
"Digelap suasana malam, diiring suara-suara hewan malam.
..."khuek... khuek... hkuek"...
Tadi yang gua liat apaan yah? bukanya tadi Winah? "Di lihat dari manapun emang itu si Winah, seruan Udin dengan apa yang dia lihat.
"Dengan rasa penasaran Udin melanjutkan perjalanannya, menuju pos kambling, kedua langkah kakinya terhenti.
Perasaan gua ada yang lagi ngeliati aja? padahal gak ada orang disini, apa cuma perasaan gua dong? "dengan keadaan bulu kudu merinding Udin mempercepat langkah kakinya.
Aduh bang Udin kok, belom nongol-nongol juga, apa dia ketiduran yah? "ucap Tomo sambil melihat sekelilingnya.
Tom, noh bang Udin, panjang umurnya yah, lagi diarepin nongol orangnya. "ucap Pa,i yang melihat Udin.
Eeeh... bang Udin, lama amat, kita nungguin dari setadi kirain gak jadi dateng. "rasa legah Tomo yang dengan kehadiran Udin.
Jie.. ileh segitunya ama gua, lagiankan malem ini giliran gua jaga ronda. sebelom keliling kita ngopi dulu yok.
" Pa,i yang sedang membuat kopi, dikejutkan dengan bayangan yang melintas didepannya, dengan rasa takut, Pa,i berlari ketempat Udin dan Tomo.
Wei, Pa,i ngapa elu lelarian, sampe keliatan jerawat dimuka elu. "sudah melihatnya saja Tomo, berpikir dia melihat hantu.
Ah.. elu bang becanda aya, gua tadi lagi bikin kopi tiba-tiba ada bayangan orang lewat didepan gua. "bercerita dengan napas terengah-engah.
"Udin melirik kearah sepenser, wajah Udin begitu tegang melihat Winah, yang berdiri disamping sepenser itu. namun Udin yang mulai terbiasa dengan kemampuanya, tidak menghiraukan kehadiran hantu Winah.
__ADS_1
Hai, kalian tau gak? gua bisa ngeliat setan, asal elu berdua tau aja, disamping sepenser itu, ada si Winah.
Ih... abang Udin jangan nakut-nakutin kita dong, udah tau kita berdua penakut. "mendengar ucap Udin, Tomo dan Pa,i bersembunyi dibalik badan Udin.
"Udin menyuruh mereka tenang, dan bersikap seperti biasa, menghilangkan rasa tegang, Udin menceritan kejadian yang dia lakukan bersama Rohman.
Lah, dari namanya aja udah bikin kita merinding bang, apa lagi ngejalaninnya? emang gak ada nama laen, selaen Pemburu mayat? "pembicaraan mereka semakin kearah yang menyeramkan.
..."khuek... khuek... khuek"...
Adu bang ada suara burung kwek
(burung hantu), kata emak gua, klo suaranya deket berarti dia jauh, tapi klo suaranya jauh dia deket.
"Mendengar ucapan Pa,i, Udin sedikit percaya kedua matanya, melihat sosok mahluk berambut panjang, mengenakan kain putih, berdiri membelakangi mereka, terdengar suara nyanyian dari sosok itu.
"Nina bobo... oh nina bobo...hem..hem... hem"
"Udin terus memandangi sosok wanita itu, dan membuat sukmanya keluar dari badan dia, Tomo yang melihat sikap Udin yang aneh, menjadi ketakutan.
Jangan-jangan bang Udin ngeliat? "ujar Tomo sambil memanggil-manggil nama Udin.
"Sukma Udin yang sedang berbicara, dengan sosok yang membelakangi mereka, mendengar suara Tomo memanggil-manggil namanya, dengan mengoyangkan tubuhnya.
...*Astaqfirullohal,azhim*...
__ADS_1
Terimakasih Tom, barusan gua ngeliat arwah perempuan, ternyata laki-laki yang menghamilinya, salah satu dari warga kita. " Tentu saja Udin tahu orang itu.
Terus siapa abang kenal orang itu? tanya Tomo yang semakin penasaran.
iya, gua kenal orangnya, dia berada disini. " sambil menatap Pa,i.
kenapa elu ngeliatin gua bang, bukan gua pelakunya, lagian abang percaya amat, ama setan Winah. "berusaha meyakinkan.
hei, Pa,i kenapa elu tau, klo itu Winah padahal gua ngak nyebut namanya. "mendengar ucapannya saja mereka semakin yakin, kalau Pa,i pelakunya.
Udah Pa,i ngaku aja dari pada elu disamperin terus tiap malem. "ucap Tomo yang geram.
"Mendengar ucapan Tomo, Pa,i mengakui perbuatannya, dan menceritakan hubungan dia dan Winah, mereka sepasang kekasih, dengan hubungan yang tidak mendapatkan restu dari orang tua Winah.
Gini Pa,i apapun alesannya, elu itu udah salah membiarkan Winah, menanggung beban sendirian, sebagai lelaki elu harus berani bertanggung jawab." ucap Udin meyakinkan Pa,i.
"Mendengar perkataan Udin, Pa,i menyesali sikapnya, yang membuat Winah, menanggu penderitaan seorang diri, dia menangis histeri.
...*Winah...*...
"Di pagi hari Pa,i mendatangi rumah Winah, dan mengakui perbuatannya kepada ayah Winah, tentu saja ayah Winah, sangat marah namun nasi sudah menjadi bubur, semarah apapun dia tetap saja Winah kini sudah tiada.
"Ikuti kisah cerita ini dikaryaku, baca terus yah, dikisah selanjutnya.
"Terimakasih"....
__ADS_1