
Marsha terbangun karena mendengar suara ketukan pintu yang begitu kuat, dengan cepat ia membukanya. Tampak suaminya berdiri mengeraskan rahangnya.
"Kau di sini bukan untuk tidur saja!" bentaknya.
"Maaf, aku sangat lelah. Jadinya bangunnya kesiangan," Marsha melihat jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi.
"Alasan saja!" sentaknya. "Cepat buatkan aku sarapan!" titahnya.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Marsha segera ke dapur setelah mencuci wajahnya.
"Marsha, bisakah kau lebih cepat!" teriaknya dari meja makan.
"Iya, sebentar!" Marsha membawa secangkir teh panas penuh hati-hati.
"Buat begini saja, lama sekali!" bentaknya.
"Ini sangat panas, jadi aku harus hati-hati," jelas Marsha.
"Kalau masih panas, bagaimana bisa aku meminumnya?" Bara melemparkan cangkir tersebut di samping kaki Marsha, membuat wanita itu terkejut dan menggeser tubuhnya.
"Bagaimana aku buat jus saja?" tawar Marsha dengan bibir terbata.
"Aku sarapan di kantor saja!" Bara pun pergi.
Marsha menahan air matanya agar tidak terjatuh, ia membersihkan serpihan kaca yang tercecer. Karena kurang hati-hati, jari telunjuknya berdarah ia berlari ke wastafel menyiram jemarinya yang terluka dengan air mengalir setelah itu balut dengan plester luka.
-
-
Malam harinya, tepat pukul 8 malam. Bara pulang melihat rumah gelap. Ia membuka pintu, meraba dinding mencari saklar lampu.
"Ke mana dia?" gumamnya.
Bara mencari Marsha di kamarnya yang juga tampak gelap. Ia mengetuk pintu tapi tak ada sahutan, terdengar olehnya suara derap langkah kaki.
__ADS_1
Bara membalikkan tubuhnya dan mendengar suara tersebut, Marsha kini berdiri di depannya dengan wajah ketakutan. "Dari mana saja kau?"
"Aku tadi bertemu dengan teman-teman ku," Marsha gemetaran.
"Siapa yang memberikanmu izin?" tanyanya dengan lantang.
"Aku tidak tahu nomor ponselmu, lagian juga kau takkan peduli denganku," Marsha memberanikan menjawabnya.
"Mulai hari ini kau tidak boleh keluar rumah tanpa seizin ku!" Bara memberi peringatan.
"Aku bosan di rumah sendiri, bagaimana jika kalau aku bekerja?"
"Tidak boleh, kau hanya boleh di rumah saja!" jawab Bara tegas. "Sekali lagi kau melanggar peraturan dariku, aku tidak akan segan menghukum dirimu dan membuat usaha kedua orang tuamu hancur!" ancamnya.
"Kau mengancamku, apa tujuan dirimu menikahiku?" Marsha memberanikan diri bertanya.
Bara mengeraskan rahangnya, ia menjambak rambut Marsha membuat wanita itu meringis kesakitan. "Aku tidak suka dibantah. Orang tuamu sudah menyerahkan dirimu kepadaku, jadi kau harus menuruti perintahku!" menekankan kata-katanya.
"Mas, sakit!" Marsha tangan suaminya dengan kedua tangannya.
Marsha masih memegang rambutnya yang dijambak suaminya. Dengan mata berkaca-kaca, ia membuat makanan.
Lima belas menit kemudian, Marsha membawa sepiring mie goreng dan segelas jus jeruk ke dalam kamar suaminya. Ia meletakkan di atas nakas.
Baru akan melangkah keluar, Bara muncul dari arah kamar mandi. "Makanan apa yang kau buat?"
"Mie goreng instan," jawab Marsha.
Bara berjalan ke arah nakas, lalu memanggil istrinya dengan jari telunjuk. Marsha berjalan mendekatinya.
"Aku tidak suka, jangan masak makanan yang kau sukai!" menekankan ucapannya.
"Dari mana Mas Bara tahu kalau aku suka dengan mie goreng instan?"
Bara tampak gelagapan, "Ya, aku tahu dari ibumu!" jawabnya berbohong.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas!"
"Cepat masak makanan yang lainnya!" titahnya.
"Baik, Mas!" Marsha kembali ke dapur. Ia memasak nasi goreng buat suaminya, sebenarnya dia tidak tahu makanan kesukaan Bara. Jadi, ia hanya mencoba menebaknya.
Bara sudah menunggu di meja makan, jadi Marsha tak perlu repot mengantar ke kamar.
Nasi goreng siap dihidangkan.
"Bawa mie goreng kau tadi di sini, kita makan bersama!" ajak Bara.
Marsha tersenyum senang mendengar ajakan suaminya makan bareng. Dengan semangat, ia duduk dan menikmati mie goreng yang sudah dingin itu.
Bara memperhatikan Marsha makan seperti orang tak pernah makan berhari-hari.
"Braakk!"
Marsha mendelikkan matanya menatap suaminya. "Kenapa?" tanyanya gugup.
"Kau bisa masak atau tidak?" Bara bertanya lantang.
"Apa nasi gorengnya tidak enak?" Marsha meletakkan sendok dan garpu di atas piring.
Bara melemparkan piring berisi nasi goreng ke sembarang arah, membuat Marsha ketakutan.
"Kalau kau tidak bisa masak, jangan mencoba memasaknya," Bara terus memarahi istrinya.
"Kata temanku dan orang tuaku enak," Marsha berbicara polos.
"Tapi, menurutku tidak enak!" sentaknya.
"Aku akan mengulanginya lagi," Marsha beranjak berdiri.
"Tidak usah, kau masak lagi sangat lama. Aku mau cari makan di luar saja, bereskan ini semua!" Bara menunjuk piring yang pecah di lantai.
__ADS_1
Marsha menganggukan kepalanya mengiyakan.