Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Gagal Memberitahu Robin


__ADS_3

Rio dan Weni menikmati waktu berdua sembari belanja perlengkapan bayi. Ya, kini usia kandungannya menginjak 7 bulan.


Lagi asyik memilih pakaian untuk calon buah hatinya, pandangan Rio tertuju pada seorang pria yang baru saja keluar dari toko perlengkapan bayi.


"Sayang, kamu tunggu di sini!" ucapnya pada Weni.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku ingin menemui pria itu," jawab Rio.


"Oh, baiklah."


Rio berjalan cepat menemui pria yang hendak menaiki mobil. "Akhirnya kita jumpa di sini!"


"Kau!" wajah pria tampak ketakutan.


Rio menarik kerah bajunya, "Kembalikan uangku!"


Radit memegang tangan Rio sambil tersenyum, "Aku akan mengembalikannya!"


"Kapan?" bertanya dengan nada tinggi.


"Setelah aku menikah, ku akan mengganti seluruh uangmu!"


"Tapi, kenapa kau selalu kabur ketika aku menagihnya?"


"Kemarin aku tidak memiliki uang," jawab Radit.


Rio melepaskan cengkeramannya. "Aku pegang janjimu, jika berani berbohong kau akan tahu akibatnya!"


"Aku janji," Radit tersenyum.


"Wanita kaya mana lagi yang kau incar?" Rio menatap sinis.


"Kau tak perlu tahu," jawabnya, Radit kemudian berlalu.


Setelah Radit pergi, Rio kembali menghampiri istrinya.


"Siapa pria itu?" tanya Weni penasaran.


"Mantan kekasih Marsha."


"Kalian saling mengenal?" kembali bertanya.


"Ya, awalnya ku tahu kalau dia kekasih Marsha. Namun, saat kami bekerja sama membuka restoran aku baru tahu."


"Lalu? Sekarang kalian masih bekerja sama?"


"Tidak, dia membawa kabur uangku. Dan dia juga meninggalkan Marsha saat perusahaan kedua orang tuanya bangkrut."


"Jahat sekali dia!" geram Weni. "Apa dia sudah membayar utangmu?" lanjut bertanya.


"Belum, dia akan menggantinya kalau sudah menikah dengan wanita kaya," jawab Rio.


"Wanita kaya mana lagi yang dimanfaatkannya?"


"Aku juga tidak tahu." Rio menaikkan kedua bahunya.


-


-


Kediaman Bara


Marsha duduk di ruang keluarga memegang ponselnya, sesekali matanya tertuju pada putri kecilnya yang mulai aktif. Disampingnya suaminya sedang bekerja menggunakan laptop.


Matanya menyipit saat melihat foto pria yang ada disebelah Arum kiriman adik iparnya. "Sayang, jadi ini calon suaminya?"


"Calon suami siapa?" tanya Bara.


"Arum, adik iparnya Nia," Marsha menunjukkan foto kepada suaminya.


Bara cukup terkejut melihatnya, "Kenapa dengan pria itu?"


"Kita harus beri tahu Nia, Mas. Aku takut kalau Radit hanya memanfaatkan Arum saja," ujar Marsha.


"Aku akan menelepon Nia agar dia ke sini," Bara lalu meraih ponselnya yang ada di meja depannya kemudian meneleponnya.


Marsha disebelahnya mendengar percakapan suaminya dan adik iparnya.

__ADS_1


"Ada apa, Kak?" tanya Nia dari kejauhan.


"Bisakah kamu ke sini? Kak Marsha rindu padamu begitu juga Malia," jawab Bara.


"Baiklah, sebentar lagi ku akan ke sana!" Nia pun mengakhiri teleponnya begitu juga dengan Bara.


"Bagaimana, Mas?"


"Sebentar lagi dia akan ke sini," jawab Bara.


Sementara itu Silvia dan Leo menjalankan rencananya keduanya pergi bersama, dari kejauhan mereka memantau kediaman Arum.


"Kenapa kita tidak ke kantornya saja, Nona?"


"Kau mau kalau Kak Galvin tahu," jawab Silvia.


"Memangnya kenapa dengan Tuan Galvin?"


"Mereka memiliki hubungan kerja sama walau tak sering ketemu, ku yakin pasti Kak Galvin juga sedang mengikuti Arum."


"Sampai kapan kita di sini?"


"Kau sangat berisik, lebih baik kita tunggu di sini saja," Silvia membuka tutup botol air mineral dan meminumnya.


Hampir 30 menit keduanya berada di dalam mobil, sampai Silvia tertidur.


"Nona, bangunlah. Sepertinya ada mobil yang masuk ke dalam rumah Nona Arum," ujar Leo.


Silvia mengambil teropong lalu mengarahkannya ke arah mobil yang menjadi tujuan. "Aku seperti mengenal mobil itu!"


"Di mana?" tanya Leo.


Silvia berusaha mengingatnya.


"Apa Nona sudah ingat?"


"Aku lupa," jawab Silvia dengan senyuman nyengir.


Leo mendengus kesal.


"Coba kau jalankan mobilnya pelan ke arah sana, ku akan melihatnya dari dekat," titahnya.


Leo pun mengendarai mobilnya dengan perlahan.


"Nona, anda baik-baik saja 'kan?"


"Cepat pulang!" perintahnya tanpa menatap Leo.


"Baiklah!" mobil pun berlalu.


Sepanjang jalan Silvia terus menghapus sudut matanya.


"Nona, apa yang terjadi?" Leo tampak khawatir.


"Tidak apa-apa," jawab Silvia dengan cepat.


"Sekarang kita mau ke mana?"


"Ke kantor Robin."


"Anda tidak boleh ke sana!"


"Leo, ini sangat penting!" Silvia berkata lantang.


"Sepenting apa, Nona? Saya harus tahu!"


"Calon suami Arum itu pria yang menghamiliku!"


Leo mendadak mengerem karena terkejut mendengar pernyataan adik dari atasannya itu. "Anda tidak berkata bohong, kan?"


"Aku serius, Leo!"


"Apa Nona punya bukti?" tanya Leo.


"Aku belum memiliki bukti, tapi ku berkata jujur."


"Apa kita harus memberitahu Tuan?"


"Jangan sekarang!"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kita akan ke kantor Tuan Robin," ujar Leo.


Begitu sampai tujuan, Silvia turun dan Leo menunggu di dalam mobil.


Seorang penjaga keamanan menghampirinya, "Nona cari siapa?"


"Tuan Robin Alonso."


"Kalau saya boleh tahu siapa nama anda?"


"Silvia Rosa."


"Tunggu di sini sebentar!" pria itu pergi ke dalam meminta izin kepada sekretaris Robin.


Hampir 10 menit menunggu akhirnya penjaga keamanan itu menghampiri kembali Silvia. "Tuan Robin tidak ingin bertemu dengan anda!"


"Tapi ini sangat penting!"


"Dia tidak ingin bertemu dengan anda, maafkan saya!"


Silvia berusaha menerobos pintu masuk, namun tangannya ditarik tanpa sengaja pria itu mendorong tubuh dirinya hingga hampir terjatuh kalau tidak ditahan Leo.


"Apa kalian tidak bisa memperlakukan wanita hamil dengan baik?" Leo tampak marah.


"Maaf, Tuan. Tapi Nona ini memaksa masuk," jawabnya.


"Lebih baik kita pulang saja, Nona!"


"Leo, dia harus tahu yang sebenarnya," Silvia tetap bersikeras.


"Kita cari cara lain, Nona!" ucap Leo dan akhirnya wanita itu menyetujuinya. Keduanya pun pergi meninggalkan kantor Robin.


-


-


Sore harinya, Nia tiba di kediaman kakaknya. Dengan membawa mainan untuk keponakannya ia berjalan riang memasuki rumah mewah itu.


"Hai keponakan, Tante!" sapanya sambil mencium pipi balita yang kini berusia 13 bulan.


"Hai, Nia!" sahut Marsha tersenyum.


"Di mana Kak Bara?"


"Sedang di ruang televisi, Kakak ingin bicara denganmu. Mari!" ajaknya ke tempat di mana Bara berada.


Nia pun mengikuti, lalu duduk di hadapan kakak kandungnya. "Ada apa, Kak?"


"Nia, kapan tanggal pernikahan Arum?" tanya Bara.


"Dua minggu lagi, tapi Arum minta tidak ingin ada pesta besar cukup hanya keluarga inti dan terdekat saja yang hadir."


"Lebih baik, Arum membatalkan pernikahannya," ujar Bara.


"Kenapa, Kak?"


"Calon suami Arum adalah mantan kekasih Marsha, ia pria yang licik. Ketika sang wanita jatuh, dia akan meninggalkannya," jelas Bara.


"Benar itu, Kakak ipar?" tanya Nia.


"Ya," jawab Marsha. "Lebih baik tidak dilanjutkan, karena bisa saja dia akan melakukan hal yang sama," lanjutnya.


"Arum sempat menolak perjodohan ini, tapi Mama Carla dan Mas Robin memaksanya dengan alasan sudah lama mengenal ketika mereka tinggal di luar negeri," ungkap Nia.


"Jika Arum sudah menolak, harusnya ini tak terjadi," ujar Marsha.


"Nanti aku akan bicara kepada Mas Robin," ucap Nia.


"Ya, kamu memang harus bicara sebelum pernikahan terlaksana," ujar Marsha.


-


Nia hanya mampir di rumah Bara selama 1 jam saja, setelah itu ia kembali ke rumahnya. Ia berusaha mencari waktu yang tepat untuk berbicara pada suaminya.


Makan malam adalah waktunya yang pas untuk mengungkapkan semuanya.


"Mas, apa kamu yakin dengan calon suaminya Arum?"


"Ya, memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Radit bukan pria yang baik," jawab Nia.


Robin seketika menghentikan laju sendoknya kemudian meletakkannya di piring lalu menatap istrinya. "Maksudmu apa?"


__ADS_2