
"Kau tidak perlu tahu siapa aku," Silvia tersenyum menyeringai dengan menyilangkan tangannya di dada.
"Lantas kenapa kau datang ke sini? Mau merusak kebahagiaan kami?" tanya Robin.
"Aku ke sini karena kasihan dan menyelamatkan wanita itu!" Silvia menunjuk ke arah Arum. "Dari pria licik dan jahat seperti dia," jari telunjuknya kini ke arah Radit.
Seluruh tamu mulai berisik.
"Usir wanita itu!" perintah Mama Carla.
"Aku akan pergi Tante setelah memberikan penjelasan dan bukti kepada kalian semua siapa calon menantu anda sebenarnya," ucap Silvia.
"Robin, sepertinya wanita ini hanya ingin merusak acara ku!" Radit tampak mulai panik.
"Silahkan lihat ini!" Silvia berjalan ke arah Robin dan membuka ponselnya.
Robin mendelikkan matanya lalu menarik kerah baju Radit. "Penipu!" desisnya.
Arum dan Carla lantas mendekati Silvia lalu melihat foto kedekatan Radit dengan mantan kekasih Robin.
"Apa kalian sudah paham?" tanya Silvia.
"Siapa kau sebenarnya?" Arum bertanya.
Silvia membuka penyamarannya. Semua tamu terkejut tak terkecuali keluarga besar Robin.
"Kau wanita licik!" geram Carla.
"Itu semua rekayasa!" ucap Radit lantang.
"Bagaimana jika ini?" Silvia mendengarkan isi rekaman percakapan kepada semua tamu yang hadir saat dirinya mendatangi apartemen Radit untuk meminta tanggung jawab.
Seketika tubuh Carla lemas mendengarnya, ia terduduk di kursi.
"Dia pembohong!" Radit berkata dengan nada tinggi.
"Apa yang dikatakan wanita itu benar!" Marsha ikut berdiri.
"Ya, benar. Dia seorang penipu!" Rio ikutan berdiri dan menunjuk wajah calon suami Arum.
"Aku bukan penipu!" Radit memberontak.
"Bawa dia!" Robin memerintahkan anak buahnya.
Radit kini sudah dipegang oleh dua anak buah Mama Carla. "Wanita itu pembohong!"
Silvia tersenyum puas.
"Kenapa kau baru datang memberitahuku?" tanya Arum.
"Itu karena kakakmu yang bodoh!" Silvia melirik mantan kekasihnya itu.
"Aku juga sudah bilang padamu kalau Radit bukan pria baik," Nia berkata pelan di telinga suaminya.
"Kalau begitu aku pamit karena Kak Galvin akan segera pergi ke Belanda dan menetap ke sana," Silvia berkata dengan sengaja, ia ingin merespon wanita yang disukai kakaknya itu.
"Pergi?" Arum bertanya lirih.
"Ya, sekarang dia lagi menungguku di luar gedung," jawab Silvia.
Arum bergegas melangkah keluar gedung. Ia melihat ke kanan dan kiri parkiran mencari sosok Galvin. Namun tak ia temukan lalu dirinya berlari ke arah gerbang dengan air mata mulai mengalir.
"Tuan sepertinya itu Nona Arum!" ujar sopir Galvin.
"Ya, kau benar!" Galvin segera turun lalu berjalan mendekati wanita itu.
Arum menoleh ke sampingnya, ia tersenyum menatap pria yang berjalan ke arahnya dengan berlari kecil ia menghampiri Galvin dan memeluknya.
Mendapatkan pelukan secara mendadak oleh Arum membuat Galvin membulatkan matanya.
"Jangan pergi!" Arum menumpahkan air matanya di dada Galvin.
"Dari mana kamu tahu aku akan pergi?"
__ADS_1
"Adikmu!" jawab Arum mendongakkan kepalanya.
"Masalah apa lagi yang sudah di buatnya?" Galvin tampak kesal.
Arum melonggarkan pelukannya, "Aku yang berterima kasih kepadanya karena telah membongkar kebusukan calon suamiku."
"Silvia membantumu?" Galvin heran.
"Radit calon ayah dari anak yang dikandung Silvia," jawab Arum.
"Di mana pria itu, aku akan menghajarnya karena telah menghamili adikku!" geramnya.
Arum memukul dada Galvin dengan keras, "Kau sangat bodoh, Kak Robin sudah menahannya kalau tidak mana mungkin aku bersamamu!"
"Kau bukan istri orang lain, kan?" tanya Galvin.
"Kalau aku istri orang lain, suamiku akan memukulmu!" jawab Arum memanyunkan bibirnya.
"Pelukannya sudah selesai, sekarang kita berangkat ke bandara!" ajak Silvia.
"Jika kau pergi aku akan ikut!" ucap Arum.
"Kamu tidak boleh pergi, Arum!" sahut Robin.
"Kakak!" Arum menatap wajah pria itu.
"Kamu boleh pergi bersamanya jika kalian sudah menikah," ujar Robin.
"Menikah?" Galvin tampak bingung.
"Kau tidak ingin menikahi adikku, kalau begitu ayo kita pulang, Arum!" Robin hendak memegang tangan adiknya itu.
"Baiklah, aku akan menikahi Arum!" ucap Galvin lantang.
"Kalau begitu kembali ke gedung seluruh tamu masih menunggu kalian!" ujar Robin.
Silvia, Leo dan beberapa pengawal tersenyum melihat ekspresi wajah Galvin yang tampak kebingungan.
"Cepat, Tuan!" Leo mendorong tubuh atasannya itu.
"Kami akan menemani kakak," ucap Silvia semangat.
Mereka pun kembali ke tempat acara yang sempat tertunda. Radit kini dalam penahanan anak buah Mama Carla. Pria itu akan diserahkan kepada pihak berwajib setelah Arum dan Galvin menikah.
"Ini benar calon suaminya, kan? Tidak akan batal lagi, kan?" tanya pria paruh baya yang diamanahkan sebagai penghulu.
"Ya, Pak!" jawab Arum.
"Tapi ini namanya berbeda," ucap pria itu.
"Biarkan sah dahulu, Pak. Urusan itu belakangan," ujar Robin.
"Baiklah!"
Robin kini ada dihadapan Galvin yang kelihatan gugup, dirinya tak ada persiapan sudah dipaksa menikah.
"Apa kau sudah siap?" tanya Robin.
"Ya," jawab Galvin.
Robin akhirnya berbicara menyebut nama lengkap adik kandungnya dan papanya karena dirinya adalah pengganti ayahnya.
Galvin pun dengan penuh keyakinan ia mengucapkan janji pernikahan secara lantang setelah jawaban sah membuat dirinya merasa lega.
Arum yang duduk di sebelah Mama Carla dan Nia tersenyum bahagia.
Para tamu mengucapkan selamat kepada pengantin dadakan itu.
"Kakak, selamat!" Silvia memeluk Galvin.
"Hari ini kau berbuat ulah yang membanggakan!" ucapnya.
"Aku sudah janji kepadamu tidak akan nakal lagi, karena ku akan menjadi seorang ibu," ujar Silvia.
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya," Galvin tersenyum.
Silvia membalasnya dengan senyuman, ia juga memberikan ucapan selamat kepada Arum.
Marsha dan suaminya juga memberikan selamat kepada kedua pengantin. Tak ketinggalan Weni dan Rio.
"Apa setelah ini aku sudah bisa memelukmu di kamar?" bisik Galvin di telinga istrinya.
Dengan cepat Arum mengangkat tangannya mengarahkan sikutnya di perut suaminya.
"Auww, sayang ini sangat sakit!" Galvin meringis kesakitan.
"Maafkan aku!" Arum memegang perut suaminya.
"Makanya jangan berani macam-macam padaku jika tak ingin seperti ini," omelnya.
"Baiklah, istriku!"
-
Di dalam mobil Silvia menyandarkan kepalanya di bangku penumpang, tiba-tiba ia meneteskan air mata.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" Leo tampak khawatir.
"Aku menyesal tak menuruti ucapan Kak Galvin, harusnya ku setia hanya pada satu pria. Kini aku hamil dari pria yang tak mengakui calon anaknya," Silvia menghapus air matanya.
"Apa anda butuh bahu?" Leo dengan percaya diri menawarkannya.
Silvia tertawa kecil di sela-sela air matanya yang masih jatuh.
"Nona tertawa seperti itu sangat cantik!" pujinya.
Silvia memukul lengan Leo. "Kau tidak usah mengejekku!"
"Aku serius, Nona!" Leo sembari menyetir.
"Lebih baik kau fokus menyetir, " ujar Silvia.
-
-
Arum kini berada di rumah suaminya. Ia melihat Galvin mengeluarkan beberapa kopernya dari dalam kamar.
"Kamu jadi pergi ke luar negeri?"
"Ya."
"Kita baru saja menikah, kamu tega meninggalkan aku sendiri di sini," protes Arum.
"Kita menikah mendadak dan rencana kepergianku ini sudah cukup lama," jelas Galvin.
Arum terduduk di ranjang, ia hanya diam wajahnya tampak sedih.
Galvin menatap wajah murung istrinya. "Kenapa duduk? Ayo kita berangkat sekarang!" ajaknya.
"Berangkat?" tanya Arum.
"Iya, kita berangkat ke Belanda," jawab Galvin.
"Kita berdua?" tanya Arum lagi.
"Ya iyalah, tidak mungkin ku meninggalkan istriku yang baru saja di nikahi di sini."
"Kita menetap di sana?"
"Tidak, kita hanya sebulan saja di sana. Pernikahan kita belum resmi dicatat di negara. Jadi kita akan kembali lagi ke sini," jelas Galvin.
"Baiklah, aku akan pergi denganmu!" Arum begitu semangat.
"Di sana kita bisa bulan madu!" bisik Galvin genit.
Wajah Arum seketika memerah karena malu.
__ADS_1