
Pagi ini Arum ke kantor dan dirinya sudah mendapatkan kiriman bunga dari seseorang. "Dari siapa?" tanyanya kepada sekretarisnya.
"Kata kurirnya, dari Tuan Galvin."
"Baiklah, terima kasih!" Arum tersenyum lalu ke ruangan kerjanya.
Tak lama panggilan telepon datang dari pria itu. Arum pun menjawabnya, lalu ia kembali menutupnya.
Ia menemui sekretarisnya itu, "Apa saja jadwalku hari ini?"
"Bertemu dengan Tuan Galvin saja, Nona."
"Baiklah, terima kasih."
-
Sesuai jadwalnya hari ini ia kembali bertemu dengan Galvin di proyek. Padahal baru beberapa jam yang lalu pria itu mengajaknya makan siang.
"Bagaimana dengan ajakan nanti, Nona?"
"Apa anda tidak lelah terus mengejarku, Tuan?"
"Tak ada kata lelah mengejar dirimu."
"Tuan, saya sangat sibuk jadi tak sempat untuk meladeni semua rayuan yang anda lancarkan," ujar Arum.
"Benarkah?"
"Ya," jawab Arum. "Apa anda sudah berkeliling?" tanyanya.
"Belum."
"Ayo kita lihat!" ajak Arum.
"Jalanan penuh bebatuan, apa anda tidak butuh pegangan?" Galvin mengulurkan tangannya.
Dengan terpaksa Arum meraih tangan Galvin dan menggenggamnya.
"Jika anda jadi istriku, tak perlu repot lagi dan panas-panasan seperti ini," ujar Galvin.
"Tuan Galvin, apa anda bisa berhenti untuk menggodaku?"
"Tidak bisa, Nona. Kenapa saya begitu senang jika merayu dan menggoda anda," jawabnya.
Arum hanya menghela nafas pasrah dan menerbitkan senyum tipis.
Galvin menyodorkan minuman botol pada Arum. Wanita itu pun meraihnya dan menenggaknya.
"Apa anda tidak lapar?" tanya Galvin.
"Ya."
"Bagaimana kalau kita makan bersama?" ajaknya.
"Tidak bisa, saya ada janji dengan seseorang," jawab Arum.
"Dengan siapa?" tanyanya.
Belum sempat dijawab, ponsel Arum berdering. Tak lama kemudian ia menutupnya kembali. "Maaf, saya duluan!" ia meninggalkan Galvin.
Galvin mengepalkan tangannya, "Saat ini kau boleh meremehkan aku tapi setelah ku mendapatkanmu tak ada kebebasan untukmu wanita sombong!"
-
Arum tersenyum dengan seorang pria yang menunggunya di parkiran proyek. "Apa kau sudah lama menunggu?"
"Baru saja."
"Baguslah, kalau begitu."
"Ayo kita pergi!" Pria itu membukakan pintu untuk Arum.
"Terima kasih," Ia pun tersenyum.
__ADS_1
-
Siang ini, Nia dan suaminya makan di restoran kebetulan juga janjian dengan Arum.
Keempatnya duduk di meja makan yang sama.
"Perkenalkan ini kakak iparku," mengarahkan tangannya pada Nia.
"Radit!" ucapnya berjabat tangan dengan istri Robin.
"Nia!" Wanita itu tersenyum.
"Kapan sampai di sini?" tanya Robin.
"Seminggu yang lalu," jawab Radit.
"Akan menetap atau kembali lagi ke sana?" Robin bertanya.
"Untuk saat ini menetap, karena aku ingin mengejar lagi cinta seorang wanita," jawabnya.
"Siapa dia?" tanya Nia.
"Dia berada di sebelahku."
Arum seketika menghentikan sendoknya yang hampir mendarat di mulutnya lalu meletakkannya ke piring kembali. "Kau, jangan bercanda!" ucapnya lirih.
"Aku serius, ingin melamar Arum!"
"Kalau aku terserah Arum mau atau tidak," ujar Robin.
-
Setibanya di kantor, Arum memikirkan ucapan yang dilontarkan oleh Radit. Dia memang menyukai pria itu namun hatinya ragu menerimanya.
Ia mengambil ponselnya, membuka notifikasi pesan yang bolak balik berbunyi di ponselnya. Ada 10 chat dari Galvin yang tidak sempat di baca tadi akhirnya ia membacanya satu persatu. Ia menarik sudut bibirnya, "Tak pernah menyerah dia mengejarku!"
Arum lantas menghubungi Galvin dan menerima ajakan pria itu untuk makan malam bersama.
Menjelang sore sepulang dari kantor, Arum sengaja pergi ke butik. Entah, kenapa hatinya berkata ingin tampil cantik dihadapan pria itu.
"Selamat malam, anda sangat cantik sekali!" puji Galvin.
"Terima kasih, saya datang kemari hanya ingin menghargai permintaan anda yang tak pernah menyerah," ujar Arum.
"Saya melakukan itu karena ingin lebih dekat dengan anda," ungkap Galvin.
"Benarkah? Tapi tadi siang ada pria lain yang melamarku," tutur Arum.
"Apa saya tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan hatimu?"
Arum hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.
Mereka pun memesan makanan dan minuman.
Ponsel Galvin di atas meja berdering, dengan cepat ia menolak panggilan tersebut.
"Kenapa tidak dijawab?" Arum menatap curiga.
"Tidak terlalu penting," jawab Galvin.
"Apa itu telepon dari kekasih atau istri anda?" Arum bertanya sembari menyindir.
"Jika memiliki istri tidak mungkin saya mengkhianati pernikahan kami," jelas Galvin.
"Saya kagum dengan pria yang mencintai istrinya, semoga suatu saat ku bisa mendapatkan seperti itu," ungkapnya.
"Saya bisa mewujudkannya," ujar Galvin percaya diri.
Arum tersenyum tipis sambil menikmati makanan yang sudah tersaji.
"Hujan sangat lebat, apa anda mengendarai mobil sendiri?"
"Ya."
__ADS_1
"Bagaimana kalau saya antar pulang?" Tawarnya.
"Tidak, terima kasih."
"Kenapa anda selalu menolak jika saya antar pulang? Padahal jika mengendarai sendiri sangat berbahaya," ungkap Galvin.
"Saya akan hati-hati."
"Apa pengalaman kecelakaan di luar negeri tidak membuat anda trauma?" Galvin menyindir.
Arum menatap Galvin seakan bertanya dari mana pria itu tahu.
"Maaf, kalau saya mencari tahu tentang anda. Dokter yang sering dikunjungi itu adalah teman ibu jadi saya menanyakan semuanya kepadanya."
"Anda mengikuti saya ke rumah sakit?" menyipitkan matanya.
"Ya, maaf."
Arum menampilkan wajah kecewanya. "Sepertinya makan malam kita selesai, saya pamit pulang," ia bersiap berdiri.
"Arum, jangan marah!" Galvin menahan tangan wanita itu.
Arum tersenyum tipis, "Anda seperti pengintai!" ia pun berlalu.
Galvin mengusap wajahnya kasar. Sejenak menatap punggung Arum menghilang dari pandangannya, ia lalu berdiri dan berjalan ke arah parkiran.
Saat hendak membuka pintu mobilnya, Galvin melihat mobil Arum masih terparkir ia lalu mendekatinya dan mencari keberadaannya dari kejauhan wanita itu berjalan seorang diri.
Hujan mulai reda, Arum berjalan pelan menyusuri kesunyian malam. Empat orang pria mendekatinya dan berusaha menggodanya namun tak ia gubris.
Galvin bergegas menghampiri Arum yang di dekati 4 orang pria tak dikenal. "Jangan ganggu dia!" ucapnya secara lantang.
Ketiganya menoleh ke belakang.
"Kau siapa?" tanya salah satu pria yang tampak sempoyongan.
"Bukan urusan kalian, aku ini siapa," jawab Galvin.
"Tuan, jangan hiraukan mereka lebih baik anda pulang," ujar Arum.
"Aku tidak akan pulang kalau tidak bersamamu," ucap Galvin.
"Kau lihat, wanita ini tak mau pulang denganmu. Sudah sana pergi!" usir salah satu pria lainnya.
Satu pria menyentuh lengan Arum, dengan cepat Galvin menyingkirkan tangannya. "Jangan berani menyentuhnya!" desis Galvin dengan sorot mata tajam.
Dua pria lainnya mulai menyerang Galvin.
Arum menghela nafas pasrah, ia terpaksa ikut melawan berandalan itu.
Gaun yang panjang membuatnya kesulitan untuk bertarung.
Galvin mendekati Arum, "Pergilah!" menyerahkan kunci mobil kepadanya.
Arum sedikit menjauh ketika tubuh Galvin menghadang para pria jahat. Ia bergegas menghubungi pihak berwajib lalu kemudian berteriak meminta tolong.
Karena mendengar Arum berteriak salah satu pria mendekatinya. Galvin meraih kerah baju lelaki yang mencoba ingin menyerang Arum.
Sementara yang lainnya meraih kayu balok dengan membabi buta memukuli Galvin. Sontak membuat Arum semakin histeris, beberapa warga yang mendengar teriakkan menghampiri mereka.
Para pria yang menyerang keduanya berhamburan melihat warga berdatangan.
Galvin seketika pingsan, membuat Arum semakin khawatir. "Tuan, tolong bangun!" ia memukul pelan pria itu dengan air mata yang mulai menetes.
Arum lantas meminta tolong warga untuk membantunya membopong Galvin ke dalam mobil. Ia mencoba mengatur nafasnya yang saling berkejaran agar tetap tenang. Lalu kemudian menyalakan mesin kendaraannya dan melaju ke rumah sakit.
Begitu sampai, beberapa tim medis membantunya mengangkat tubuh Galvin ke brankar.
Dengan tangan gemetaran Arum menghubungi kakak kandungnya. Tak sampai 30 menit, Robin datang. Arum lantas memeluk pria yang kini berusia 27 tahun.
"Kakak sudah di sini, kamu harus tenang!" Robin mengelus rambut adiknya.
"Aku takut dengan kondisi Galvin, Kak!"
__ADS_1
"Dia akan baik-baik saja!" Robin berusaha menenangkan.