
Beberapa hari kemudian, Nia sudah kembali ke rumah mertuanya. Laras ingin merawat putrinya namun Robin bersikeras tidak mengizinkannya. Akhirnya keluarga pasrah menerima keputusan itu.
Clara menyakinkan keluarga besar Nia untuk tidak khawatir selama menantunya itu dirawat oleh putranya.
Robin mendorong kursi roda istrinya menuju kamarnya yang kini berada di lantai bawah. Ia menggendong tubuh Nia lalu ia rebahkan di atas ranjang.
Nia lebih banyak diam dan terkadang menangis.
Robin melihatnya merasa iba. Dengan penuh kesabaran ia menyuapkan bubur ke mulut istrinya. Tak lupa ia juga rutin memberikan obat dan memperhatikan kondisi istrinya.
"Harusnya aku ikut bersamanya," Nia mengoceh dengan pandangan kosong.
Robin menggenggam tangan istrinya.
"Papa sudah jahat sama kita, Nak!" ia kembali berbicara aneh.
"Maaf!" Robin mencium tangan istrinya.
"Kenapa tinggalkan Mama?" masih dengan pandangan kosong.
Robin memeluk istrinya sembari menangis. "Maafkan aku!"
"Kau jahat!" menekankan kata-katanya.
"Iya, aku jahat. Aku telah menyakiti kalian, tolong maafkan aku!" isak Robin.
"Aku mau tidur, jangan ganggu aku!" masih berkata dingin tanpa menatap. Ia lalu merebahkan tubuhnya dan memunggungi suaminya dengan tatapan kosong, tak terasa air matanya menetes.
Robin pun tidur di sebelah istrinya.
-
"Jangan ambil anakku, ku mohon kembalikan dia!" Nia mengigau.
Robin terbangun mendengar suara, ia melihat istrinya masih dengan mata terpejam tampak keringatan dan mengoceh. "Nia, bangun!" ia menyentuh lembut pipi.
Nia membuka matanya lalu bangun dan duduk, "Di mana anakku?" ia seperti orang kebingungan.
"Anak kita sekarang sudah tenang, Nia."
"Dia anakku bukan anakmu!" sentaknya.
"Ya, aku minta maaf. Dia anakmu, suatu hari nanti aku akan menunjukkan tempat peristirahatannya," ujar Robin.
"Anakku tidak mati!" mengulang perkataan yang sama berkali-kali.
"Nia!" bentak Robin.
"Semua karenamu!" Nia menatap tajam suaminya.
"Iya, semua karena aku. Biarkan aku menebus semua kesalahanku!" mohon Robin.
"Dia takkan bisa kembali lagi," hardiknya.
Robin hampir putus asa menghadapi istrinya. Ia memilih meninggalkan Nia seorang diri di kamarnya.
Tak lama Robin keluar dari kamar, suara gaduh terdengar. Ia melihat Nia membuka isi lemari dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper. "Kau mau ke mana?"
"Aku mau mencari anakku," jawabnya.
"Nia, cukup!" bentak Robin.
"Kenapa kau melarangku?"
"Kau tidak akan bertemu dia lagi, dia sudah pergi. Tolong, jangan seperti ini!" Robin memohon.
"Aku tidak percaya dengan kata-katamu!"
"Besok pagi aku akan mengajakmu ke sana," ujar Robin.
"Benarkah?" Tampak wajah Nia ceria.
Robin mengangguk pelan.
...----------------...
Robin memenuhi janjinya membawa istrinya ke tempat tidur panjang bayi mereka.
Nia terheran-heran, "Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Ini tempat istirahatnya, sekarang dia sudah tenang," jawab Robin.
__ADS_1
Nia menjatuhkan tubuhnya dan menangis terisak di pusara anaknya.
Robin terus mengusap pundak istrinya, ia tak mampu menahan air matanya.
Hampir sejam mereka di sana, akhirnya Robin bisa membujuk istrinya untuk pulang.
-
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Nia terus menangis dan meminta maaf. "Apa setelah ini kau akan meninggalkan aku?"
"Tidak, Nia."
"Aku telah gagal menjaga bayi kita," ujarnya terisak.
Robin mengenggam tangan istrinya, "Kamu tidak gagal!" mencoba tersenyum.
"Padahal sebentar lagi dia akan terlahir ke dunia, aku bisa memiliki teman," Nia mengoceh.
"Aku akan menjadi temanmu di rumah," ujar Robin.
"Kau tidak akan pergi dengan wanita itu, kan?" Tanya Nia.
"Aku akan bersamamu."
-
-
-
Sementara di tempat lain, Marsha duduk di sofa ruang santai sembari mengelus perutnya yang sudah memasuki tanggal lahiran. Disampingnya ada suaminya yang sedang memainkan ponsel. "Mas, aku takut sesuatu buruk menimpa calon anak kita."
"Jangan berpikir seperti itu, tetaplah tenang semua akan baik-baik saja."
"Aku kasihan dengan Nia, bagaimana dengan kondisinya sekarang, ya?"
"Ku juga tidak tahu, sejak dari rumah sakit aku belum mendapatkan kabarnya."
"Semoga saja Nia baik-baik saja," harap Marsha.
"Tapi, aku curiga dengan kematian calon bayi mereka. Apalagi ku lihat sudut bibir Nia sedikit memerah," ujar Bara.
"Jadi menurutmu Robin penyebabnya?"
"Aku lihat sepertinya dia sangat terpukul," ujar Marsha.
"Semoga saja dia tidak berpura-pura."
"Ya, semoga saja."
...----------------...
Rio sengaja berkunjung ke toko ponsel tempat Weni bekerja. Ia berpura-pura menjadi pembeli. "Apa kau bisa pilihkan ponsel terbaru dan mewah?" pintanya pada Weni yang sedang menyusun ponsel di etalase.
"Niat beli atau cuma main-main saja?"
"Ya, belilah. Untuk apa aku ke sini kalau tidak membeli ponsel? Tak mungkin melihatmu," jawabnya.
"Sebentar aku akan ambilkan," Weni pun mengambil ponsel yang dimaksud, ia juga menjelaskannya.
Rio hanya mendengar Weni berbicara tanpa memotongnya.
"Jadi kau mau pilih yang mana?" tanya Weni.
"Aku pilih kau saja!"
"Jangan menggodaku, tak ampuh cara rayuanmu itu!" Weni tersenyum sinis.
"Sudah berapa lama kau kerja di sini?"
"Apa itu penting?"
"Tidak juga, sih."
"Sekarang kau pilih yang mana? Jangan membuang waktuku," gerutu Weni.
"Yang ini saja," tunjuk Rio ponsel berwarna merah.
"Baiklah," Weni memasukkan ponsel ke dalam kotaknya dan disusunnya sangat rapi, kemudian ia menyebutkan nominal harga.
Rio menyerahkan kartu debit kepada Weni.
__ADS_1
Selesai transaksi, Weni mengembalikan kartu pembayaran milik Rio dan ponsel yang dibeli. "Terima kasih," ia tersenyum.
"Kau pulang kerja jam berapa?"
"Jam 5 sore."
"Oh ya sudah, kalau begitu aku pamit." Rio pun meninggalkan toko.
Tak lama Rio pergi, seorang gadis kecil berusia 10 tahun menghampirinya. "Ada perlu apa?" tanyanya lembut.
"Bibi, ini buatmu!" ia menyerahkan 2 batang cokelat dan setangkai bunga mawar.
"Ini dari siapa?"
"Dari Paman yang baru saja dari sini, dia pakai kaos warna putih," jawabnya.
"Rio!" gumamnya.
Gadis kecil itu pun berlari.
Weni membaca secarik kertas yang tertempel di cokelat. "Semoga harimu menyenangkan," ucapnya. "Ternyata dia pintar sekali merayu," lanjutnya.
"Cieee... sudah dapat penggemar saja, nih!" teman kerjanya meledeknya.
"Biasa artis," Weni menampilkan senyum terpaksa.
-
-
Tepat pukul 5 sore, Rio kembali datang menghampiri Weni yang baru saja keluar dari toko.
"Kenapa kau di sini?" tanya Weni.
"Menjemputmu pulang," jawabnya.
"Aku naik bus saja," ujarnya.
"Jam segini, bus sangat ramai penumpang."
"Aku tidak mau pulang denganmu, ku takut kau akan menculikku!"
Rio tertawa kecil mendengar alasan Weni menolaknya.
Weni melangkah cepat menghindari mantan kekasih Marsha.
"Ternyata langkah kakimu lebar juga, ya!" Rio tampak ngos-ngosan.
"Apa kau tidak pernah berjalan kaki? Baru beberapa meter saja sudah lelah," Weni berucap tanpa melihat pria yang berada disampingnya.
"Ya, pernah tapi tidak sejauh ini."
"Mulai sekarang kau harus berjalan kaki," ujar Weni.
"Kenapa kau pulang naik bus? Ke mana ayahmu?"
"Ayah lagi di luar kota melihat cucunya," jawabnya.
"Oh, kenapa kau belum menikah?"
Weni berhenti lalu memandang Rio, "Kenapa kau belum menikah juga?"
"Aku belum ada yang cocok saja." Rio menjawab santai.
"Aku juga."
"Bagaimana kalau kita menikah?" Rio bertanya asal.
Pertanyaan Rio membuat Weni kembali menghentikan langkahnya. "Sudah berapa wanita yang kau ajak menikah?"
"Baru kamu saja," jawabnya jujur.
"Jangan aneh, kita baru kenal beberapa bulan yang lalu."
"Memangnya kenapa?"
"Yang aku tahu, kau adalah pemain wanita."
"Kenapa selalu kata itu yang terucap dari mulutmu?" tanya Rio, selama beberapa bulan ini dan bertemu dengan Weni. Wanita itu sering berkata pemain wanita.
"Aku tidak melihat keseriusan darimu."
__ADS_1
"Jadi, aku harus bagaimana menunjukkan keseriusan padamu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Weni menyetop bus lalu naik begitu juga dengan Rio yang ikut menyusulnya.