MATA KEMATIAN

MATA KEMATIAN
KENANGAN SITI


__ADS_3

...DUNIA MANUSIA...


"sudah hampir seminggu Takim meninggalkan Ibunya, pergi mencari Adiknya Fitri, nampak Siti yang sedang menjemur pakaian, dihalaman rumahnya, Siti bekerja sebagai tukang cuci disekitar rumahnya, dari keluarga yang begitu sibuk bekerja, Siti menawarkan diri sebagai tukang cuci dikeluarga tersebut, dia membawa pakaian mereka pulang untuk dikerjakan dirumahnya sendiri, Siti mencuci pakaian mereka setiap hari senin dan Kamis, dibayar 50ribu setiap kali mencuci pakaian mereka.


Bagaimana keadaan Anak-anakku sekarang? apa Takim sudah menemukan Fitri?. "gumam Siti yang sambil menjemur pakaian.


"disaat yang sama Maria datang menghampiri, melihat keadaan Ibunya Takim, yang melamun karena ditinggal Anak-anaknya, Maria mencoba sedikit menghibur Ibunya Takim.


...Assalamu'alaikum. Bu,...


...Wa'alaikum salam....


eh, Maria. bagaimana kabar bapakmu? "tanya Siti sambil menjemur pakaian.


Alhamdulillah, bapak sehat Bu. "saut Maria dengan niat ingin membatu Siti.


"Mereka mengobrol banyak, berbagai topik pembicaraan yang berbeda-beda, sehingga Ibu Takim menceritakan, saat-saat pertama kali bertemu dengan mendiang Suaminya.


Asal Kamu tahu Maria, saat Ibu melahirkan Takim, banyak kesulitan yang Ibu dan Ayah Takim lalui. "mengenang masa lalu.


Saat Ibu, masih berumur 18 tahun, Ibu sudah tidak bersekolah, Ibu bekerja sebagai penjaga toko, disebuah toko bunga....


...MENGENANG MASA LALU.......


"pada saat itu, Aku sedang menyiram bunga mawar, tanpa disadar seekor kucing hitam mengagetkanku, sehingga Aku menyiram seorang laki-laki yang berjalan didepan tokoku bekerja, Aku segera meminta maaf sambil membungkukkan badanku, namun dia masih tidak terima, lelaki itu, bersama dengan ketiga temannya membawa paksaku, ketempat yang tidak dilalui orang banyak.

__ADS_1


Lalu apa yang terjadi?. "tanya Maria yang penasaran dengan cerita Ibu Takim.


"Aku ketakutan, salah satu dari teman lelaki itu mencoba menarik pakaianku, hingga membuat robekan pada lengan baju kiriku, Aku berusaha berteriak namun lelaki yang satunya segera mendekap mulutku, mataku merelalat ketakutan ketika lelaki yang Aku siram mencoba menciumku, disaat itulah, datang seorang pemuda yang memakai baju seragam sekolah.


Penampilannya saat itu sungguh lucu, namun lumayan keren. "ujar Siti yang membayangi, suaminya masih remaja.


lah, memang kenapa dengan penampilan suami Ibu waktu remaja? apa dia tidak mirip dengan Takim?. "ucap rasa penasaran Maria.


"kemunculan remaja itu, membuat para lelaki menoleh kearahnya, dengan cepat Aku menggigit tangan lelaki yang mendekapku.


Auuu, dasar wanita kurang ajar. "ujat teriak lelaki yang mendekapku, sambil kesakitan.


"Aku segera berlari kebalik tubuh remaja tersebut, dengan memakai seragam sekolah, dia mengucapkan kata-kata yang membuatku sedikit tenang, sambil merapikan rambut keribonya.


Kau tahu jamur kriwil Maria?...


Seperti itulah rambut Suamiku saat masih remaja. "gumam Siti dengan tertawa lepas.


"Dia membawaku pergi dari para kelaki itu, karena dia tahu, dia tidak mampu melawan mereka.


hai, Kau ngak ngapa-ngapa? oia kenalin Aku Udin, pria ganteng diwilayah ini. "ucap dengan PD.


"mendengar perkataanya Aku tertawa geli, melihat rambut kribonya saja bikin Aku mules, namun dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya, Aku melihat senyumannya saat itu, sangat manis, dari situ Aku mulai ada rasa dengannya, setelah itu, Kami selalu bertemu. hingga pada hari itu, seorang pria dengan sebuah mobil pajero hitam, turun dengan mengenakan belangko dikepala seperti dukun datang menghampiri Kami.


Udin ayo, kita pulang, Kau harus menjadi pewaris Ayah. "dengan tatapan sinis.

__ADS_1


ngak, Udin, ngak mau pulang, Udin juga ngak mau nerima warisan dari Ayah, Udin ingin hidup normal, lebih baik Ayah cari yang mau saja. "teriakannya membuat Ayahnya semakin marah.


Ayah tunggu 1tahun lagi, pastikan Kau sudah siap "ucap Ayah Udin, yang segera pergi.


"setelah 1 tahun Kami menikah, Udin bekerja dibidang industri pangan, Kami pindah dari tempat yang lama ketempat yang baru, Kami bersembunyi dari kejaran Ayah mertuaku, sampai akhirnya Aku hamil, usia kandunganku sudah mencapai pada waktunya, Udin mengajak Aku periksa kedokter, namun saat diperjalanan Kami dicegal oleh Ayah mertuaku, Kami berusaha menghindar jauh darinya, dalam keadaan perut sebesar gentong Aku berlari dari kejaran Ayah mertuaku sendiri. Udin yang melihatku kesakitan memperlambat larinya, nampak wajah seriusnya yang melihat kearah Ayahnya.


Baiklah Aku bersedia mewarisi semua ilmu yang kau miliki Ayah. "ucap Suamiku dengan tangisan terseduh-seduh.


sepertinya Aku sudah, tidak membutuhkanmu lagi. "ujar Ayah mertuaku sambil, melirik kearah perutku.


"setelah itu, Ayah mertuakupun pergi begitu saja, sambil memberikan senyumblah uang yang besar, sambil berjalan kearah mobil, Ayah mertuaku berkata.


Rawat Cucukku dengan baik, "ucap keras Ayah mertuaku.


"mendengar ucapan Ayah mertua, Suamiku berteriak histeri, Aku mencoba menenangkan Suamiku, namun tangisannya semakin menjadi, masuk ketahap persalinan, dokter memasang alat bantu pernapasan, menusukan jarum suntik kelenganku, pandanganku mulai memudar, sebelum Aku kehilangan kesadaran Aku melihat sosok Ayah mertuaku, yang berdiri diantara para dokter, sambil memegang perutku yang sebesar gentong, setelah itu, Aku sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi.


Begitulah ceritaku saat bersama dengan mendiang Suamiku. "ucap


Siti dengan meminun segelas teh.


kesulitannya apa Bu? "penasaran Maria, dengan cerita Siti.


hal, itu dirahasiakan oleh Suamiku. "jawab Siti, yang sebenarnya dia juga tidak tahu.


Apakah Siti bisa bertemu lagi dengan Anak‐anaknya?...

__ADS_1


"BERSAMBUNG!!!....


__ADS_2