
Dua hari kemudian, Nia telah tiba di rumah peninggalan Papa mertuanya. Beberapa pelayan membantu membawa kopernya sementara Robin setelah mengantar istrinya, ia kembali ke kantor.
Ia mengedarkan pandangannya disekeliling rumah keluarga Robin yang besar dan sudah tua. Tampak barang-barang antik berada di dalamnya.
Tertampang sebuah bingkai besar di dinding ruang tamu, tampak Robin dan 4 anggota keluarga lainnya berfoto bersama.
"Gadis kecil yang dipangku Tuan besar adalah adik bungsu Tuan Muda, dia meninggal karena sakit." Jelas pelayan.
"Kalau Papa?"
"Tuan besar meninggal setelah dua tahun kepergian putri kecilnya karena sakit juga, Nona."
"Oh, begitu."
-
-
Malam harinya, Robin pulang dari kantor. Nia sudah berdiri di meja makan menyajikan makanan.
"Kau ingin makan atau mandi dulu?" tanya Nia.
"Mandi."
Tak sampai 30 menit, Robin turun dengan tubuh sudah segar. Ia duduk di meja makan bersama dengan istrinya.
Tak ada obrolan sama sekali, karena jika Robin berkata kasar atau membentak bisa-bisa pelayan yang berada di rumah mengadu pada mamanya. Bakal panjang ceritanya jika berurusan dengan wanita yang sudah melahirkannya.
Nia hanya memakan sedikit nasi lalu meminum segelas jus sirsak.
Robin sesekali melihat wajah istrinya yang tampak pucat dan tanpa senyuman. Beda sekali saat mereka pertama kali bertemu yang selalu ceria dan tersenyum. "Apakah kau sudah makan vitamin yang diberikan dokter?"
"Menjelang tidur nanti aku akan memakannya," jawabnya.
...----------------...
__ADS_1
Marsha akhirnya bisa ke dapur setelah 3 bulan tidak melakukan aktivitasnya memasak. Ia menyajikan makan siang favorit suaminya.
Semenjak hamil, Bara semakin sayang dan cerewet padanya. Melarang dirinya melakukan pekerjaan yang dapat menguras tenaga.
"Mas, sejak Nia menikah kita belum pernah bertemu dengannya," ujar Marsha mengambikan lauk untuk suaminya.
"Ya, aku takut Robin melakukan hal buruk pada Nia," tuturnya. "Ku tahu bagaimana pria itu membenciku, Sha," lanjutnya.
"Semoga saja hal itu tidak terjadi," ujar Marsha.
"Mungkin ini karma untukku karena telah menyakitimu dan melarangmu bertemu dengan keluargamu," ungkap Bara menyesal.
"Mas, jangan diingat lagi. Kita berdoa semoga Nia baik-baik saja," Marsha mengelus punggung tangan suaminya yang berhadapan dengannya.
"Iya, sayang."
"Apa hari ini kamu tidak ingin jalan-jalan? Entah kemana gitu?" tawar Bara.
"Apa Mas mau menemaniku?"
"Terima kasih, Mas." Marsha tersenyum senang.
-
Marsha pergi menemui Weni teman kerjanya di toko ponsel yang dulunya menjadi tempat ia mengais
rejeki.
Sebelumnya ia sudah memberi tahu temannya akan menjemputnya di tempat kerja.
Begitu sampai, Weni memeluk erat sahabatnya itu. "Aku kangen sekali denganmu!"
"Aku juga!" ucap Marsha melepaskan pelukan Weni. "Bagaimana kalau kita mengobrol di kafe terdekat?" ajaknya.
"Aku mau!" jawab Weni semangat ia lalu melihat suami Marsha berdiri dekat mobil sembari memainkan ponselnya. "Bagaimana dengan suamimu?" tanyanya.
__ADS_1
"Dia akan ikut kita."
"Aku tidak mau kalau dia ikut, dia sangat galak!"
Marsha tertawa kecil, "Sekarang dia tidak galak lagi."
"Benarkah?"
"Iya, dia harus ikut kalau tidak aku tak bisa ke mana-mana."
"Kenapa?"
"Dia mengkhawatirkan aku dan calon bayi kami."
"Wah, kau hamil. Selamat, ya!" Weni tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Wen!" ucapnya. "Ayo, kita berangkat sekarang!" ajaknya.
"Wah, ada karyawan lama naik kelas," sindir Tania menghampiri dua sahabat itu.
"Bisa tidak mulutmu itu diam!" sentak Weni.
"Kecipratan dong kekayaan temannya," Tania menatap sinis Weni.
"Sayang, kenapa lama sekali mengobrolnya?" Bara memeluk pinggang istrinya.
"Maaf, Mas. Keenakan ngobrol sampai lupa waktu," jawab Marsha tersenyum.
"Sekarang kita mau ke mana lagi?" tanya Bara.
"Kita ke kafe terdekat saja, ku mau lanjut mengobrol dengan Weni di sana," jawabnya.
"Kalau begitu, kita ke sana," ajak Bara.
Marsha mengangguk berjalan bersama ke mobilnya di ikuti Weni dibelakangnya.
__ADS_1
Sebelum menyusul Marsha dan suaminya, ia menatap Tania dengan tersenyum mengejek. "Punya teman kaya raya sangat enak, ya. Kita bisa ikutan naik mobil mewah dan di ajak makan lagi." Ia pun berlalu.