
Galvin meninggalkan rumah sakit ketika orang kepercayaannya mengabarkan kalau Silvia berniat bunuh diri. Ya, wanita itu kini dalam pengawasan beberapa anak buahnya. Ia ingin mencecar adiknya dengan berbagai pertanyaan sebelum diserahkan ke pihak berwajib.
"Di mana dia?" Galvin bertanya pada orang kepercayaannya ketika sampai rumah.
"Di kamar, Tuan." Jawabnya. "Nona Silvia berusaha melompat dari balkon, Tuan." Lanjutnya menjelaskan.
Galvin membuka kamar, Silvia tampak terduduk dengan lutut di peluk. "Apa dengan kamu mati, bisa membuat Arum kembali seperti semula?"
"Kakak sudah tak menyayangiku!" Silvia berkata dengan pandangan kosong.
"Kamu yang mulai mencari masalah, Silvia!"
"Aku begini juga karena lelaki itu, Kak!" menatap Galvin. "Dia meninggalkan aku dan memilih wanita lain," jelasnya.
"Bukankah kamu sendiri yang meninggalkan ketika dia bangkrut?"
"Pasti wanita itu sudah mengatakannya," tebak Silvia.
"Ya."
"Kakak percaya dia?"
"Ya."
"Ingat, Kak Galvin. Kakak seperti ini karena campur tangan kedua orang tuaku. Mereka membiayai sekolah dan memberikan modal usaha, kalau tidak Kak Galvin hanya seorang gelandangan!"
Galvin mengepalkan tangannya ia berusaha tetap menahan emosinya kalau bukan janjinya kepada kedua orang tua angkatnya sudah dari dulu dia mencampakkan Silvia. "Aku akan mengganti seluruh biaya yang dikeluarkan orang tuamu!" berkata dengan tegas.
Silvia menarik sudut bibirnya.
"Bersiaplah menangis di penjara!" ucap Galvin.
"Aku tidak mau di penjara," Silvia jongkok dan memeluk kaki kakak angkatnya.
"Kamu harus mempertanggung jawabkan semua, Silvia. Kamu telah melukai wanita yang ku cinta!" Galvin berkata tanpa menatap adiknya.
"Aku tidak sengaja, Kak. Ku hanya ingin melukai istri Robin tapi dia menghalanginya," jelas Silvia menangis.
"Tetap perbuatanmu salah!" sentak Galvin.
"Aku minta maaf, Kak."
"Terlambat, Silvia. Dia sedang mempertaruhkan nyawanya," ucap Galvin.
"Kak, ku mohon jangan tahan aku!"
"Bawa dia sekarang juga!" perintah Galvin pada anak buahnya.
"Kak, aku tak mau di tahan!" Silvia berteriak memohon.
"Baik, Tuan!" Dua orang pria menarik tangan wanita itu dan membawanya ke mobil.
"Tinggalkan aku sendiri!" ucapnya kepada beberapa orang anak buahnya yang masih di kamar.
"Baik, Tuan!" mereka pun meninggalkan Galvin seorang diri.
Galvin menjatuhkan tubuhnya di ujung ranjang dan menangis. "Maafkan aku, Pa, Ma," ucapnya lirih. Ia gagal menjaga dan menjadikan Silvia wanita baik.
...----------------...
Arum sudah melewati masa kritis dan kini ia berada di ruangan rawat inap. Namun, tak semua orang bisa mengunjunginya.
__ADS_1
Mama Carla pun telah tiba tadi pagi, wanita paruh baya itu menangis di samping tubuh putrinya yang masih lemah. Ia juga menyalahkan Robin karena telah membuat Arum menjadi korban.
Galvin dilarang masuk, karena dia adalah orang lain. Namun, ia selalu mengirimkan bunga dan buah-buahan.
Nia berada di rumah orang tuanya, Robin sengaja menitipkan istrinya itu di sana takut kalau orang-orang yang ingin menjatuhkannya muncul dan menyerang mereka.
Nia selalu menelepon suaminya untuk menanyakan kabar Arum. Sedangkan Bara dan Marsha berusaha menyempatkan waktunya untuk menjenguk adiknya Robin sekedar menguatkan Carla.
Silvia kini berada di balik jeruji, baru seharian di dalam tapi tubuhnya sudah tampak kurus karena ia sama sekali tak makan.
Hal itu juga membuat Galvin kasihan, namun ia harus bersikap tegas agar adiknya bisa berubah.
Siang ini Robin mendatangi kantor Galvin. Setelah mendapatkan izin bertemu ia bergegas masuk ke ruangan kerja pemimpin Armani Grup.
Galvin lantas berdiri melihat kedatangan kakak kandung dari Arum.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Robin tanpa basa-basi.
"Saya tidak mengerti dengan pertanyaan anda!"
"Ada hubungan apa kau dengan Silvia?" Robin menarik kerah baju Galvin.
"Robin, tenanglah!"Galvin berusaha melepaskan cengkraman kakak kandung Arum.
"Bagaimana aku bisa tenang, adikku sedang tak sadarkan diri?" Robin bertanya dengan lantang.
"Aku akan jelaskan semuanya!"
Robin melepaskan genggamannya.
"Aku, kakak angkat Silvia. Keluarganya mengangkatku ketika ku baru lahir. Orang tuaku tak memiliki biaya untuk merawatku karena ibuku sakit-sakitan namun ketika usiaku empat tahun ku dikembalikan, semua biaya hidupku di tanggung orang tua Silvia. Ku berutang budi pada keluarganya."
"Ya."
Robin melayangkan pukulan di wajah Galvin membuat pria itu hampir terjatuh.
"Maaf!" Galvin berucap lirih.
"Kau sengaja mendekati adikku untuk balas dendam?" tanya Robin.
"Ya," jawabnya. "Ku melakukan itu karena Silvia, aku ingin membahagiakan dia karena dia tanggung jawabku," jelasnya.
Robin tersenyum sinis, "Tapi sekarang apa yang telah dilakukan adik kesayanganmu itu? Arum harus terbaring di rumah sakit karena kau!"
"Silvia kini sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya, aku sudah menyerahkannya kepada pihak berwajib."
"Kau memang seharusnya melakukan itu," ujar Robin. "Tapi kau juga bertanggung jawab atas kejadian ini," lanjutnya.
"Aku akan menebus kesalahanku, apa yang kau inginkan?" tanya Galvin.
"Kau harus menjauhi adikku!" Robin menekankan kata-katanya.
"Aku tidak bisa menjauhinya, ku mencintainya."
"Aku tak merestui hubungan kalian, jika menikah ku takut kau akan menyakitinya," ucap Robin.
"Aku berjanji tidak akan melakukannya," Galvin menatap penuh harap.
"Kau tetap harus menjauhi, Arum!" berkata tegas.
"Baiklah, aku akan menjauhinya tapi kau harus mencabut laporan atas Silvia," Galvin memberikan pilihan.
__ADS_1
"Tidak akan!"
"Aku menyerahkan Silvia karena ku mencintai Arum."
"Aku tetap tidak setuju," ucap Robin.
"Aku akan tetap mendekati Arum."
"Baiklah, aku akan meringankan hukuman untuknya tapi kau dan Silvia harus berjanji untuk menjauhi keluargaku."
"Aku janji," ucap Galvin.
...----------------...
Arum akhirnya sadar, ia mengedarkan pandangannya sekelilingnya. Tampak Mama Carla, Robin dan istrinya tersenyum padanya.
Carla memeluk putrinya, "Arum!" sembari menangis.
"Mama!" ucapnya lirih.
Arum mencoba bangun namun perutnya terasa perih ia meringis kesakitan.
"Lebih baik kamu tidur saja!" Robin berkata lembut.
"Kak Nia tidak apa-apa, kan?" tanya Arum.
"Tidak," Nia tersenyum. "Terima kasih sudah menolongku," lanjutnya berucap.
"Sama-sama, Kak." Arum berusaha tersenyum.
"Ma, Nia, aku ingin bicara berdua dengan Arum. Apa kalian bisa meninggalkan kami?" Robin meminta izin.
"Ya, kami akan keluar," jawab Carla. "Ayo Nia!" ajaknya.
"Ya, Ma." Nia mengikuti langkah mertuanya.
"Kakak ingin bicara apa?" tanya Arum dengan suara pelan.
"Silvia adik angkatnya Galvin dan kini wanita itu telah ditahan," ungkap Robin.
"Kakak tidak salah?"
"Galvin sendiri yang menjelaskannya."
"Kenapa dia membohongiku?" tanyanya lirih.
"Dia ingin balas dendam padaku melalui kamu," jawab Robin.
Hati Arum seketika sakit, padahal sangat jelas di matanya kalau Galvin mengorbankan diri untuk membantunya, saat ia terluka pria itu tampak sangat panik dan menangis.
"Kakak akan membebaskan Silvia," ujar Robin.
"Kenapa kakak membebaskan dia?"
"Galvin memintanya dengan syarat dia akan menjauhimu," jawab Robin.
"Bukan Kakak yang meminta Galvin menjauhiku, kan?"
"Kakak yang minta untuk menjauhimu, namun dia menolaknya. Galvin memberikan pilihan akan jauh darimu tapi dengan syarat membebaskan Silvia."
Arum tampak diam, "Sebenarnya dia serius atau tidak denganku."
__ADS_1