Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Berakhir Bahagia 3 (end)


__ADS_3

Silvia dan bayinya menikmati udara pagi di taman kecil di samping rumahnya sambil bercanda. Leo datang menghampirinya dan tersenyum.


"Hai, kau mau ke mana?" Silvia memandangi pria yang berpakaian seperti hendak jalan-jalan.


"Saya mau berpamitan pada Nona," jawabnya.


"Pamit? Kau mau ke mana?"


"Saya akan ke Belanda mengurus kantor di sana."


"Kau meninggalkanku sendiri di sini?" Silvia tampak mulai kecewa.


"Saya tidak ada pilihan lagi, Nona. Mungkin ini yang terbaik," jawabnya.


"Aku akan meminta Kak Galvin untuk membatalkan keberangkatanmu," ujar Silvia.


"Jangan, Nona. Saya yang memintanya kepada Tuan Galvin," jelasnya.


Mata Silvia tampak berkaca-kaca.


"Kalau begitu saya pergi, Nona." Leo membalikkan tubuhnya hendak melangkah.


"Apa kau pergi karena aku menolakmu beberapa hari yang lalu?"


Pertanyaan Silvia membuat Leo berhenti kemudian membalikkan badannya menatap wanita itu.


"Apa benar, Leo?"


Leo hanya tersenyum.


"Kau pergi karena aku tidak bisa menerimamu sebagai ayah sambung untuk anakku," ujar Silvia.


"Bukan karena itu, Nona."


"Lalu apa?" Silvia meninggikan suaranya membuat bayi yang digendongnya menangis.


Leo lantas mengambil alih menggendongnya dan terbukti bayi tersebut diam berada di dalam gendongannya.


"Kau lihat dia begitu menyayangimu," ujar Silvia.


Leo menghela nafasnya, lalu mencium pipi mungil bayi lucu itu. Kemudian mengembalikannya kepada ibunya. "Saya harus pergi!" ia kemudian berlalu.


Silvia menatap punggung Leo dari jauh dengan hati terasa sakit entah kenapa ia tak suka kalau berjauhan dengan pria itu.


Silvia juga terlalu egois menginginkan Leo berada di sampingnya namun tak ada ikatan.


Leo memang menerima tawaran yang diberikan Galvin untuknya, hanya itu cara agar ia tak terlalu berharap banyak dengan wanita yang sudah dikenalnya beberapa tahun lalu. Beberapa hari yang lalu, ia sempat mengatakan perasaan kepada wanita itu namun dirinya harus menerima kekecewaan kalau Silvia belum bisa menerima pria dan menikah dalam waktu dekat.


-


-


Sementara itu Tia begitu semangat bangun pagi, ia sengaja mandi lebih awal hanya untuk melihat Key menjemput papanya bekerja.


Laras memperhatikan penampilan putrinya sangat berbeda, lebih rapi dan tampak ceria. Biasanya gadis itu hanya menggunakan piyama tidur dan duduk di depan meja makan tanpa riasan sama sekali.


"Mau ke mana?" tanya Laras.


"Mau jalan-jalan, Ma." Jawabnya lalu pandangannya dialihkan ke arah papanya. "Pa, apa boleh hari ini aku pergi ditemani Key?" pintanya.


Handoko mengangguk mengiyakan.


Tia tersenyum senang.


"Tumben sekali minta Key yang temani, biasanya tak suka dia menemanimu," sindir Laras.


"Mungkin sekarang putri kita sudah tergantung pada Key," ujar Handoko.


"Ma, Pa, bukankah kalian yang bilang kalau mau ke mana-mana dengan Key saja?"


"Ya, Papa pernah bilang," jawab Handoko. "Jangan diperpanjang, pergilah sebelum ia pindah ke luar kota," lanjutnya lagi.


"Terima kasih, Pa." Tia pun bergegas pergi mengakhiri sarapannya.


Tia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Key, tak cukup lama ia akhirnya menemukan pria itu dan mendekatinya.

__ADS_1


"Nona!" Key tersenyum tipis menyapanya.


"Hari ini temani aku jalan-jalan," titahnya.


"Bagaimana setelah mengantarkan Tuan ke kantor?" tawarnya.


"Temani saja dia, Key." Handoko kini berada di belakang keduanya.


"Tapi, Tuan...."


"Saya bisa dengan sopir yang lain," ujar Handoko.


"Baiklah, Tuan."


"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!" ajak Tia penuh semangat.


Key pun berpamitan pada Handoko lalu menuju mobil yang akan di kemudikannya.


Tia duduk di samping kursi pengemudi membuat Key mengernyitkan keningnya menatap heran gadis itu.


"Kenapa?" tanya Tia.


"Nona biasanya duduk di belakang," jawab Key.


"Aku ingin berbicara pada Kakak!"


Key pun mengangguk mengiyakan.


"Antarkan aku di kafe di jalan Matahari," titahnya.


Dalam perjalanan, Tia sesekali mencuri pandang kepada pria yang ada di sampingnya.


"Nona, saya tidak bisa menunggu anda. Ada keperluan lain yang tidak bisa ditinggalkan," Key membuka obrolan.


"Keperluan apa? Padahal aku ingin bicara dengan Kak Key di kafe," Tia menatap pria itu.


Key mendadak menghentikan kendaraannya. "Nona mau bicara apa? Katakan di sini saja," ujarnya.


Tia mendengus kesal.


"Tidak jadi, ayo kita pulang!"


"Nona yakin kita pulang sekarang?" Key bertanya dengan hati-hati.


"Ya," jawabnya ketus, ia lalu membuang wajahnya ke arah jalanan.


"Baiklah," Key pun memutar balik arah kendaraannya.


"Apa Kak Key tidak peka sama sekali?" Tia kembali menatap pria itu.


"Maksudnya, Nona?" Key mengerutkan keningnya.


"Aku menyukaimu!" jawab Tia tanpa sadar.


Key terkekeh.


"Hei, aku serius!" Tia tak suka pria itu meremehkannya.


"Nona, kita berbeda. Jangan bercanda sepagi ini," ucapnya.


"Apa yang berbeda? Kita seiman? Apa yang membuat kita beda?" cecar Tia.


"Nona itu putri Handoko Kartajaya dan saya hanya pengawal pribadinya, jelas kita berbeda. Nona Tia bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari saya," jelas Key.


"Apa Kak Key sudah memiliki calon istri?"


"Ya, aku akan melamarnya segera!"


Mendengar jawaban Key, hati Tia terasa perih. Ia lantas mengarahkan pandangannya ke arah jendela menatap jalanan. Mata mulai berkaca-kaca.


Key melirik gadis di sampingnya seperti menahan tangis. "Maaf!"


Begitu sampai, Tia bergegas turun dan berjalan ke kamarnya.


Laras yang melihat putrinya berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam kamar, ia pun mencoba menghampiri namun pintunya di kunci. Laras lantas menghubungi Key, "Kamu di mana? Jangan pergi, saya ingin bicara denganmu!" ia lalu mematikan panggilan telepon.

__ADS_1


Key yang mendapat telepon dari Laras mengurungkan niatnya untuk pergi, ia pun menunggu istri atasannya itu di ruang tamu.


Laras pun menghampiri pengawal sekaligus sekretaris suaminya.


Key berdiri dan sedikit menunduk kepalanya ketika melihat kedatangan Laras.


"Silahkan duduk!"


Key pun kembali duduk.


"Apa yang terjadi dengan Tia?" tanya Laras.


"Tidak ada apa-apa, Nyonya. Cuma tadi membatalkan pergi ke kafe yang berada di jalan Matahari," jelasnya.


"Tadi saya ingin menghampirinya tapi pintu kamarnya terkunci. Apa tadi dia menerima telepon dari seseorang?"


"Tidak, Nyonya."


"Lalu kenapa dia? Apa ada pembicaraan kalian yang menyinggung perasaannya?"


"Apa aku harus berkata jujur?" Key bertanya dalam hati.


"Key!" Laras memanggil pria itu karena tak menjawab pertanyaannya.


"Maaf, Nyonya."


"Key, kamu belum menjawab pertanyaan saya?"


"Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud membuat Nona Tia sakit hati," jawab Key menundukkan pandangannya.


"Tia sakit hati? Saya tidak mengerti dengan ucapanmu," ujar Laras.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa mengatakannya pada anda," ungkapnya.


"Kenapa? Katakan saja, saya tidak akan marah jika memang Tia melakukan kesalahan," desak Laras.


"Lebih baik Nyonya tanyakan saja pada Nona Laras," saran Key.


"Saya ingin bertanya padamu saja," ujar Laras.


"Nyonya, saya minta maaf tidak bisa menuruti permintaan Nona Tia," ungkap Key.


"Memangnya Tia minta apa?"


"Sekali lagi maafkan saya, Nyonya."


"Key, kamu sudah berapa kali minta maaf. Cepat katakan apa permintaan Tia yang tidak bisa di turuti," ujar.


"Nona Tia ingin saya tetap di sini dan ia mengatakan suka kepada saya," jelas Key.


Laras menarik nafas lalu perlahan ia hembuskan.


"Saya minta maaf, Nyonya. Saya tidak pantas untuknya, makanya saya menolak cintanya. Mohon maafkan saya!" Key berlutut di hadapan Laras dengan pandangan menunduk.


"Key duduklah!" titahnya.


"Jangan pecat saya, Nyonya. Saya akan melakukan apapun termasuk jika anda mengirimkan saya ke luar pulau ini," ujar Key dengan tatapan menunduk.


Laras tertawa mendengar pengakuan anak buah suaminya.


Key masih menunduk dan tidak berani menatap istri atasannya.


"Apa kamu menyukai putriku juga?" tanya Laras.


"Saya tidak berani jatuh cinta kepada putri anda," jawab Key.


"Kenapa?"


"Saya tak pantas bersamanya, Nona Tia berhak mendapatkan yang lebih baik," jawab Key.


"Baiklah, kalau begitu saya akan melaporkan kamu kepada Tuan Handoko atas apa yang telah kamu lakukan kepada putri kami. Silahkan kembali, lanjutkan pekerjaanmu!" Laras bersikap santai.


"Nyonya, tolong jangan pecat saya!" mohon Key.


"Tunggu saja keputusan dari suami saya!" Laras pun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2