
Nia terus menciumi bunga mawar pemberian suaminya sembari tersenyum, sesekali ia melirik pria yang ada di sampingnya.
Robin pun tersenyum bahagia melihat wajah ceria istrinya, hampir seminggu ini wajah wanita itu selalu ketus dan dingin.
"Kenapa Mas melakukan ini semua? Membuatku marah dan salah sangka," ujar Nia.
"Aku ingin tahu saja, kamu wanita bodoh atau tidak," jelasnya.
"Bodoh? Apa hubungannya dengan sikap Mas yang selalu buat hatiku kecewa?"
Robin tersenyum kepada istrinya, "Kamu mau tahu?"
Nia mengangguk.
"Kamu memang mencintaiku tapi mampu berpikir dengan logika," jelasnya.
"Aku memang sayang padamu, tapi diri ini juga berhak bahagia," ungkap Nia.
"Tapi terima kasih sudah mencintaiku," Robin meraih jemari istrinya menciumnya sambil menyetir.
"Mas ternyata sangat pandai berakting dan membuat kejutan seperti ini," ujar Nia.
"Aku belajar dari drama yang sering kamu tonton," Robin tersenyum dan mengelus rambut istrinya.
"Mas, bisa saja!" Nia memukul pelan lengan suaminya. "Aku harus memberitahu Kak Bara jika suamiku ini sangat mencintaiku," lanjutnya.
"Jangan beri tahu!" larang Robin.
"Kenapa?"
"Aku senang memancing emosi kakak iparku itu," jawab Robin.
"Terserah Mas, saja!"
-
-
Kediaman Bara...
"Mas, kapan kita main-main ke rumah Nia?" Marsha bertanya sembari menyajikan makanan di meja makan.
"Aku malas ke sana."
"Dia adikmu, sesekali kita jenguk dirinya," ujar Marsha.
"Jika kamu ingin bertemu dengannya, kita bertemu di luar saja. Nia bekerja di kantor Papa, aku malas bertemu dengan suaminya," jelas Bara.
"Kenapa malas? Apa Mas masih membencinya dan menganggapnya musuh?"
"Ya, karena dia masih berani menyakiti adikku."
"Sepertinya Robin berbohong," ucap Marsha.
"Berbohong bagaimana maksud kamu?"
"Robin sangat mencintai Nia," jawab Marsha.
"Dari mana kamu tahu? Dia berkata padaku hanya mempermainkan Nia, dia mempertahankan pernikahan hanya kasihan," tutur Bara.
Marsha tertawa kecil mendengar penuturan suaminya.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku?"
Marsha mengangguk, ia lalu lanjut menjelaskan. "Aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang, kalau dia ingin memberikan hadiah untuk Nia pada hari ulang tahunnya."
"Benarkah? Dua hari lagi memang Nia berulang tahun," ujar Bara.
"Itu artinya Mas dibohonginya."
"Awas saja kalau aku berjumpa dengannya, berani sekali dia membohongiku!" Bara mengepalkan tangannya diiringi tawa istrinya.
...----------------...
Tepat ulang tahun adiknya, Bara dan istrinya datang mengunjunginya. Begitu sampai ia melayangkan pukulan ke perut iparnya.
__ADS_1
Nia dan iparnya menjerit melihat kakak dan suaminya bertengkar.
"Beraninya kau membohongiku!" ucap Bara.
Robin malah tertawa, "Aku tidak membohongimu, Kakak ipar!"
"Kakak cukup, hentikan!" Nia berkata lantang.
"Dia telah membohongi aku, Nia!" ujar Bara.
"Bohong apa, Kak?" tanya Nia.
"Katanya dia tidak mencintaimu," jawabnya. "Tapi malah mau memberikan kamu...." ucapannya terpotong karena Marsha menutup mulut suaminya.
"Mau memberikan apa, Kak?" Nia penasaran.
"Sayang, jangan dengarkan ucapan Kak Bara. Semua tidak benar," tutur Robin.
Bara melepaskan tangan istrinya dari mulutnya.
"Robin memberikan aku apa, Kak?" tanya Nia lagi.
"Kejutan!" jawab Bara.
Nia malah tertawa mendengar jawaban kakak kandungnya itu.
"Kenapa tertawa? Apa kamu sudah tahu?" tanya Bara pada adiknya.
"Mas Robin sudah memberikan kejutan itu beberapa hari yang lalu, Kak!" jawab Nia.
"Kenapa kamu tidak beri tahu Kakak, kalau hubungan kalian baik-baik saja?" tanyanya pada adik pertamanya itu.
"Mas Robin melarangnya, Kak." Nia melirik suaminya.
"Kau, ya!" Bara menatap kesal adik iparnya itu.
"Maafkan aku, Kakak ipar!" ucap Robin tersenyum.
Bara lantas merangkul leher iparnya, " Beraninya kau membohongiku lagi!"
"Dari dulu kau tidak pernah berubah, Robin!" balas memeluknya dan tertawa.
Nia dan Marsha tersenyum melihat kedua pria itu saling berpelukan.
"Apa Kakak ipar ingin kita terus berpelukan seperti ini?" tanya Robin.
Bara mendorong tubuh iparnya, "Aku masih mencintai istriku!"
Robin tergelak mendengarnya.
"Sudah, jangan berdebat lagi. Sebentar lagi, Mama dan Papa akan datang," ujar Marsha.
"Ayo kita makan, ku sudah lapar karena lelah menghajar suamimu ini, Nia!" ucap Bara.
Nia mendekati suaminya, "Kejutan apa yang ingin Mas berikan kepadaku?"
"Rahasia," jawab Robin tersenyum.
"Jangan membuatku penasaran lagi, Mas!" ucap Nia manja.
"Biarin saja, aku senang melihat kamu penasaran!" Robin tersenyum.
Keluarga besar Nia pun datang termasuk pengawal pribadi Handoko.
Nia menyambut kedatangan orang tuanya dengan antusias. Mereka saling berpelukan, tak lupa adik bungsunya pun turut hadir. "Kakak pikir kamu tidak pulang," ujarnya.
"Aku lagi libur sekolah, Kak!"
"Jadi, siapa yang menjemputmu?" tanya Nia.
"Pengawal Papa yang dingin itu!" bisiknya pelan.
"Oh, si tampan Key."
"Kakak, dia memang tampan tapi wajahnya ketus. Bukan kriteria aku," ungkap Tia.
__ADS_1
"Kalian kenapa masih di sini?" Laras menghampiri kedua putrinya yang sedang mengobrol.
"Aku sangat merindukan adikku ini, Ma." Jelas Nia.
"Iya, Ma. Kami sudah lama tidak mengobrol sebebas ini," Tia juga turut memberikan penjelasan.
"Nanti saja dilanjutkan mengobrolnya, ayo kita makan!" ajak Laras.
"Baik, Ma." Jawab kedua putrinya serentak.
Begitu sampai mereka duduk di meja makan yang sama. Bara masih berdiri menggendong putrinya.
"Key kenapa tidak ikutan dengan kita makan?" tanya Robin.
"Tia, panggilkan Key. Suruh dia kemari, biar kita makan bersama!" Handoko menyuruh putri keduanya.
"Kak Nia saja, Pa!" Tia menolak perintah papanya.
"Biar aku saja yang memanggilnya," Marsha menawarkan diri.
"Tidak, Nak. Kamu tetap duduk, biar Tia saja yang memanggilnya," Handoko melarang menantunya.
"Cepat sana panggil, Tia!" Laras ikut bicara.
Dengan senyum merenggut, Tia berjalan memanggil Key yang berada di mobil keluarganya.
Key menurunkan kaca jendela mobil, ketika putri ketiga atasannya itu mengetuk. "Ada apa, Nona?" tanyanya.
"Papa memanggilmu!" jawabnya ketus. Tia berjalan lebih dahulu.
Key dengan cepat keluar dari mobil menyusul Tia.
Begitu sampai di meja makan, "Silahkan duduk, Key!" titah Handoko.
Key masih berdiri melihat anak dan menantu atasannya itu.
"Ayo duduk, kita makan bersama!" ajak Robin.
"Ayo Key, duduk!" Bara ikut bicara.
Key menarik kursi di samping Tia.
Mereka menikmati makan siang bersama-sama sambil sesekali mengobrol.
"Kapan kau akan menikah, Key?" Robin bertanya membuat seluruh mata tertuju pada asisten Handoko.
"Tidak tahu, Tuan!" jawabnya.
"Kalau Key sudah menemukan calonnya, Papa mengizinkan dia menikah," sahut Handoko.
"Tunggu apa lagi, Key?" tanya Bara.
"Kalau Tuan Bara bisa setiap hari ke kantor, saya akan mencari calon istri," jawab Key.
"Oh, jadi kamu jarang sekali ke kantor, ya!" Handoko menatap putranya.
"Kebetulan saja, Pa. Karena Marsha baru melahirkan," jelas Bara.
"Kenapa bawa namaku, Mas?" protes Marsha.
"Iya, mulai besok aku akan rajin ke kantor." Bara akhirnya pasrah, karena tak mau Handoko murka padanya.
"Begitu dong, Nak. Mama bangga padamu!" Laras tersenyum.
"Seperti apa kriteria calon istrimu?" tanya Nia.
"Tidak ada kriteria, Nona. Yang penting dia baik hati dan menyayangi saya tulus," jawabnya.
"Wah, sepertinya Tia cocok untukmu!"
Yang disebut namanya, langsung tersedak mendengarnya. "Kenapa harus aku, Kak?"
"Karena kamu sesuai dengan kriteria yang dikatakan Key," jawab Nia
Tia mendengus kesal dengan jawaban kakaknya apalagi seluruh keluarga dan para pelayannya mengulum senyum.
__ADS_1