
Dua orang pria yang menyerang Arum kembali menghampiri Galvin. Mereka mengaku menyerah karena tak sanggup menghadapi wanita itu.
"Sepertinya kita salah pilih target, Tuan," ucap salah satu diantaranya.
"Kalian itu yang bodoh harusnya pakai akal!"
"Memangnya Tuan berhasil mendapatkannya?" tanya yang lainnya.
"Belum juga, sih."
"Kami lihat Tuan juga meringis kesakitan ketika wanita itu memukul anda!"
"Ya, kita harus cari cara lain menghadapinya," ujar Galvin kemudian berlalu.
Begitu sampai rumah, Galvin menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia terus memikirkan untuk menghancurkan Robin. Namun, wajah Arum tersenyum terlintas dipikirannya. Ia duduk lalu mengacak rambutnya, dalam hati berkata," Jangan sampai aku jatuh hati padanya."
Sebuah panggilan telepon menyadarkan dirinya, ia lantas menjawabnya lalu menutupnya kembali. Tak lama ia kembali menghubungi nomor yang tadi. "Kakak sudah mengirimkan uang yang kamu minta!"
"Terima kasih, Kak!" ucap seorang wanita dari kejauhan.
Galvin kembali menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan tertidur.
...****************...
Keesokan harinya Galvin kembali bertemu dengan Arum bersama pria yang menjadi target utamanya. Mereka bertiga duduk bersama di ruangan kerja milik wanita cantik itu.
Galvin mengepalkan tangannya saat menatap Robin dihadapannya, namun ia berusaha bersikap santai dan tenang walau rasanya ingin memukul pria itu.
Setengah jam berbincang akhirnya Robin pun pamit. "Jangan lupa kontrol ke dokter dan minum obatnya," ia berucap sebelum pulang.
Galvin mengerutkan keningnya mendengar percakapan kakak beradik itu.
"Kakak tenang saja, aku akan pergi ke dokter nanti," ujar Arum.
Robin tersenyum setelah menyentuh pipi adiknya sekejap. Ia lalu pun pergi tak lupa berpamitan pada Galvin.
"Obrolan kita sudah selesai, apa anda tak ingin pulang?" Arum menatap pria yang ada dihadapannya.
"Apa anda sedang sakit?" tanya Galvin.
Arum hanya tersenyum.
"Sakit apa?" Galvin penasaran.
Bukan menjawab Arum malah berdiri.
"Apa perlu aku temani ke dokter?" Galvin menawarkan diri.
Arum menarik sudut bibirnya. "Apa anda tidak memiliki pekerjaan?"
"Aku lagi tidak sibuk," jawab Galvin.
"Saya bisa sendiri, terima kasih atas tawarannya," Arum berjalan meninggalkan ruangan.
-
Galvin menunggu di mobil ia melihat dari kejauhan kendaraan yang dikemudikan Arum meninggalkan gedung kantor.
Galvin lalu mengikuti laju kendaraan Arum.
Mobil berwarna kuning membelokkan arahnya ke sebuah rumah sakit. Arum turun dengan menjinjing tasnya.
Galvin mengikutinya dengan langkah pelan, ia tak mau wanita itu mengetahuinya dari jarak jauh ia melihat Arum memasuki dokter bedah saraf.
Galvin tidak menunggu Arum keluar dari ruangan ia malah pergi, berbagai pertanyaan muncul dibenaknya. Penyakit apa yang diderita putri kedua keluarga Alonso itu.
__ADS_1
-
Sementara itu di negara lain, Tia mengerjapkan matanya saat mendengar sayup-sayup suara ketukan. Jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi, dengan langkah gontai ia membuka pintu.
"Kenapa kau sepagi ini sudah ke sini?" protesnya.
"Ini sudah siang, Nona. Saya akan datang jam segini sampai jam sepuluh malam," jawab Key.
"Iya, tapi kau mau apa ke sini?"
"Selama beberapa hari di sini saya akan mengawasi dan menjaga Nona Tia," jawab Key lagi.
"Aku bukan anak kecil lagi, lebih baik kau pulang saja ke tanah air."
"Apa Nona yakin kalau saya kembali pulang?"
"Yakinlah," jawab Tia mantap.
"Nona tidak akan merindukan saya?"
"Percaya dirimu sangat tinggi sekali," Tia tersenyum sinis.
"Lebih baik Nona segera mandi, lima menit lagi kita akan ke sekolah," ujar Key.
Tia menepuk jidatnya, "Astaga aku lupa!" ia lalu bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.
Key menunggu di mobil.
Beberapa menit kemudian Tia berlari memasuki mobil, "Ayo jalan!" titahnya.
Key pun melajukan kendaraannya.
"Cepat dikit, Key!" Tia bersuara keras.
"Aku bisa menggunakan alarm," jawab Tia.
"Apa Nona yakin? Selama di sini, anda sudah lima kali terlambat," ungkap Key.
"Lain waktu aku tidak akan terlambat," janji Tia sambil memanyunkan bibirnya.
Key mengulum senyumnya melihat ekspresi putri atasannya dari kaca spion.
-
-
Marsha mendorong troli sambil memilah milih belanjaannya. Ia berhenti di rak yang menyediakan diapers bayi, ia mencoba mengambilnya namun tangannya tak sampai hingga seseorang membantunya.
"Terima kasih," ucap Marsha. "Mark!" lanjutnya lagi.
"Kamu sendirian?" tanya pria itu.
"Dengan Mas Bara."
"Di mana dia?"
"Lagi di dalam mobil dengan putri kami," jawabnya.
"Oh," ucap Mark singkat.
"Saya duluan, ya!" Marsha pamit sambil mendorong trolinya.
Mark lantas bergegas membantu mantan karyawannya mendorong troli.
"Tidak usah, biar saya sendiri saja!" Marsha menolak bantuan mantan bosnya.
__ADS_1
"Biar aku saja, ku tega melihatmu mendorong ini," ujar Mark yang tetap maksa.
Tanpa mereka sadari, Bara memergoki keduanya. "Pantas lama sekali, ternyata asyik mengobrol," omelnya.
"Mas, aku hanya kebetulan bertemu dengannya saja di sini. Dia membantuku membawakan belanjaan ini," jelas Marsha.
"Alasan saja!" Bara memasang wajah tak suka.
"Yang dikatakan Marsha benar," sahut Mark.
"Aku tidak bisa bicara dengan anda," Bara menatap sinis.
"Ternyata begini kelakuan anda kepada istri," sindir Mark.
"Mas, sudahlah. Ayo kita bayar ini dulu," Marsha mengambil alih menggendong putrinya dan suaminya mendorong troli.
"Jika anda masih memperlakukan Marsha seperti itu, aku akan merebutnya darimu!" Mark berkata pelan dengan tatapan sinis.
Bara harus menarik simpul senyumnya.
-
"Mantan atasanmu itu memang ingin cari masalah denganku," oceh Bara.
"Sudahlah, Mas. Jangan di perpanjang yang penting hatiku saat ini untukmu," Marsha berusaha meredam amarah suaminya.
"Apa kau dulu punya rasa padanya?"
Marsha menggelengkan kepalanya.
"Berarti dia yang berharap samamu. Aku tidak akan pernah membiarkan dirinya mengambil kamu," ujar Bara.
"Iya, sayang. Marsha, milik Bara. Apa kamu sudah puas sekarang?" sengaja menekankan ucapannya.
"Ya, aku puas. Terima kasih, ya!" Bara tersenyum hangat.
Marsha mengecup pipi suaminya. "Ayo sayang, cium Papa biar tak mengomel!" ia mendekatkan bayi mungil berusia 6 bulan.
"Anak Papa pintar," Bara tersenyum manis melihat wajah putrinya dan dibalas senyum nyengir bayi mungil itu.
Ditengah perjalanan, mobil mendadak berhenti tiba-tiba. Membuat Bara dan istrinya terkejut, beruntung putri kecilnya di dalam pangkuannya.
"Ada apa?" tanya Bara.
"Maaf, Tuan. Ada mobil yang menyalip, jadi saya terpaksa mengerem mendadak," jelas sopir. Lalu melanjutkan perjalanannya.
Bara melihat plat kendaraan, pengendara mobil yang hampir membuat celaka mereka. "Aku seperti mengenal plat nomor itu," gumamnya.
"Memangnya siapa?" tanya Marsha.
"Seperti mobil Robin," jawab Bara.
"Bukannya mobil Robin yang dipakai Mama sekarang?"
"Iya, tapi aku ingat itu mobil Robin juga."
"Nanti kita tanyakan saja padanya," usul Marsha.
Bara menganggukan kepalanya setuju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like, komen dan vote...
Selamat Membaca 🌹
__ADS_1