MATA KEMATIAN

MATA KEMATIAN
AWAL YANG BARU


__ADS_3

"Disaat keributan disebuah keluarga yang baru pindah, munculah seorang dengan tiba-tiba.


Wah, ramai sekali yah! "ucap Rohman yang sudah berada didalam rumah.


Hah, bang Rohman! sejak kapan masuk rumah. "ucap Siti dengan terkejut melihat Rohman yang sudah ada didalam rumah.


Maaf, saya maen masuk gitu aja, soalnya tadi saya sempat ketuk pintu, namun tidak ada yang buka, lalu mendengar suara jeritan, dari itu saya langsung masuk. "ucap Rohman yang salah tingkah, dengan tangan kanan dibelakang kepala.


"Kedatangan Rohman ingin mengajak Takim, bekerja dihari pertamanya, mendengar ucapan Rohman, Takim segera bergegas pergi bersiap-siap, sambil menunggu Takim, Rohman mengajak Siti dan Fitri mengobrol.


ada apa, kalian sepertinya lagi meributkan sesuatu? "ucap Rohman yang ingin tahu, keributan yang dia dengar sampai keluar rumah.


Ini bang, siFitri ribut matanya berbeda warna, padahal saya dah bilang kalo matanya biasa saja, sama pada umumnya. "jawab Siti sambil menuangkan teh kedalam gelas Rohman.


"Mendengar ucapan Siti Rohman, teringat pekataan Almarhum Udin teman masa kerja ketika masih hidup, Udin mengatakan kedua matanya selalu berubah merah, jika melihat mahluk kasat mata.

__ADS_1


Oia mata kananmu sempat hancurkan Fit? lalu kamu mendapat donor mata dari siapa? "ucap Rohman sambil memegang dagunya, yang sudah yakin kalo mata itu milik ayahnya Fitri.


"Siti enggan menjawab pertanyaan Rohman, dengan cepat dia mengganti topik pembicaraan.


Bang Rohman kali ini, mau memburu mayat kemana? "ucap Siti dengan salah tingkah.


"Melihat reaksi Siti, sepertinya dia merahasiakan sesuatu kepada putrinya, Rohmanpun paham maksud Siti, dia segera menganti topik lain juga.


Haaa.. begitu yah!. kali ini saya akan kesunter, ada sebuah mayat wanita tergantung dipingir sungai, jadi perburuan kali ini, bisa dibilang cukup ekstrim he..he..he... "ucap Rohman yang ikut salah tingkah juga, melihat wajah Siti, yang tersipuh malu.


"tidak berapa lama Takim telah muncul, Rohman beranjak dari tempat duduknya, dan berpamitan kepada Siti, dengan keadaan masih kesal, Fitri menyemangati mereka berdua, melihat adik manisnya tersenyum kepadanya, Takim menjadi semangat.


Hati-hati bang! kerjanya, ikuti apa kata pak, Rohman. "Teriak Fitri menyemangati abang satu-satunya.


Fit, ayo tidur, besok pagikan hari pertamamu masuk SMA, nanti kesiangan lho! "ucap ibunya, sambil menggandeng putrinya yang masih kesal.

__ADS_1


"Diperjalanan Rohman menjelaskan, tentang pekerjaan yang akan mereka lakukan hari ini, Rohman menyuruh Takim untuk memperhatikan cara bekerja sebagai pemburu mayat, Takim mengerti apa yang diucapkan Rohman, berlahan laju kendaraan mereka mulai melambat, disebuah jalan yang cukup sepi dikarenakan waktu sudah menunjukan pukul 23:30wib, kendaraan yang lewat sudah terlihat jarang melintas didaerah itu.


Ayo kita cepat selesaikan. "ucap Rohman menatap Takim, sambil membuka pintu mobil.


"Mereka bergegas turun dari mobil, dengan langkah kaki yang bergerak cepat, mereka telah tiba dilokasi yang jaraknya cukup jauh dari kendaraannya, Rohman bergerak turun kebawah, karna posisi jenazah berada di atas pohon yang dekat dipingir sungai sunter.


Takim kamu lihat aja dulu, sekarang saya akan turun kebawa, langsung naik kepohon itu. "ucap Rohman yang mengungkapkan strateginya.


"karna letak pohon ditepi sungai yang, membuat perburuan kali ini cukup beresiko, ditambah arus sungai yang mengalir deras, membuat pengambilan jenazah begitu sulit, sedikit salah melangkah nyawa sebagai taruhannya.


"Takim melihat Rohman medapat kesulitan saat menaiki pohon besar, yang posisinya miring ketepi sungai, sepertinya Rohman ketakutan ketika melihat arus sungai yang begitu deras, tubuhnya tidak berhenti bergemetar, ditambah dengan kaki simayat yang terkena derasnya arus sungai sunter, membuat Rohman kesulitan menarik tubuh simayat.


Pak, anda baik-baik saja "teriak Takim dari kejauhan, dengan rasa cemas dari wajahnya.


"Dari kejauhan nampak Rohman merangkak, lebih mendekat ke simayat, dengan posisi kedua paha menjepit batang pohon, Rohman menarik tali yang menjadi alat, simayat untuk bunuh diri, dengan sekuat tenaga Rohman menarik simayat, namun deras arus sungai sunter, membuat Rohman mengerahkan tenaganya, Takim yang melihat Rohman kesusahan segera bergegas pergi membantu, dengan membawa sebuah tambang yang di ambil dari dalam mobil.

__ADS_1


"apa yang akan terjadi pada merek?..


"BERSAMBUNG!!!...


__ADS_2