
Nia pulang sehabis berlari dengan keringat bercucuran, begitu sampai rumah ia pergi ke dapur mengambil air putih dan membasahi tenggorokannya.
Dia lalu pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan berpakaian layaknya orang yang akan bekerja.
Robin memperhatikan istrinya dengan penampilan berbeda. "Mau ke mana dengan pakaian seperti ini?"
"Aku akan bekerja di kantor Papa."
"Siapa yang menyuruhmu bekerja? Aku masih bisa memberikan kamu uang," ujar Robin.
"Iya, aku tahu. Tapi ku tak mau terus menerus dikasihani kamu, Mas. Ku ingin cari penghasilan sendiri, sekaligus menghilangkan rasa sedihku," ungkap Nia.
"Terserah kamu!" Robin meraih kunci dan pergi.
Nia mencoba bersabar dan menahan air matanya, ia mengambil kunci motornya dengan kendaraan roda dua itu ia pergi ke kantor.
Sementara itu, Robin sangat kesal dengan sikap istrinya yang begitu ketus. "Kenapa dia seperti itu, ku merasa jengkel? Seharusnya aku bersikap biasa saja," Ia berkata-kata pada dirinya sendiri.
Begitu sampai kantor, Robin masih kepikiran dengan kata-kata istrinya mencari penghasilan sendiri dan menghilangkan rasa sedih. "Di mana-mana, kalau di beri uang berlebih itu senang. Astaga Robin, kenapa Nia berubah ku merasa rindu," ia mengacak rambutnya.
-
Robin sengaja lebih awal pulang, ia ingin tahu ke mana saja istrinya setelah pulang bekerja.
Nia tiba di rumah diantar seorang pria menaiki mobil, dengan tersenyum bahagia wanita itu melambaikan tangan kepada pengemudi yang wajahnya terlihat dari kaca jendela.
Begitu mobil berlalu, Nia melangkahkan kakinya ke arah rumahnya. Robin sudah berdiri di depan pintu masuk.
Tetap masuk tanpa cium tangan yang biasanya istrinya lakukan, Robin pun menyusulnya. "Ini alasanmu ke kantor hanya untuk bertemu para pria," ujar Robin.
"Aku bekerja di kantor dan hampir rata-rata pekerjanya adalah para pria, lagian dia cuma temanku yang membantuku saat motor yang ku gunakan mogok," jelas Nia.
"Cuma teman tapi ekspresi wajahmu menunjukkan kamu menyukainya," kata Robin.
"Memangnya kenapa kalau dia menyukaiku?"
"Ya, tidak apa-apa. Tapi dirimu sekarang masih istriku," jawab Robin tergagap.
"Lepaskan aku agar bisa pria lain menyukaiku!"
"Tidak bisa, Nia."
"Kenapa, Mas?"
"Karena ku tak mungkin melepaskanmu."
"Apa alasan Mas tidak bisa melepaskan aku?"
"Karena aku tidak memiliki alasan itu."
Nia tertawa kecil menarik sudut bibirnya, "Membenci seseorang pasti ada alasannya, apalagi mencintai."
"Aku berkata jujur padamu, entah mengapa ku tak bisa melepasmu!"
"Sangat aneh sekali, pikiran dan hatimu tak berfungsi," Nia memilih keluar kamar.
...----------------...
Nia berangkat lebih pagi sebelum suaminya ke kantor. Menikmati roti sepotong dan segelas teh ia pun pergi.
Robin baru saja keluar kamar menyapa istrinya tapi tak ada balasan sapaan. "Aku akan mengantarmu ke kantor," tawarnya.
"Tidak perlu, Mas. Ku bisa naik taksi," ucap Nia tanpa menatap. Ia merapikan pakaiannya dan riasan wajahnya di cermin yang berada di tengah ruangan.
__ADS_1
"Apa tidak bisa pakaianmu jangan terlalu ketat seperti ini?" Robin memprotes yang dikenakan istrinya rok di atas lutut dan kemeja ketat.
"Karyawan tempatmu bekerja seperti ini juga pakaiannya. Kenapa Mas tidak protes?"
"Nanti aku akan merubah peraturan di perusahaan," jawab Robin.
"Mas ubah atau tidak juga bukan urusanku," Nia kemudian berlari berjalan ke arah taksi.
-
-
Sore ini Robin sengaja menjemput istrinya ke kantor. Dia turun dari mobil sebelum wanita itu memesan taksi atau menumpang kendaraan temannya.
Robin memasuki gedung yang sebelumnya ia pernah datangi. Ia berdiri di depan pintu sambil sesekali melihat karyawan yang berlalu lalang.
Nia berjalan sambil bercanda dengan seorang pria yang sama saat mengantarnya pulang.
Robin mengepalkan tangannya menatap geram melihat istrinya bersenda gurau dengan pria lain.
Nia terkejut melihat kedatangan suaminya ke kantornya. "Mas, kenapa ke sini?"
"Aku mau menjemputmu," jawab Robin.
"Aku bisa pulang sendiri, Mas."
"Karena aku sudah menjemputmu, ayo kita pulang!" ajak Robin melirik pria di samping istrinya.
"Baiklah, Mas!" ujar Nia, ia lalu mengarahkan pandangannya ke arah teman kerja prianya. "Aku duluan, ya!" pamitnya.
"Ya, Nia!" pria tersebut tersenyum membuat Robin ingin memukulnya.
Robin berjalan lebih dahulu daripada istrinya.
"Kami satu kerjaan pasti saling mengobrol bukan hanya dengannya saja," jawab Nia.
"Aku tidak suka kamu dekat-dekat seperti itu!"
"Memangnya kenapa, Mas? Cemburu?" Nia menatap suaminya.
"Iya."
"Kalau memang mencintaiku katakan saja, jangan pakai alasan kasihan," tutur Nia.
Robin membelokkan mobilnya ke arah toko bunga.
"Mau apa ke sini, Mas?" tanya Nia.
"Tunggu di sini, aku akan membelikan bunga untuk kekasihku," jawab Robin.
Nia mendengus kesal, suaminya menyebut kata kekasih. "Kalau memang mencintai wanita lain, kenapa masih mempertahankan rumah tangga ini?" gerutunya. "Mas Robin, memang sangat menyebalkan!" omelnya.
Tak sampai 5 menit, Robin kembali ke mobil. Lalu ia menyerahkan bunga yang baru saja dibelinya kepada Nia. "Pegang sebentar, jangan sampai rusak!"
Nia menatap kesal.
"Temani aku ke restoran, ku mau mengatakan cinta kepadanya," ucap Robin.
"Mas, mau menembak wanita lain di depan aku!"
"Iya, biar kamu tahu kalau aku mencintainya."
"Baiklah kalau memang begitu."
__ADS_1
Robin melajukan kendaraannya ke sebuah restoran mewah. Begitu sampai ia membukakan pintu untuk istrinya.
Nia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Aku mohon, jangan membuat keributan saat ku mengungkapkan perasaan ini," ujar Robin.
Nia mengangguk pasrah.
Robin melangkah bersama dengan istrinya memasuki restoran, ia menarik kursi untuk wanita itu. Minuman dan makanan sudah tersedia di meja.
"Di mana kekasihmu?" tanya Nia.
"Sebentar lagi dia datang, ku berharap kamu menjaga hatimu agar tetap kuat," harap Robin.
"Mas, tenang saja aku akan berusaha tetap kuat karena terlalu sering diri ini disakiti olehmu!" Nia mengungkapkan isi hatinya.
Robin tersenyum, "Setelah aku mengungkapkan perasaan ini kepadanya. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Kita akan berpisah," jawab Nia berusaha tegar.
"Sebenarnya aku tidak ingin berpisah denganmu, tapi jika memang kamu yang menginginkannya harus bagaimana lagi," ujar Robin.
"Apa kekasihmu masih lama?"
"Sebentar lagi dia datang, tunggulah."
"Aku mau mengambil motor di bengkel, Mas."
"Aku sudah menyuruh orang untuk mengambilnya," ujar Robin.
"Kenapa Mas tidak bilang?"
"Ku belum sempat memberi tahu kamu."
"Terima kasih kalau begitu," Nia tersenyum terpaksa.
Robin mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. "Aku sudah menyiapkan ini untuknya, maaf kalau kita dulu menikah tidak ada lamaran romantis seperti ini."
"Tidak masalah, penting saat ini aku bisa lepas dari kamu, Mas!"
"Benarkah? Apa kamu tidak mencintaiku, Nia?"
"Aku sangat mencintaimu, Mas. Tapi hatimu bukan untukku," air mata Nia jatuh lolos begitu saja.
Robin mendorong pelan kotak cincin itu dihadapan istrinya, "Bukalah!"
"Kenapa aku yang buka? Bukankah ini untuk kekasihmu?"
"Ku mohon, bukalah!" pinta Robin.
Nia perlahan membuka kotak cincin itu.
"Itu buat kamu!" ucap Robin.
Nia menatap heran suaminya, "Untukku?"
"Ya, ini untuk kekasihku yaitu kamu!" jelas Robin.
Nia menutup mulutnya tak percaya. "Mas, tidak membohongiku 'kan?"
"Aku mencintaimu, istriku. Dan bunga ini untukmu!" Robin menyerahkan sebuket mawar.
Nia tak dapat menahan air mata kebahagiannya, "Terima kasih!"
__ADS_1