
Marsha menunggu pernyataan dari suaminya, alasan dia menikahi dirinya.
"Apa kau ingat sepuluh tahun yang lalu di sekolah SMA Maju Raya?" Bara melepaskan genggaman tangannya.
Marsha menggelengkan kepalanya.
"Ada seorang remaja pria memakai kacamata dan tampak culun mendekatimu dengan membawa bunga mawar. Apa kau ingat?" Bara bertanya dengan lantang membuat Marsha ketakutan.
"Kau menolakku dengan membuang mawar itu di depan teman-temanmu, lalu kau bilang pada remaja itu tidak pantas jatuh cinta padamu. Apa kau belum mengingatnya?" Bara mendekati wajahnya di depan istrinya yang gemetaran dan menangis.
"Jangan menangis!" bentak Bara. "Kau wanita jahat, Marsha!" lanjutnya.
Marsha menggelengkan kepalanya, semua tuduhan itu tidak benar ada alasan dia melakukannya.
"Kau wanita yang sombong dan angkuh!" tunjuknya.
"Aku bisa jelaskan, itu tidak benar!" Marsha bicara dengan terbata berlinang air mata.
"Kau sengaja melakukan itu, apa kau lupa telah mengurungku di kelas kosong? Pernah menyiram minuman di wajahku, karena perlakuanmu aku jadi membencimu dan ingin menghancurkan semua impianmu!"
"Dan impianmu sekarang terwujud, Mas!" sambung Marsha.
"Ya, kau benar!" Bara tersenyum puas.
"Lakukanlah sepuas hatimu, jika itu bisa meluapkan rasa dendammu!" ucap Marsha tersenyum menyeringai.
Melihat istrinya tersenyum membuat ia terhina, Bara lantas menampar kembali Marsha hingga membuat wanita itu lemah dan pingsan.
Ia lantas meninggalkannya begitu saja tanpa memperdulikannya.
-
-
Bara masih berada di dalam kamarnya, ia benar-benar tidak peduli dengan istrinya yang tergeletak tak berdaya. Suara deburan air dari arah kolam renang, membuat kakinya melangkah menuju jendela dan melihatnya.
__ADS_1
Dari kejauhan Bara melihat istrinya sedang berenang, "Bisa-bisanya dia berenang di malam hari," gumamnya menarik sudut bibirnya.
Ia terus memperhatikan Marsha yang perlahan menenggelamkan dirinya di dalam kolam. Bara terus menunggu istrinya itu muncul.
Satu detik....
Lima detik....
Sepuluh detik....
Hingga dua puluh detik Marsha tak muncul di permukaan.
Bara bergegas berlari turun dari kamarnya menuju kolam renang. "Marsha!" teriaknya.
Pendengaran istrinya tidak meresponnya, ia langsung menyebur ke kolam. Bara mengangkat tubuh istrinya yang diam. Ia menekan perut lalu memberikan nafas buatan, tak lama kemudian Marsha membuka matanya.
Tanpa bertanya, Bara mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Bara hendak membuka baju istrinya namun dengan cepat sebuah tangan menghentikannya.
"Biar aku bantu!" tawar Bara.
"Tidak perlu!" tolaknya dengan dingin. Marsha berjalan pelan menuju kamarnya, Bara terus mengikutinya dari belakang.
"Apa kau yakin bisa sendiri?"
Marsha tetap diam.
Begitu pintu kamar istrinya tertutup, Bara kembali ke kamarnya.
...----------------...
Suara bersin dan batuk terdengar Bara yang sedang menikmati sarapan yang sudah tersaji.
Ya, Marsha kembali ke kamarnya setelah membuat sarapan untuk suaminya. Dengan berselimut, ia tampak menggigil.
__ADS_1
Bara mendekati kamar istrinya, perlahan membuka pintu. "Apa kau sakit?"
"Jangan pedulikan aku!" jawab Marsha dengan bibir gemetar.
"Ini rumahku, tentunya aku harus tahu kondisi penghuninya," ujar Bara.
"Pergilah, aku hanya butuh istirahat saja!" titah Marsha lirih.
"Aku akan membawamu ke dokter," Bara mendekati ranjang istrinya.
Marsha bergegas bangun, "Siapa yang menyuruhmu masuk?"
"Ini rumahku dan aku berhak!" jawabnya lagi.
"Simpan saja uangmu, sebentar lagi juga aku akan sembuh," ujar Marsha penuh yakin.
"Apa semalam kau sengaja menenggelamkan diri di kolam?"
"Ya," jawab Marsha.
"Aku tidak mengizinkan kau mati di rumahku," ujar Bara.
"Kenapa? Bukankah kau senang jika aku mati?"
"Ku tidak mau saja, keluargamu dan aku menanyakan tentang kematianmu," Bara menjawab dengan santai.
"Pergilah dari kamarku!" perintah Marsha.
Suara bel berbunyi membuat keduanya menghentikan percakapannya.
"Aku akan membuka pintunya," tawar Marsha.
"Biar aku saja!" Bara keluar dari kamar istrinya dan membuka pintu utama.
Ketika dibuka seorang wanita tersenyum ke arah Bara. "Aku mau minta maaf!"
__ADS_1