Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Satu Sendok Berdua


__ADS_3

Kedua kini berada di warung bubur ayam. Mereka duduk saling berhadapan. Bara memandangi istrinya yang tampak salah tingkah.


Mereka adalah sepasang suami istri namun seperti sepasang kekasih yang tidak direstui. Bertemu secara diam-diam untuk sekedar mengobrol karena keduanya tidak menyimpan nomor ponsel.


"Kamu tidak sarapan?"


"Sebelum berangkat mengantar kue, aku sudah sarapan."


"Oh."


"Kenapa Mas tidak sarapan di rumah?"


"Tidak ada yang menyiapkan sarapan untukku, jadinya ku sarapan di kantor kadang tidak." Melirik istrinya.


"Mas bisa buat sendiri dan bayar pelayan untuk menyiapkannya," ujar Marsha.


"Ya, kamu benar. Tapi, aku ingin istriku semua yang menyiapkan sarapan untukku," Bara tersenyum.


"Kalau begitu Mas harus menikah," ceplos Marsha.


"Kamu ingin aku menikah lagi?"


"Mas bisa melepaskan aku dan menikah dengan orang lain," jawab Marsha.


"Apa kamu ingin berpisah denganku?" Bara menatap istrinya.


"Makanannya sudah datang, Mas makan saja dulu," ujar Marsha.


Bara mulai menyuapin ke mulutnya, Marsha menatap suaminya sesekali bermain ponsel.


Bara mengangkat sendok dan mengarahkannya ke mulut istrinya, "Makan!" tersenyum.


Marsha sejenak bingung akhirnya membuka mulutnya dan memakannya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Bara.


"Enak, Mas."

__ADS_1


"Kamu mau aku pesankan?"


"Tidak, Mas. Masih kenyang, lain kali saja," jawab Marsha.


"Baiklah," ujar Bara melanjutkan makannya.


"Mas, aku harus segera pulang. Mama pasti nyariin," ucapnya.


"Aku akan antar kamu," Bara menghentikan makannya.


"Mas, belum selesai makan."


"Tapi aku ingin mengantarkan istriku," ujar Bara.


"Selesaikan makannya, baru antar ku pulang," Marsha tersenyum.


Bara kembali melanjutkan makannya, setelah itu ia kembali mengikuti istrinya dari belakang pulang ke rumah orang tuanya.


-


-


"Hei, Pa. Ada apa?"


"Beberapa hari ini sering terlambat ke kantor, kamu dari mana saja?" Handoko balik bertanya.


"Aku menemui menantu Papa."


"Untuk apa? Bukankah kamu selalu menyakitinya?"


"Pa, ada alasan ku melakukan itu."


"Apa alasanmu melakukannya? Dendam? Tapi dalam hati kecilmu kamu mencintainya," ujar Handoko.


"Aku ingin menebus kesalahanku, Pa."


"Bagus akhirnya kamu menyadari apa artinya kehilangan. Sekarang kamu harus buktikan bahwa kekasihmu tidak hamil anakmu!"

__ADS_1


"Aku sudah memiliki bukti untuk menjerat Miranda," ungkapnya.


"Baguslah, itu artinya kamu bisa lepas darinya. Kalau tidak, Papa akan menyuruh Marsha menggugatmu lalu mencarikan suami untuknya," ujar Handoko.


"Papa ingin mencari jodoh untuk istri anaknya sendiri?"


"Ya, kenapa tidak? Bukankah dia berhak bahagia?"


"Papa, aku akan buktikan bahwa ku sudah berubah."


"Papa tunggu janjimu," Handoko kemudian berlalu meninggalkan ruang kerja putranya.


Setelah papanya pergi, Bara menelepon seseorang yang mengatakan jika Miranda telah berpindah apartemen.


Selesai menghubungi orang kepercayaannya, ia mencari kontak Miranda dan meneleponnya tak lama sambungan telepon itu tersambung.


"Kamu di mana? Kenapa sulit sekali dihubungi?" tanya Bara sengaja lembut.


"Aku harus pergi, Bara. Seseorang selalu mengancamku," jawabnya.


"Siapa yang mengancammu?"


"Kamu tidak perlu tahu."


"Apa kamu takut bertemu denganku karena memfitnahku?"


"Bukan begitu, Bara. Janin yang ku kandung adalah anakmu," jawabnya.


"Apa kamu bisa buktikan? Bagaimana kalau kita bertemu?"


"Aku tidak bisa menemanimu di luar, bagaimana kalau di tempat tinggal baruku?" usul Miranda.


"Baiklah, kirimkan alamatmu!" pintanya.


"Aku akan mengirimkannya," ujar Miranda kemudian ia menutup teleponnya.


Selang beberapa detik, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel. Bara melihatnya dan tersenyum, lalu ia mengirimkan alamat tersebut kepada anak buahnya untuk memastikan bahwa Miranda tinggal di sana atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2