
"Seminggu berlalu semenjak Fitri keluar meninggalkan rumah sakit Mitra Husada, kini keadaan Fitri sudah agak membaik hanya mata kanannya sajalah yang masih belum setabil.
Bapak terimakasih udah manjadi bapak Fitri, Bapak yang tenang disana serahkan yang disini pada Fitri dan kak, Takim. "ujar Fitri dihadapan sebuah makam, yang berlahan tangannya merabah batu nissan yang bertuliskan
UDIN BIN BULAN.
"Ternyata itu makam ayahnya yang sudah pergi meninggalkan Fitri, tapi dia tahu ayah nyalah yang telah menyelamatkan hidupnya, awalnya dia tidak bisa menerima kenyataan ayahnya sudah tiada.
"Seminggu sebelumnya"
Fitri bapakmu sudah tiada. "ucap Siti yang berat hati, sambil menangis sedih, namun dia harus memberi tahu Fitri kenyataan tentang ayahnya walau begitu pedih dihatinya.
"Fitri yang mendengar ucapan ibunya, hanya bisa terpaku diam, dengan kedua mata tidak berkedip sedikitpun, tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipinya, Siti yang melihat putrinya shock segera memeluknya, mencoba membujuk Fitri untuk menerima kenyataan.
Fit, ibu sudah kehilangan bapakmu, ibulah orang pertama yang mencintai bapakmu, dari itu ibu akan berjuang keras demi bapakmu, untuk tetap hidup bersama kalian, itulah permintaan trakhir dari bapakmu kepada ibu. "ucap Siti menahan kesedihannya didepan Fitri, sambil membelai rambut putri tercintanya.
__ADS_1
"disaat bersamaan Fitri mengingat mimpinya, perlakuan ibunya sama seperti ayahnya didalam mimpinya itu, Fitri mengingat setiap perkataan ayahnya pada saat itu.
Maaf bu, Fitri bertingkah seperti anak kecil, " ucap Fiitri dengan mendekap erat ibunya, sambil menahan tetesan air mata.
"Hari demi hari yang dilewati Fitri di rumah sakit, berlahan mulai terbiasa dengan perlakuan dari pihak rumah sakit yang berusaha memberi perawatan terbaik, pada suatu hari seseorang pria berumur 40tahun datang menjengguk dia, yang ternyata Rohman teman kerja bapaknya, Fitri sedikit mendengar obrolan Rohman dengan ibunya.
Maaf bu Siti, saya baru sempat datang menjenguk, dan saya juga turut bela sungkawa dengan keadaan yang menimpah bang Udin, beliau sosok orang yang baik di mata saya, Oia bu, ini ada sedikit uang dari saya pribadadi, dan didalam amplop ini ada gaji bang Udin yang ditinggalkannya. "ucap Rohman dengan berharap mengambil uang tersebut, sambil tersenyum kearah Fitri yang dari tadi menatap kearah Rohman.
Apa bener uang ini buat kami. "ucap Siti yang terlihat senang melihat uang yang lumayan banyak, biar bagainamapun memang mereka sekarang lagi membutuhkan uang.
"Rohman melihat mereka sedikit lebih senang, akibat kehilanga sosok kepala rumah tangga, ditengah obrolan Takim meminta pekerjaan kepada Rohman, untuk menggantikan ayahnya, melihat kondisi mereka sekarang Rohman meminta waktu untuk berpikir.
Kamu sekarang kelas berapa? ucap Rohman menepuk bahu Takim.
Saya mau masuk SMA pak, "jawab Takim dengan sedikit gugup, membuat kakinya sedikit bergetar.
__ADS_1
Baiklah tapi kamu tahukan kerjaan bapakmu? ini kerjaan yang cukup menegangkan lho! "ucap Rohman dengan tertawa, sambil menakut-nakuti Takim.
"Tentu saja Takim tahu pekerjaan ayahnya, karna ayahnya selalu cerita tentang kerjaannya kepada Takim, pekerjaan yang dilakukan Rohman hanya mengambil mayat diberbagai tempat dimana saja, diberbagai wilayah sesuai perintah atasan yang mendapat kabar dari pihak kepolisian.
Takim kamu tidak usah bekerja biar ibu yang akan bekerja kamu dan adikmu Fitri cukup bersekolah saja. "ucap Siti yang tidak setujuh jika Takim putus sekolah.
Tenang bu Siti, Takim akan tetap sekolah karna saya akan menempatkan Takim pada malam hari, jadi dia bisa sekolah pada siang hari, cuma yang jadi pertanyaan kuat tidak dia menjalaninya? "ucap Rohman dengan sedikit menakuti Takim.
"Tentu saja Takim sudah siap dengan resiko pekerjaannya, mengetahui putranya sudah bertekat, akhirnya Siti mengizinkan Takim bekerja dengan Rohman, menggantikan posisi ayahnya, namun Rohman menyarankan agar Siti untuk Pindah rumah, ketempat yang lebih dekat dari tempat Takim bekerja, dalam seminggu kedepan Rohman akan datang kembali untuk menjemput mereka ketempat tinggal baru yang sudah tersedia, untuk para pekerja yang ingin tinggal lebih dekat dari tempat kerjanya nanti.
..."Seminggu kemudian"...
Fit, ayo kita berangkat. "ucap Siti melambaikan tangan sambil teriak memanggil.
Bapak Fitri pamit yah, untuk menjalani hidup baru. "ucap Fitri tersenyum memandangi makam ayahnya, sambil beranjak pergi meninggalkan makam yang penuh dengan bunga.
__ADS_1
"Kisah apa lagi yang akan dialami keluarga Fitri?..
"BERSAMBUNG!!!....