Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Miranda Berbuat Ulah


__ADS_3

Bara melihat punggung istrinya memasuki rumah. "Ingat tujuan awal menikahi dia, Bara!"


Ia pun mengikuti langkah istrinya, "Buatkan aku teh lagi!"


Tanpa menjawab Marsha menyiapkan teh yang diinginkan suaminya. Lalu menyajikannya di meja makan. Setelah itu ia kembali ke kamar.


Bara yang sudah rapi, menikmati teh buatan istrinya.


Melihat Marsha ke dapur, Bara lantas berkata, "Nanti akan ada kurir yang mengantarkan bahan dapur."


Marsha hanya diam.


"Kau mendengar aku tidak?" sentaknya.


Marsha menyipitkan matanya menatap suaminya.


"Jangan melihatku seperti itu!" hardiknya.


Marsha segera membuang wajahnya.


"Wajah galak dan sombong masih melekat padamu sampai sekarang, ya!" sindirnya.


"Segitunya Mas memperhatikan diriku dari dahulu, apa sebenarnya dirimu masih mencintaiku? Tapi sulit untuk mengungkapkannya?" Marsha menarik kursi lalu menatap lekat suaminya.


Bara tak bisa berkata-kata, hatinya kecil mengatakan semua ucapan istrinya itu benar.


"Kenapa tidak menjawab, Mas?" desak Marsha. "Aku tahu dirimu menyimpan kebaikan," ujarnya.


Bara tersenyum sinis, "Percaya diri sekali!"


Marsha tersenyum tipis, ia memundurkan kursinya dan hendak pergi.


"Mau ke mana?"


"Aku tidak akan ke mana-mana, jadi Mas tak perlu khawatir dengan ku!"


"Duduklah, aku ingin bicara padamu!"


"Apa yang ingin Mas bicarakan? Bukankah tadi kita sudah bicara?"


"Marsha, duduk!" perintahnya dengan suara keras.


Marsha akhirnya kembali duduk.


"Maaf!" Bara berucap sembari menyesap teh. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, "Ponsel buatmu!"


Marsha menatap heran.


"Nomormu teleponmu tidak ku ganti cuma ponselmu ku ganti dengan yang baru. Semoga kau suka," ujarnya.

__ADS_1


"Kenapa harus diganti? Ponsel itu aku beli dari hasil bekerja tiga tahun yang lalu," tutur Marsha.


"Ponselmu sangat jelek, jadi ku menggantinya."


"Tidak seharusnya Mas mengganti ponselku, aku tidak mau berutang budi."


"Karena kau adalah istriku!"


"Lalu, bagaimana dengan Miranda?"


"Aku akan memutuskannya," jawabnya ceplos.


"Kenapa? Bukankah kalian saling mencintai?"


"Kau banyak bicara, ya!"


"Apa Mas tidak memiliki dendam lagi padaku?" Marsha menatap mata suaminya.


Bara membuang wajahnya karena tidak ingin bertatapan dengan istrinya.


"Maafkan aku!" ucap Marsha lirih. "Ku memperlakukan dirimu sangat buruk karena terpaksa," ia berkata memberikan alasan tanpa di minta.


Bara menatap wajah sendu istrinya.


"Aku berkata kasar, bahkan mengurung karena tidak ingin Rio memperlakukan dirimu lebih parah dari itu. Mas, tahu bagaimana temanmu itu membuat remaja yang menyukaiku babak belur? Aku tidak mau itu terjadi padamu, akhirnya aku mengambil alih rasa kesalnya. Ku tak mau Mas terluka karena mencintaiku," Marsha meneteskan air matanya.


"Tapi, saat ini aku benar-benar membencimu namun tak bisa menjauhimu," ujar Bara.


Suara ketukan pintu menghentikan obrolan keduanya.


"Biar aku yang membukanya," Marsha dengan cepat menghapus air matanya. Lalu ia berjalan ke arah pintu.


Miranda tersenyum melihat Marsha, "Ada Bara?"


"Ada. Silahkan masuk!" Marsha mempersilakan tamunya. "Aku akan memanggil Mas Bara, tunggulah sebentar!" ia berjalan mencari suaminya.


Marsha muncul bersama Bara. Miranda lantas berlari dan memeluk pria itu.


"Apa yang kau lakukan?" Bara mendorong tubuh kekasihnya.


"Bara, kau harus bertanggung jawab!" Miranda menangis.


"Kau bicara apa?" Bara menatap heran.


"Aku hamil, Bara!" jawab Miranda terisak.


Seketika keduanya terkejut.


"Jangan bercanda, Miranda!" sentak Bara.

__ADS_1


"Aku serius, Bara!" teriaknya.


"Mas, harus bertanggung jawab!" ujar Marsha.


"Marsha, ini tidak benar. Aku tidak pernah melakukannya dengannya," ungkap Bara.


"Bukankah kalian sendiri yang mengatakan kalau sering tidur bersama?" tanya Marsha.


"Aku berbohong, Marsha. Miranda hanya menumpang tidur, tidak lebih. Tolong, percaya padaku!" mohon Bara.


"Mas saja tidak percaya dengan alasan yang ku berikan, jadi untuk apa aku percaya dengan ucapanmu," ujar Marsha.


Rasanya hati Bara sesak, istrinya tidak percaya dengan ucapannya


"Miranda, aku siap melepaskan suamiku untukmu!" ujar Marsha.


"Memang seharusnya kau melepaskan dia, karena kami saling mencintai," ungkap Miranda tersenyum menang.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Marsha!" Bara berkata tegas.


"Aku tidak mau di dalam rumah tangga ada dua orang ratu di hatimu!" ucap Marsha.


"Sampai kapanpun aku tidak akan melepasmu!" ucap Bara lagi.


"Aku tidak peduli kau mau melepaskan dia atau tidak, tapi yang penting kau harus bertanggung jawab, Bara!" ujar Miranda.


"Aku tidak akan menikahinya," Bara menatap istrinya.


"Mas, dirimu sangat egois!" teriak Marsha lantang.


Bara menarik paksa lengan Miranda lalu mendorongnya keluar rumah. "Aku tidak akan menikahimu!"


"Aku akan memberi tahu keluargamu!" ancam Miranda.


"Aku tidak takut, jika kau berani berbohong. Ku tak akan segan menghancurkan dirmu!" Bara membanting pintu dengan kasar.


"Mas, dia lagi hamil. Apa kamu tidak kasihan dengan calon bayi kalian?" Marsha tampak khawatir.


Bara menarik tangan istrinya lalu membawanya ke kamarnya dan mendorongnya ke ranjang m


"Mas, kamu mau apa?"


"Aku tidak pernah melakukan itu dengannya, jadi ku ingin melakukannya denganmu!" Bara tersenyum menyeringai.


Marsha berusaha bangkit dari ranjang dan mencoba kabur. Namun, tangan suaminya menariknya dengan paksa lalu menindihnya.


"Mas, bukankah kamu membenciku? Tolong, jangan lakukan itu!" mata Marsha berkaca-kaca.


"Kau hanya milikku, tidak ada pria manapun yang bisa memilikimu!"

__ADS_1


__ADS_2