Marsha, Milik Bara

Marsha, Milik Bara
Antara Kasihan dan Sayang


__ADS_3

Mendengar pertanyaan istrinya membuat Robin bingung. "Maksudnya apa?"


"Apa alasan Mas masih mempertahankan hubungan pernikahan kita?" Nia bertanya dengan lantang.


"Karena aku mencintaimu."


"Jangan bohong!" sentak Nia.


"Aku tidak berbohong," ucap Robin.


"Mas, mempertahankan ini karena kasihan denganku atau tidak ingin membantah permintaan Mama Clara?"


"Aku tidak mengerti dengan semua pertanyaanmu itu."


"Aku mendengar semuanya, Mas." Berkata dengan nada tinggi.


"Mendengar apa, Nia?" Robin pura-pura tidak tahu.


"Kamu bicara pada Kak Bara alasan mempertahankan aku," jawabnya.


"Itu tidak benar, Nia. Aku hanya berbohong padanya," ujar Robin.


Nia memilih meninggalkan kamar suaminya dan tidur di kamar tamu.


Robin mengejar istrinya ke kamar namun ke buru ditutup pintunya. Ia lalu menarik sudut bibirnya melihat ekspresi Nia begitu marah padanya.


...----------------...


Robin pergi ke meja makan namun istrinya tak tampak hanya pelayan yang lalu lalang. "Di mana istriku?"


"Nyonya belum keluar dari kamar, Tuan."


Robin pun pergi ke kamar istrinya begitu ingin pintu diketuk Nia sudah keluar dengan pakaian senam. "Kamu mau ke mana?"


"Tempat gym," jawab Nia sembari berjalan.


"Sejak kapan kamu ke tempat itu?" Robin mengikuti langkah istrinya..


"Sebelum aku menikah, ku sering ke sana."


"Kamu tidak boleh ke sana," larang Robin.


"Mas, hubungan kita cuma karena kasihan saja. Jadi, jangan mengganggu kesenanganku," Nia menaiki sepeda motor.


Entah kenapa Robin jadi kesal istrinya jadi pembangkang.


-


Beberapa orang teman Nia menyambut dirinya dengan senang. Mereka saling berpelukan melepaskan rindu karena sejak dirinya menikah tak pernah bertemu dan berkumpul sekedar mengobrol.


"Apa kabar, Nia?" sapa seorang pria dengan senyuman yang berprofesi instruktur.


"Baik, Kak." Nia tersenyum.


"Sudah lama kamu tidak ke sini," ujarnya.


"Ya, Kak. Ini mencoba menyempatkan waktu," jelas Nia.


"Ya, kami paham. Selamat bergabung kembali," ucapnya.


Nia membalasnya dengan tersenyum.


-


Tiga jam kemudian...


Robin mengerjai tugas kantornya di ruang keluarga sembari menunggu istrinya pulang. Sesekali melihat jam dinding. "Kenapa dia lama sekali?" gumamnya.


Jam menunjukkan sudah waktunya makan siang namun Nia juga belum pulang. Robin mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban dari istrinya itu.


Ia menutup laptopnya, meraih kunci dan ponselnya. Ia berdiri hendak menyusul istrinya ke tempat gym. Baru saja membuka pintu mobil, Nia muncul.


Tanpa menegur suaminya, dia bergegas turun dari sepeda motor memasuki rumah.


Robin kembali menutup pintu mobil dan menyusul istrinya. "Apa kamu sudah makan siang?"

__ADS_1


"Sudah tadi bersama temanku," jawab Nia ketus.


"Aku menunggumu untuk makan siang bersama," ujar Robin.


"Mas, kalau mau makan sendirian saja. Untuk apa menungguku?"


"Ya, karena aku biasanya makan bersamamu."


"Mulai hari ini, jangan menungguku untuk sekedar makan bersama," Nia berlalu kemudian ke kamar mandi.


Robin mengepalkan tangannya lalu ia layangkan di udara.


Robin masih menunggu istrinya selesai membersihkan diri. Namun Nia tetap cuek dan acuh.


Nia membuka lemari pakaian bersiap akan pergi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Robin yang duduk di sisi ranjang.


"Aku mau ke rumah orang tuaku," jawab Nia.


"Biar aku antar!"


"Tidak perlu, Mas."


Nia merias wajahnya dengan riasan tipis, kemudian ia meraih tas dan ponselnya.


"Bagaimana kalau Mama dan Papa menanyakan aku?"


"Ku akan jawab kalau Mas Robin lagi sibuk, jadi tenang saja," jawab Nia tersenyum tipis.


Robin tak bisa berkata-kata lagi ketika istrinya pergi menaiki taksi.


-


Nia tiba di rumah orang tuanya pukul 2 siang. Begitu sampai Mama Laras menyambutnya begitu hangat begitu juga dengan Handoko.


"Apa kabar, Nak?" sapa Laras.


"Baik, Ma."


"Mas Robin lagi ada pekerjaan di luar kota," jawab Nia berbohong.


"Papa pikir kamu dan Robin lagi bertengkar," ujar Handoko.


"Tidaklah, Pa." Nia memaksa tersenyum.


-


-


Tepat jam 9 malam, Nia baru pulang. Suaminya sudah menunggunya di ruang tamu dengan tatapan tajam.


Tanpa menghiraukannya, Nia pergi ke kamarnya. Robin lantas mengikuti wanita itu.


"Aku mau tidur, bisakah Mas keluar dari kamar ini?"


"Aku akan tidur di sini," jawab Robin.


"Baiklah, aku akan tidur di ruang tamu."


"Kau tetap di sini bersamaku," ujar Robin.


"Aku tidak mau, Mas!" tolak Nia.


"Kamu harus mau!" Robin berbicara tegas.


"Kenapa masih mau tidur bersamaku? Bukankah Mas tidak mencintaiku? Apa Mas cuma mau tubuhku saja tetapi tidak dengan hatiku?" tanya lantang.


Robin meraih tengkuk istrinya dan menyesap bibir Nia lebih dalam.


Sekuat tenaga Nia mendorong tubuh suaminya. "Kamu jahat, Mas!"


Robin hanya terdiam menatap istrinya.


"Aku benci kamu!" Nia menekankan kata-katanya. Ia mengambil bantal dan selimut.

__ADS_1


Robin dengan cepat meraih tangan istrinya.


Nia berusaha melepaskan tangan suaminya.


"Tetap di sini!" pinta Robin.


"Aku akan mengajukan gugatan cerai," ujar Nia.


"Aku tidak akan melepas dirimu!"


"Kamu egois, Mas!"


"Iya, aku memang egois. Kamu tidak bisa pergi dariku!"


"Kenapa? Apa kamu belum puas menyiksa perasaanku?"


Robin menggelengkan kepalanya.


"Apa sebenarnya mau kamu, Mas?" Nia bertanya dengan nada tinggi.


Robin tidak menjawab, ia malah memeluk erat tubuh istrinya.


Nia meneteskan air matanya, "Kenapa Mas tega melakukan ini kepadaku? Jika memang tidak mencintaiku, lepaskan aku. Jangan menyakitiku seperti ini."


"Tetaplah bersamaku," Robin berkata.


"Sampai kapan, Mas? Apa sampai kamu menemukan wanita yang benar-benar membuat jatuh cinta?" tanya Nia dengan terisak.


"Aku tidak tahu, Nia."


"Aku akan mencarikan wanita yang Mas mau, ku tidak mau dikasihani seperti ini," ujar Nia.


"Aku tidak mau wanita lain selain kamu."


"Jangan membuatku berharap lebih, kalau hatimu hanya ada rasa iba dan kasihan," Nia melepas pelukan suaminya.


"Maafkan aku yang belum mencintaimu seutuhnya," Robin tertunduk bersalah.


"Sampai kapan aku menunggumu bisa mencintaiku sepenuhnya? Lepaskan aku, makanya Mas bisa dengan leluasa jatuh cinta pada wanita lain. Tolong jangan siksa aku begini!"


"Beri aku waktu, Nia." Mohonnya.


"Baiklah, aku beri waktu untuk Mas Robin. Setelah itu lepaskan," ujar Nia.


Robin mengangguk.


Nia tak jadi ke ruang tamu dan memilih tidur di kamar bersama suaminya.


Robin menatap punggung istrinya yang membelakanginya. Biasanya dia akan bercanda dan bercerita dengan Nia sebelum tidur. Kini semuanya berubah wanita itu lebih memilih diam dan berkata seperlunya.


Nia mencoba menahan air matanya agar tak kembali menetes. Rasanya sakit mendengar ucapan suaminya ketika di rumah Kak Bara.


Tak ada cinta di hati suaminya yang ada hanya kasihan dan menyesal karena kehilangan calon bayi mereka.


...----------------...


Robin terbangun dari tidurnya dan melihat disampingnya istrinya tak ada.


Nia berdiri sambil berkaca memakai pakaian yang menampakkan lekuk tubuhnya yang ramping.


"Mau ke mana?" tanya Robin.


"Aku mau lari pagi sekitar lingkungan sini," jawab Nia.


"Dengan pakaian begini?"


"Iya."


"Apa kamu tidak bisa menggantinya dengan lebih tertutup?"


"Memangnya kenapa? Begini tampak cantik dan seksi, mana tahu nanti bertemu dengan pria yang tulus mencintaiku," jawab Nia jujur.


Robin tak bisa berkata-kata lagi.


"Aku pergi, Mas. Kalau mau sarapan duluan saja, jangan menungguku," ucap Nia kemudian berlalu.

__ADS_1


__ADS_2