
Bara dan Marsha sudah membersihkan diri bersiap untuk mengelilingi kota. Keduanya keluar kamar sambil bergandengan tangan menghampiri keluarganya yang menunggu di mobil.
Marsha memeriksa barang di tasnya. Namun, benda pipih yang dicarinya tak ditemukannya. "Mas, ponselku seperti ketinggalan di kamar," ujarnya.
"Ya sudah sana, kamu ambil. Aku menunggu di mobil, ya," ucap Bara lembut.
"Ya, Mas." Marsha pun kembali ke kamar.
Setelah mengambil ponsel, ia berjalan ke arah parkiran. Tak sengaja ia menyenggol seseorang membuatnya hampir terjatuh.
"Maaf, Nona!" tanpa memperhatikan wajah Marsha.
"Tidak apa...." Marsha menatap wajah pria yang ada dihadapannya.
Pria itu pun akhirnya melihat wajah Marsha dengan jelas, "Kau!"
"Rio!" ucapnya gugup.
"Akhirnya kita bertemu lagi. Kenapa kau bisa sampai di negara ini?"
"Aku permisi!" Marsha hendak pergi namun lengan ditarik.
"Mau ke mana? Kita belum selesai bicara," ujar Rio.
"Suamiku sudah menunggu."
"Kau sudah menikah? Kenapa tidak mengundangku?"
"Buat apa aku mengundangmu? Untuk menghina dan menginjak keluarga ku lagi?"
"Sha, kenapa kau sangat begitu membenciku?"
"Jangan menggangguku lagu, Rio!" Marsha melepaskan genggaman pria itu kemudian mempercepat langkahnya menghampiri suami dan keluarganya.
Begitu sampai mobil, Marsha berusaha tetap tenang dan melupakan kejadian tadi. Ia tersenyum pada seluruh keluarga suaminya yang begitu sangat menyayanginya.
-
Bara terus menggenggam tangan istrinya melihat keramaian kota, mereka terpisah dengan rombongan karena urusan pemilihan sekolah sudah selesai.
Orang tua dan kedua adik Bara telah kembali ke hotel, tinggal pasangan suami istri itu yang menikmati jalan-jalan berdua.
"Mas, kamu sering ke sini?"
"Baru sekali."
__ADS_1
"Apa kamu tidak takut kita menyasar?"
"Tidaklah, sayang," jawab Bara tersenyum.
Marsha tersenyum, ia mengalungkan tangannya di lengan suaminya.
"Apa kamu ingin beli sesuatu?"
Marsha menggelengkan kepalanya.
"Kamu yakin? Marsha yang ku kenal dari sekolah adalah gadis yang selalu bergonta-ganti tas dan sepatu, apa kamu tidak ingin membelinya?"
"Mas, aku tidak ingin menghamburkan uang lagi untuk hal yang tak berguna."
"Ternyata, kamu sudah dewasa menyikapi hal begitu. Makin cinta aku denganmu," Bara berucap membuat istrinya itu tersipu malu.
"Tapi aku lapar, bisakah kita cari makanan?"
"Baiklah, kita akan cari makanan," jawab Bara.
Berjalan hampir 2 kilometer akhirnya mereka memilih restoran dari negara kelahiran keduanya yang sudah terjamin semuanya.
"Mas, akhirnya kita menemukan restoran yang sesuai dengan lidah," ujar Marsha.
"Oh, ya Mas. Pernah kemari sekali dengan siapa?"
Bara tidak menjawab.
"Aku sudah bisa menebaknya," Marsha tersenyum.
"Jangan dibahas kemarin aku pergi dengan siapa, yang penting saat ini kamu berada denganku."
"Ya, Mas."
-
-
Menjelang malam, Marsha dan istrinya kembali ke hotel. Rio sudah menunggu wanita itu dilobi, begitu melihatnya ia pun bergegas menghampirinya.
"Marsha!" panggilnya.
Bara dan Marsha menoleh ke arah suara, keduanya saling terkejut melihat pemanggil.
"Ternyata, dia suamimu!" sindir Rio.
__ADS_1
"Ya, dia suamiku. Kami saling mencintai," ujar Marsha bangga.
"Aku tidak menyangka kamu menikah dengan pria culun sepertinya yang begitu terobsesi denganmu," Rio mengingatkan mantan kekasihnya.
"Dan aku berhasil mendapatkannya sesuai keinginan, apa kau tidak suka?" sahut Bara.
Rio mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangan.
"Kami mau istirahat, jangan mengganggu lagi!" Marsha menarik tangan suaminya untuk meninggalkan Rio.
-
Bara membuka pakaiannya sambil berkata, "Mantan kekasihmu itu kenapa bisa di sini?"
"Aku juga tidak tahu, Mas."
"Sepertinya dia masih menyukaimu?" tebak Bara.
"Walau dia masih menyukaiku tapi aku telah memilihmu," jawab Marsha.
"Kenapa kamu memilihku?"
"Kamu pria yang melamarku dan aku memilihmu karena.." Marsha memeluk suaminya.
"Karena apa?"
"Aku menemukan antingku di lemari pakaianmu saat membersihkan kamarmu."
Bara menggaruk tengkuknya. "Iya, aku yang menyimpan antingmu yang terjatuh saat acara reuni sekolah."
"Terima kasih sudah menyimpannya beruntung aku tidak membuang yang sebelahnya, akhirnya itu anting bertemu dengan jodohnya."
"Aku ingin membuangnya saat kita menikah, namun ku urungkan karena begitu cantik bila kamu memakainya," rayu Bara mengecup bibir istrinya.
"Jangan menggodaku, Mas!"
"Memangnya kenapa? Biar nanti kita pulang, sudah ada calon cucu untuk orang tua?"
Marsha tertawa kecil mendengar pertanyaan suaminya.
"Memangnya kamu tidak ingin memiliki anak?"
"Aku mau, Mas. Tapi, jangan terlalu berharap ku takut kamu akan kecewa."
"Apapun yang akan terjadi, ku akan selalu bersamamu." Janji Bara pada istrinya, ia pun mencicipi bibir istrinya dan semakin memperdalamnya.
__ADS_1