
Bara mendatangi rumah Miranda keesokan harinya. Ia tersenyum menatap kekasihnya, oh tidak sekarang akan menjadi mantan.
Dengan tersenyum Bara kali ini menyapa Miranda. "Apa kabar?"
"Hei, Bara. Kenapa kamu tidak bilang mau ke sini?" Miranda terlihat gugup.
"Kenapa harus bilang? Apa kamu sedang bertemu dengan orang lain?"
"Sayang, siapa yang datang?" seorang pria lebih tua 4 tahun dari Bara menghampiri Miranda.
"Dia siapa?" tanya Bara seolah-olah tidak tahu.
"Anda siapa?" Pria tersebut balik bertanya.
"Miranda, bisakah kamu menjelaskannya?" pinta Bara.
"Eh..." Miranda sulit berkata-kata.
Bara menarik sudut bibirnya, "Mau berkata jujur?"
"Bara, aku minta maaf. Sebenarnya selama ini ku berbohong," jawabnya.
"Sayang, maksudnya apa?" tanya pria itu pada Miranda.
"Dia kekasihku, Mas." Miranda menundukkan kepalanya.
"Jadi, kau mengkhianati aku!" bentak pria tersebut.
"Dia berbohong, kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Jika kalian ingin melanjutkan tidak masalah," ujar Bara tersenyum.
"Aku tidak mengerti, Miranda. Ada apa sebenarnya?"
"Miranda, aku mohon tolong kerja samanya. Dengan siapa selama ini kau bekerja?"pinta Bara.
"Sayang, nanti aku akan jelaskan!" menatap kekasih selingkuhannya.
"Jika kau ingin memberi tahu aku, keselamatanmu akan terjamin," ujar Bara. "Aku sudah menyimpan foto dirimu dengan pria ini sebagai buktiku kepada istri dan kedua orang tuaku," lanjutnya. Ia lalu pergi meninggalkan rumah Miranda.
-
-
Hari itu juga, Bara menemui kedua orang tuanya. Hatinya sangat rindu kepada Mama Laras. Namun, karena dia belum memiliki bukti ia tak berani menemuinya.
__ADS_1
"Ma, Kak Bara datang!" ujar Tia.
Laras berdiri menatap putranya yang sangat ia rindukan hampir dua pekan mereka tidak bertemu dan bertukar kabar. "Ada perlu apa ke sini?" bersikap ketus.
"Aku ingin memberikan bukti kalau diriku tak bersalah," jawab Bara.
"Baguslah," ucapnya ketus.
"Di mana Papa, Ma?"
"Papa di sini, ada apa kamu ke sini?" Handoko mendekati istrinya yang sedang bersantai di ruang tamu.
Bara menyodorkan beberapa foto kebersamaan Miranda dengan seorang pria.
Handoko dan Laras melihat foto-foto tersebut.
"Aku tadi bertemu dengan pria yang ada di foto di rumah Miranda," ujarnya.
"Jadi, langkah selanjutmu apa?" tanya Handoko.
"Membawa kembali Marsha bersamaku dan mengungkapkan dalang di belakang Miranda," jawab Bara.
"Jadi, Miranda pura-pura hamil?" tanya Laras pada putranya.
"Ya, Ma."
"Ma, Pa, aku harus menemui Marsha," ujarnya.
"Bara!" panggil Laras saat hendak pergi.
"Ya, Ma."
"Jangan sakiti Marsha lagi, jika kamu berani. Kami akan menjodohkannya dengan pria lain," ujar Laras.
"Aku janji, Ma, Pa. Tidak akan menyakitinya dan mencintainya," ucap Bara.
"Kami pegang janjimu!" Kata Handoko tegas.
-
-
Selepas dari rumah orang tuanya, Bara mendatangi kediaman mertuanya. Tampak sebuah mobil terparkir di halaman rumah.
__ADS_1
Bara memasuki rumah mertuanya, tak lupa memberikan salam dan menyapa. Ia duduk di sebelah tamu mertuanya dengan memaksakan tersenyum.
Ya, tamu yang datang adalah pria yang pernah lihat berbicara dengan Marsha di jalan. Bara menatap tak suka pria itu.
Marsha membawa 3 cangkir teh, ia tidak tahu kalau suaminya datang. "Maaf, cuma segini. Aku akan membuat minumannya lagi buat Mas Bara."
"Tidak usah, Sha. Mas ke sini ingin menjemputmu pulang," ujarnya.
"Jadi ini suami Marsha, Paman?" tanya Mark yang tidak tahu karena memang tak diberi tahu.
"Ya, kenalkan saya Bara Hermawan Kartajaya," Ia mengulurkan tangannya.
"Saya Mark Ferdian," pria itu menyambut tangan Bara dengan tersenyum.
Marsha hanya mengulum senyum melihat dua pria yang menyukainya saling menyapa dan berkenalan.
"Hemm, kalau begitu saya pamit pulang, Paman, Bibi," ujar Mark.
"Ya, Mark. Terima kasih buah-buahannya," ucap Mira.
"Sama-sama, Bibi." Mark pun berpamitan tak lupa juga kepada Bara dan Marsha.
Mobil Mark sudah menghilang dari pandangan, Bara akhirnya memberanikan bicara.
"Pa, Ma, saya memiliki bukti kalau tidak bersalah," menunjukkan foto.
Marsha dan kedua orang tuanya melihat foto kemudian saling pandang.
"Dia tidak hamil dan hanya berbohong," ujar Bara.
"Dari mana Mas tahu?" tanya Marsha.
"Tadi Mas ke rumahnya dan perutnya tidak membesar," jawab Bara.
Marsha dan kedua orang tuanya saling pandang kembali.
"Dia sudah mengakuinya," jelas Bara lagi.
"Papa serahkan keputusan kepadamu, Marsha."
"Marsha mau kembali lagi bersama Mas Bara, Ma, Pa."
Bara yang mendengarnya tersenyum senang dan bahagia.
__ADS_1