
Setelah membantu Marsha berkemas dan berpamitan dengan kedua mertuanya, mereka pulang ke rumah. Begitu sampai, Bara membuka pintu mobil buat istrinya.
Bara juga membantu mengangkat barang-barang milik istrinya ke kamar pribadinya.
"Kenapa aku di sini, Mas? Kamarku di bawah," ujar Marsha.
"Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tidur di sini bersamaku," jelas Bara.
"Membersihkan rumah siapa?"
"Aku akan mempekerjakan pelayan untuk membersihkan rumah, mereka akan datang jam tujuh pagi dan pulang jam enam sore."
"Kenapa mereka tidak menginap di sini?"
"Aku tidak ingin mereka mengganggu waktu malam kita berdua," jawab Bara menggoda.
"Aku tidak akan memberinya," Marsha hendak pergi namun tangannya di tarik suaminya.
Bara memeluk pinggang Marsha, tangan kanannya membelai pipi istrinya.
"Mas, mau apa?" Marsha tampak gugup.
"Aku mau kamu!" menatap lembut.
"Mas, aku sedang datang bulan," bisik Marsha mesra.
Seketika Bara merenggangkan pelukannya.
Marsha mengulum senyum. "Apa ku boleh memasak makanan untuk Mas?"
"Kamu hanya boleh masak dan mengurus semua keperluan ku," jawab Bara.
__ADS_1
"Baiklah, itu juga tidak masalah." Marsha tersenyum. "Aku sangat lapar, apa ada bahan makanan di dapur?" tanyanya.
"Lihat saja!"
Marsha turun ke dapur diikuti suaminya, ia membuka lemari es hanya ada telur 2 butir dan sebotol air beserta beberapa sayuran yang mulai menguning. "Mas, kamu tidak belanja selama ini?"
"Sejak kamu keluar dari rumah ini, aku tidak pernah menyetok bahan."
"Apa aku harus belanja?"
"Hari ini kita makan malam di luar saja," ajak Bara.
"Boleh, aku akan mengajak Mas ke tempat makanan langganan ku dan Weni," ujar Marsha. "Apa Mas mau?" tanyanya.
"Boleh juga," jawab Bara.
"Kalau begitu aku mau mandi, setelah itu ke sana," ujar Marsha.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Bara menggoda.
-
-
Marsha menunjuk warung makan kaki lima yang menghidangkan ayam goreng dengan sambal super pedas.
Bara memandangi warung tersebut cukup lama dari dalam mobil.
Marsha melihat suaminya menatap terlalu lama ke arah warung, memukul pelan lengannya. "Ayo, turun!"
"Kamu yakin kita makan di sini?"
__ADS_1
"Mas, tidak suka 'ya?"
"Suka." Bara tersenyum.
"Ayo turun, Mas pasti akan ketagihan bila sudah memakannya," ujar Marsha.
Bara pun akhirnya keluar dari mobil bersamaan dengan istrinya.
Marsha pun memesan makanan yang sudah lama tidak ia cicipi. "Mas, rasa sambalnya sangat pedas dan enak. Coba deh!"
Bara menyuwir ayam lalu menyoleknya ke sambal. Begitu di makan ia mengipas mulutnya lalu meraih air putih dan meminumnya.
"Apa Mas tidak suka?"
"Sambalnya pedas sekali."
"Ini enak, Mas. Aku sudah lama tidak ke sini, sejak kita menikah," Marsha berceloteh tanpa sadar membuat suaminya bersalah.
"Maafkan aku, Sha." Menatap istrinya sendu.
"Kenapa minta maaf, Mas?"
"Karena sikapku selama ini, hidupmu berubah. Kamu tidak bisa menikmati makan seperti ini, bahkan bertemu dengan kedua orang tuamu."
"Aku bersyukur kalau Mas sudah berubah," ujar Marsha.
"Harusnya aku dari awal tahu kalau kamu dulu tidak berniat jahat padaku, aku tidak bisa membedakan mana dendam dan cinta."
"Mas, cukup ya. Jangan bahas itu lagi, aku juga merasa bersalah waktu itu. Seharusnya ku tak melakukannya tapi semua demi kebaikanmu."
Bara mengangguk dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tapi, terima kasih sudah mencintaiku walau Mas terlambat mengetahuinya," Marsha tersenyum.
"Aku juga berterima kasih karena kamu mau memberikan kesempatan untukku."