
Tepat pukul 6 sore, Robin pulang bersama dengan Silvia dengan membawa beberapa belanjaan. Wanita yang berada di sampingnya itu tersenyum senang.
Namun, seketika senyuman Silvia memudar melihat Nia berdiri di depannya. "Ini adalah rumah mertuaku, jadi aku tidak mengizinkan dia berada di sini!"
"Ini adalah rumah keluargaku, jadi kau tidak berhak mengatur kami," ujar Robin.
"Aku adalah istri sah kamu, jadi ku berhak atas rumah ini dan Mama Carla yang mengizinkan aku di sini," jelas Nia.
"Kau memang istri sah Robin tapi cintanya itu ada aku!" Silvia berkata bangga.
"Oh, ya dia cinta sama kamu. Tapi kenapa aku sampai hamil anaknya?" Nia mengelus perutnya.
"Kau hanya sebagai pemuasnya di ranjang!" Silvia tersenyum menyeringai.
Nia melayangkan tamparan keras ke wajah Silvia.
"Nia, apa yang kau lakukan?" Robin bertanya lantang.
Silvia meringis kesakitan memegang pipinya.
"Kau lebih murah daripada aku!" Nia menunjuk muka Silvia.
Robin mendaratkan tamparan di pipi Nia hingga wanita itu terjatuh seketika istrinya itu menjerit memegang perutnya.
Robin mendelikkan matanya melihat Nia menangis menahan sakit. Ia lalu mendekatinya tampak darah mengalir dari paha istrinya.
"Robin, kita harus bawa dia ke rumah sakit!" ujar Silvia.
Robin mengangkat tubuh Nia ke dalam mobil.
-
Nia kini berada di ruangan gawat darurat. Seorang perawat memanggil Robin.
__ADS_1
"Tuan, bayi yang ada dikandungan Nona Nia tidak bisa diselamatkan," ujar Dokter.
Seketika dunia Robin runtuh, rasanya begitu sakit mendengar bayi yang ditunggu Mama Carla tidak dapat hadir di dunia ini.
"Tapi istri saya tidak apa-apa, kan?" tanya Robin pelan.
"Kami harus segera melakukan tindakan selanjutnya, makanya kami meminta izin kepada anda."
"Lakukan terbaik dan selamatkan istri saya!" mohon Robin lirih.
"Baik, Tuan."
......................
Mama Carla menangis sesenggukan di makam kecil di samping pusara putri bungsunya. Cucunya yang ia harapkan telah pergi.
Robin menatap pusara itu dengan berlinang air mata, begitu juga dengan keluarga besar Nia tak dapat menahan tangis kesedihan.
Robin kembali ke rumah sakit, ia duduk di samping istrinya yang masih terbaring lemah di ranjang. Ia menyeka air matanya yang menetes di pipi.
Robin mengenggam tangan istrinya dan meletakkan di pipinya. Hingga ia tertidur di sisi ranjang.
Gerakan tangan Nia membangunkan Robin, dengan wajah bahagia ia bangkit dan memanggil perawat.
-
Nia memegang perutnya setelah Dokter meninggalkan ruangan, seingatnya ia terjatuh karena di dorong suaminya. "Di mana bayiku?" tanyanya lirih.
"Nia..." Mata Robin sendu ia tak sanggup menjawab.
"Mana dia?" tanyanya sekali lagi.
"Dia sudah pergi," jawab Robin terbata.
__ADS_1
"Kau pasti bohong!" teriaknya.
"Nia..."
"Aku mau berjumpa dengannya," Nia hendak turun tapi Robin mencegahnya.
"Dia sudah dimakamkan tadi malam!"
"Kau berbohong!" teriaknya mendorong Robin. "Anakku tidak mati!" Nia tak percaya berkata lantang.
"Maafkan aku, Nia!" Memeluk tubuh istrinya.
"Lepaskan aku!" Nia terus memberontak.
"Jangan seperti ini!" Tak terasa air mata Robin menetes.
Nia menangis terisak di dada suaminya. "Dia tak mungkin mati!" ucapnya lirih.
Robin tak bisa berkata-kata.
Nia mendongakkan kepalanya lalu memukul dada suaminya. "Sekarang kau sudah puas, kan!" berbicara dengan nada tinggi.
Robin menggelengkan kepalanya.
"Dia sudah tidak ada, bukankah ini yang kau inginkan?" tanyanya lantang.
"Maaf!"
"Sekarang kau bisa meninggalkan aku!" ujar Nia.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Kenapa? Kau sudah membunuh anakku, menghancurkan masa depanku. Membuat keluargaku bersedih, bukankah ini yang kau mau? Membalas dendam kepada kami!" Nia berbicara penuh emosi.
__ADS_1
Robin mendekap erat tubuh istrinya. "Maafkan aku!"
Nia kembali lemah dan menangis.