
Jarum jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Namun, Marsha sudah didesak untuk mengantarkan pesanan.
"Cepat, Nak. Antarkan kue ini ke alamat Jingga," titah Mira.
"Itu alamat perumahan mewah. Memangnya siapa yang pesan kue Mama?"
"Pria yang pernah memborong motor kita," jawab Mira.
"Bara?"
"Oh, jadi namanya Bara. Mama baru ingat," jelas Mira.
"Ya sudah, nanti aku antar. Papa mana, Ma?"
"Papa tidak bisa menemanimu," sahut Candra dari arah dapur.
"Kenapa?" Wajah Marsha tampak cemberut.
"Papa ada banyak pekerjaan nanti jam sembilan ada calon pembeli datang," jawab Candra.
"Ya sudah, aku mandi dulu, Ma!" Marsha ke kamar dan bersiap untuk mengantar kue.
-
Pukul 7 pagi, Marsha tiba di kediaman Bara. Ia melihat ke kanan dan kiri mencari sesuatu. "Di sini rupanya!" ia memencet bel.
Seorang pelayan pria keluar dari dalam rumah, membuka pagar sedikit, "Cari siapa?"
"Tuan Bara."
"Anda tidak salah, mencari Tuan Bara?" Ia melihat penampilan Marsha.
"Saya ke sini ingin mengantarkan kue pesanannya," jawabnya.
"Sejak kapan Tuan Bara memesan kue seorang diri, biasanya Nyonya Laras?" batin pelayan pria itu bertanya.
"Apa saya bisa bertemu dengannya?" Marsha membuyarkan lamunan pelayan pria itu.
"Tuan Bara sudah pergi," jawabnya.
"Kalau begitu kue ini saya titipkan kepada anda saja," ia menyodorkan dua kotak wadah sedang.
Pelayan pria itu menerimanya. "Nama kamu siapa?"
"Saya Marsha."
__ADS_1
"Nanti saya akan sampaikan pada Tuan Bara," ujarnya.
Marsha mengucapkan terima kasih, setelah itu ia berlalu.
Pelayan pria masuk ke dalam, "Nyonya, tadi ada wanita muda yang mengantarkan kue pesanan Tuan Bara!" menyodorkan wadah.
"Kue? Tidak biasanya," Laras menerima wadah tersebut.
"Saya juga heran, Nyonya!"
"Ya sudah, kau boleh pergi!"
"Permisi, Nyonya!" pamit pelayan pria pergi.
Laras mulai mencicipi kue pesanan putranya, ia memakan satu persatu dari 5 jenis kue yang ada. "Enak sekali!" ia tersenyum.
Laras lalu mengambil ponselnya menghubungi putranya.
"Halo, Ma!" sapa Bara dari ujung telepon.
"Halo, Nak. Di mana kamu membeli kue ini?"
"Kue?"
"Oh, itu memang Bara yang pesan."
"Kuenya sangat enak, Mama suka."
"Baguslah kalau Mama suka."
"Kue ini buat Mama saja, ya!"
"Memangnya Mama mau menghabisi semuanya?"
"Tidak juga, mau Mama bagikan dengan pelayan yang lain," jawabnya.
"Terserah, Mama saja. Aku lanjut kerja lagi, Ma."
"Ya, Nak." Mira menutup teleponnya lalu menikmati kue buatan lagi.
...****************...
Beberapa hari kemudian, Bara kembali lagi datang ke rumah orang tua Marsha setelah wanita itu pergi bekerja.
"Siang, Bi!" sapanya.
__ADS_1
"Eh, Tuan Bara. Mari masuk, mau pesan kue lagi?" Mira tersenyum.
"Ya, Bi. Mama sangat senang dengan kue buatan Bibi," jawab Bara tersenyum.
"Syukurlah," Mira tersenyum lega. "Mau pesan berapa?" tanyanya lagi.
"Seratus buah saja, Bi."
"Baiklah, nanti Bibi akan buatkan. Ini buat hari apa?"
"Besok pagi, antar lagi!" jawab Bara.
"Baiklah, besok Bibi akan menyuruh Marsha mengantarkannya," ujar Mira.
"Paman di mana?"
"Ada di belakang, sebentar Bibi panggilkan," Mira berdiri dan mencari suaminya.
Tak lama kemudian ia dan Candra muncul menghampiri Bara di teras rumah.
"Tuan Bara!" sapa Candra.
"Siang, Paman. Saya ke sini selain mau pesan kue, ingin membeli lagi motor," ujar Bara.
"Wah, benarkah?" Candra tersenyum senang begitu juga dengan Mira.
"Saya pesan dua unit motor," pinta Bara.
"Ada, Tuan. Kapan akan diambil?" Candra begitu antusias.
"Hari ini," jawab Bara.
"Sebentar saya akan persiapkan berkas-berkasnya," Candra beranjak berdiri.
"Tak perlu terburu-buru, Paman. Duduklah dulu," titah Bara dengan ramah.
Candra kembali duduk di samping istrinya.
"Saya mau tanya sesuatu kepada kalian?"
"Tanya apa, Tuan?" Mira bertanya.
"Apa putri kalian sudah memiliki kekasih atau calon suami?" tanya Bara.
Candra dan Mira saling pandang.
__ADS_1