Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Dia Sekarang Suamiku


__ADS_3

Pagi ini Marsha bangun lebih awal, ia menyiapkan sarapan buat suaminya. Bubur ayam yang resepnya ia dapat dari Mama Mira, tak lupa teh hangat tanpa gula.


Seperti biasa Bara akan duduk di meja makan, sembari memperhatikan istrinya yang sedang membuat sarapan.


"Ini sarapan untukmu, Mas!" Marsha menyodorkan mangkok sedang berisikan bubur ayam.


Bara perlahan menyicipi hidangan yang dibuat istrinya, ia begitu lahap menyantapnya. Marsha yang melihatnya tersenyum senang karena suaminya menyukai masakannya.


Selesai makan tanpa bicara, Bara meninggalkan meja dan berjalan ke arah mobil.


"Mas!" panggil Marsha.


"Ada apa?" tanyanya tanpa menoleh.


"Kita sudah menikah selama empat hari, bolehkah aku meminta uang?"


"Kita baru menikah empat hari, tapi jangan berharap hubungan kita seperti pasangan yang lainnya. Aku tidak akan pernah memberikanmu uang," jawab Bara kemudian ia berlalu.


Sementara itu Marsha masih terdiam dan menatap punggung suaminya memasuki mobil. "Lalu, aku minta uang pada siapa?"


Baru saja menutup pintu, suara bel terdengar dari arah luar. Marsha membuka pintu dan terkejut tamu yang datang ke rumah suaminya adalah Miranda.


"Apa Bara ada di dalam?"


"Baru saja pergi ke kantor."


Tanpa dipersilahkan masuk, Miranda menyelonong begitu saja. "Aku akan menunggu Bara pulang dari kantor di sini!"


"Silahkan!" Marsha tersenyum, ia lalu pergi membereskan dapur.


-

__ADS_1


Miranda datang menghampiri Marsha yang hendak mencuci pakaian di mesin cuci. "Aku haus, bisakah kau membuatkan minuman untukku?"


"Aku akan membuatkannya, tunggulah sebentar!" Marsha pergi ke dapur setelah itu ia membawa dua gelas ke ruang tamu.


"Terima kasih," ucap Miranda melihat segelas air putih dan segelas es teh manis di meja.


"Sama-sama," Marsha kembali melanjutkan pekerjaannya.


-


Sejam kemudian, Miranda kembali menghampirinya. "Aku sangat mengantuk dan akan tidur di kamar Bara," ujarnya.


"Jangan!" larang Marsha.


"Aku sering tidur di kamar dan apartemen milik suamimu. Kenapa kau melarang ku?"


"Dia sekarang suamiku, kau tidak boleh masuk ke dalam kamarnya lagi."


"Kalau memang Mas Bara tidak mencintaiku kenapa dia memilih menikahiku dari pada kau!" Marsha tersenyum menyindir.


Wajah Miranda mendadak berubah, ia menatap kesal Marsha. Ia lalu pergi meninggalkan rumah Bara.


Marsha tersenyum puas menatap Miranda dari kejauhan.


-


-


Bara sampai di rumah sore hari, ia melonggarkan dasinya lalu memanggil istrinya.


Dengan tergopoh-gopoh Marsha menghampirinya. "Ya, Mas!"

__ADS_1


"Kedua orang tuaku mengajak kita makan malam di rumah, jadi bersiaplah!"


"Baik, Mas!"


Malam hari pun tiba, Marsha menggunakan gaun terbaik yang ia miliki. Bara tampak terpaku melihat kecantikan istrinya, ia terpana dengan pesona yang dimiliki wanita itu.


"Ayo, Mas!" ajak Marsha semangat.


"Selama di sana, aku harap kau tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi diantara kita," pinta Bara.


"Tenang saja, Mas. Aku tidak akan menceritakan masalah rumah tanggaku," Marsha berkata santai.


Lima belas menit kemudian, mereka tiba kediaman keluarga Handoko Kartajaya.


Laras dan kedua adik Bara menyambut Marsha begitu hangat.


"Apa kabar, Nak?" sapa Laras memeluk menantunya.


"Baik, Tante!" jawab Marsha tersenyum.


"Panggil Mama," Laras menekankan kata-katanya.


"Iya, Ma."


Kini keenamnya duduk bersama di meja makan, sambil bercanda mereka menikmati hidangan yang tersedia.


"Apa Bara sering pulang malam?" tanya Laras.


Marsha menatap suaminya, lalu menjawab pertanyaan mertuanya. "Tidak, Ma. Mas Bara selalu pulang sebelum jam tujuh malam."


"Kenapa dia berbohong?" Bara melirik istrinya.

__ADS_1


__ADS_2