tentang kelebihan produk, akhirnya ia membawa satu buah telepon genggam dari merek terkenal.


Ia berjalan ke parkiran, tanpa disadarinya sebuah motor melaju kencang dengan sengaja menabrak tubuhnya membuat wanita itu jatuh.


Mark yang melihatnya bergegas berlari dan membantu Arum berdiri. "Anda tidak apa-apa, Nona?"


"Saya tidak apa-apa, terima kasih!"


"Anda yakin bisa sendiri menyetir?"


"Ya, saya bisa. Sekali lagi terima kasih," ucapnya. Arum melihat bahu jalan dengan mobilnya cukup jauh. Padahal jalanan tidak terlalu macet. Pikiran buruk terus menghantuinya.


"Nona!" panggil Mark.


"Ya."


"Anda baik-baik saja, kan?"


"Ya, Tuan." Arum pun pergi meninggalkan toko ponsel.


Mobilnya melesat ke rumah kakak kandungnya.


Robin kebetulan duduk di teras berdiri melihat kedatangan adiknya.


"Hai, Kak!" sapanya.


"Arum!" Robin balas menyapa.


"Maaf, kemarin tidak bisa hadir di ulang tahun Kak Nia," jelasnya.


"Tidak apa-apa, bagaimana kabar Mama?" tanya Robin.


"Dia sehat, cuma belum bisa kembali ke sini," jawabnya.


"Ya, kakak bisa maklumi," ujar Robin.


"Ini buat Kak Nia," Arum menyodorkan bingkisan berisi ponsel.


Robin melihat siku tangan Arum sedikit berdarah, "Kenapa ini?"


Arum segera melihat siku tangannya, "Aku tadi jatuh, Kak. Ada pengendara motor yang tak hati-hati."


"Dia sengaja atau tidak?"


"Aku tidak tahu, Kak." Jawab Arum. "Tapi sangat aneh, padahal aku parkir di wilayah toko. Jalanan tidak macet, kurasa dia sengaja," tuduhnya.


"Kemarin mobil kami yang dikemudikan pengawal Papa Handoko juga di lempari telur. Apa ini saling berkaitan?"


"Maksudnya Kakak ada orang yang sengaja melakukan teror ini?"


"Ya."


"Tapi, siapa?" tanya Arum.


Robin menaikan kedua bahunya.


...****************...


Hai semua...


Sambil menunggu update, kalian bisa mampir ke karyaku yang lainnya...


-Penculik Hati


-Dijodohkan Dengan Musuh


-Salah Jatuh Cinta


-Melupakan Sang Mantan


-Mengejar Cinta si Tampan


-Calon Istriku Musuhku


-Jangan Mengejarku, Cantik!


Selamat Membaca 🌹

__ADS_1


__ADS_2