
...Mayat Rel Kereta Api...
..."Assalamua'alaikum"...
Nampak Fitri yang baru pulang dari tempat kerjanya, berdiri didepan pintu rumah sambil mengetuk pelan.
...tok... tok... tok......
"Bu, Fitri pulang. "suara Fitri dari depan rumah yang terdengar oleh Takim.
Berlahan Takim berjalan menujuh keruang utama, menghampiri suara dibalik pintu rumah.
..."Wa'alaikum Salam"...
"baru pulang Fit? memang langsung bekerja hari ini?. "ucap Takim, sambil membukakan pintu untuk Adiknya.
"iya Bang, sebenernya pemilik toko menyuruhku bekerja besok, tapi Aku kepinginnya hari ini juga. "saut Fitri, yang menikmati harinya.
Merekapun segera masuk kedalam rumah, belum jauh mereka melangkah, terdengar suara klakson mobil dari depan rumah. "wah, sepertinya itu suara klakson mobil Pak Rohman. Kamu baik-baik dirumah yah, Abang mau berangkat kerja dulu. "ucap Takim, dengan memegang bahu Adiknya.
"memang Abang mau kerja hari ini juga? memang tugas kemana Bang. "tanya Fitri, dengan sedikit mendekat kewajah Takim.
Sontak wajah Takim memerah merona, ketika wajah mereka saling berdekatan. "ah... mikir apa sih Gua, dia itu Adek Gua, Aaahhh!. "gumam hati Takim, dengan detak jantung berdetak cepat.
Dengan perasaan yang tidak karuan, Takim segera pergi meninggalkan rumah, bersama Rohman yang menunggu sedari tadi. "sudah siap berangkat? "ucap Rohman, didalam mobil yang menatap Takim memasuki mobilnya.
"Siap Pak, mari kita berangkat. "saut Takim, sambil memakan semangkuk mie instan.
Rohman segera mendorong over gigi, bersamaan kaki kiri yang mengangkat kopling secara berlahan, dalam kecepatan lambat mobil yang dinaiki mereka bergerak maju. "Pak, malam ini kita akan mengambil mayat dimana?... "tanya Takim, dalam mulut penuh makanan.
__ADS_1
"habiskan dulu makanan dimulutmu, tidak baik bicara dengan mulut penuh makanan. "ucap Rohman dengan senyum senang, bisa bekerja bersama dengan Takim lagi.
"bagaimana hubunganmu dengan anak saya? "gumam Rohman dengan sedikit mengoda Takim.
Sontak Takim terkejut dengan pertanyaan Rohman yang tiba-tiba. "baik Pak, Kami tidak ada masalah apa-apa. "jawab Takim, dengan hidung mengeluarkan mie.
"Hahahaha.... "suara tawa Rohman yang melihat tingkah konyol Takim... "malam ini, kita akan kekeduri, disana ada mayat yang baru tertabrak kereta api. "ucap Rohman, sambil menyetir mobilnya.
Takim yang sudah berpengalaman dibidang seperti itu, dan ditambah sudah terbiasa dengan hal-hal yang mengerikan, hanya berkata. "Oh"...
Ditengah perjalanan mereka melihat seorang gadis bejalan sendirian, dari perawakannya, Takim seperti mengenal gadis tersebut, segera dia meminta Rohman untuk menghentikan laju mobilnya, Takimpun berlahan keluar dari mobil dinasnya.
"hai, Ketua Osis, sedang apa Ketua ditempat seperti ini. "tegur Takim yang melihat Laras berjalan sendiri dimalam hari.
"heee, Takim. "saut Laras yang terkejut dengan pertemuannya...
Nampak Laras yang terlihat seperti orang binggung, dengan kedua mata berlinang air mata. "hikz... hikz... "Ketua kenapa? apa yang terjadi?. "ujar Takim yang sama binggungnya, melihat Laras tiba-tiba menangis.
Laras melihat mobil yang digunakan Takim, bersama seorang pria yang lumayan tua, sedikit terkajut ketika hendak masuk kedalam mobil. "Takim apa ini tidak apa-apa? bukanya ini mobil Ambulance?. "ucap Laras yang sedikit takut masuk kedalam mobil.
Dengan jurus bersilat lidah, Takim membujuk Laras untuk naik terlebih dahulu. "tenang saja Ketua dijamin aman, kan, ada Aku disamping ketua. "usaha Takim membawa hasil maksimal, akhirnya Laras masuk kedalam mobil.
"ketua, memangnya tinggal dimana? kalau searah nanti kita antar sampai rumah. "ucap Takim, yang memandang wajah polos Laras.
"Aku tinggal dimuara Angke, Aku tidak bisa pulang, seseorang telah merampas tas yang berisi dompetku. "jawab Laras, dengan suara terisak-isak.
"ya sudah, nanti setelah pekerjaan Kami selesai, Kami akan langsung mengantar ketua. "ucap Takim yang berusahan menghilangkan kesedihannya.
"jangan panggil Aku ketua, panggil saja Laras. memang kerjaan seperti apa sih. "ucap tanya Laras, sambil menatap seisi mobil.
__ADS_1
"Aku bersama Pak Rohman, bekerja sebagai Pemburu Mayat. "jawab Takim dengan nada sedikit horror.
Laras yang mendengar jawaban Takim, terkejut tidak bisa mengatakan apa-apa, mendenger namanya saja Laras sudah berpikir, kalau pekerjaannya berhubungan dengan kematian.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai disuatu tempat yang mereka tujuh, Rohman memarkirkan mobilnya didepan rel kereta api didekat Stasiun Keduri, mereka mulai turun dari mobil. "Laras Kamu tunggu didalam mobil saja. "titah Takim, yang tidak ingin Laras melihat pekerjaannya.
Namun dalam keadaan melihat sekelilingnya, yang sepi sunyi, gelap, Laras memutuskan untuk ikut bersama mereka. "Takim Aku ikut yah. "gumam Laras, dalam keadaan melihat sekitar.
Melihat Laras dalam ketakutan, mau tidak mau Takim mengajaknya untuk mengambil mayat korban tabrak kereta. "ya sudah ayo, tapi jangan kaget yah, soalnya Kami mau ngambil mayat yang tertabrak kereta. "ujar Takim yang sedikit menakuti.
Dalam keadaan takut, Laras mengikuti Takim sambil memeluk tangan Takim. "aji gile, anget benner... tiap hari kerja begini aja, wah. "guamam hati Takim yang mendapat pelukan dari Laras.
Berselang waktu yang mereka tempuh, nampak tubuh tergeletak dipingir rel kereta dengan terbungkus kertas koran, berlahan mereka menghampiri mayat tersebut, dengan Rohma yang membawa tanduh sendirian. "Takim-Takim, tega Kamu lihat Saya bawa tanduh sendirian. "gumam Rohman, dengan mengelengken kepala.
"maaf Pak, habis bagaimana ini nempel terus. "saut Takim yang sedikit tidak enak hati.
Mereka mulai menjalankan tugas mengumpulkan bagian mayat yang hilang, Laras yang belum terbiasa melihat itu, merasa mual, dan ingin muntah, Laras sedikit menjauh dari mereka. tiba-tiba sebuah angin melintas dileher belakangnya, sesaat bulu kudu Laras mulai berdiri. "lho kok, Aku merasa merinding nih, serem amat nih tempat. "gumam Laras, dalam keadaan takut.
Sepintas sebuah bayangan putih melintas dihadapannya, dengan cepat Laras memalingkan wajahnya, sambil kedua tangan menutupi matanya, tidak lama Laras memberanikan diri, untuk melihat bayangan putih yang melintas dihadapannya...
Melihat keadaan sudah mulai aman, Laras menarik napas legah, namun ketegangan kembali datang, terdengar suara rel, yang seperti dipukul-pukul oleh sebuah benda keras, Laras hanya terdiam, tidak berani menoleh, semakin lama suara pukulan rel itu, semakin mendekat, nampak dari arah belakang, sosok berbaju putih, dengan tangan memegang pemukul bisbol, berjalan menghampiri Laras sambil memukul-mukul rel kereta api.
Laras ingin sekali berlari namun kedua kakinya tidak dapat digerakan, Laras ingin berteriak, namun suaranya tidak bisa keluar. "aduh kenapa badan Gua gak bisa digerakan, terus kenapa ama suara Gua!. "jerit hati Laras dalam ketakutan.
sosok berbaju putih lesuh, dengan wajah pucat, rambut berantakan, semakin mendekat kearah Laras, dalam ketakutan, dia memejamkan kedua matanya, seraya tidak ingin melihat sosok tersebut.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?....
__ADS_1
"BERSAMBUNG!!!....