MATA KEMATIAN

MATA KEMATIAN
SELAMAT TINGGAL KAKAKKU


__ADS_3

"kedatangan Ratu Panta Selatan yang secara tiba-tiba membuat Fitri terkejut, dengan menatapnya saja Fitri merasa ketakutan, sambil bibirnya yang manis mengucapkan kalimat Istiqfar, dengan tatapan tajam seolah-olah Fitri sudah siap untuk melawannya.


Kamu tidak usah sewaspada itu, Gadis manis kali ini. mata itu, memilih Gadis yang lumayan cantik. " ucap Sang Ratu Penguasa Pantai Selatan, sambil turun dari kereta kencananya, yang berlahan menghampiri Fitri.


apa maksud dari ucapanmu??? "binggung harus memangil apa, kepada Sang Ratu.


Panggil saja Aku Nyi Rorokidul, Aku bisa menyelamatkan Saudaramu ini. asal Kau bersedia ikut denganku, Aku akan mengirimmu kesuatu dunia yang belum pernah Kau lihat sebelumnya. bagaimana apa Kau mau menerima tawaranku?. "ucap Sang Ratu, sambil memegang tubuh Takim.


"sejenak Fitri terlihat sedang berpikir, sambil melirik kearah Kakaknya yang disentuh Sang Ratu Pantai Selatan, Dia ingin Kakaknya selamat, dan hidup bahagia, itu saja sudah lebih dari cukup buatnya.


Tapi benar Nyai, bisa menyelamatkannya? jika memang benar Saya bersedia ikut dengan Nyai.


"ucap Fitri, dengan keyakinan yang mantap, demi Kakaknya Dia rela ikut dengan Sang Ratu.


"sang Ratu, melakukan suatu gerakan yang memunculkan sebuah cahaya berwarna hijau, berlahan cahaya itu, diarahkan kepada Takim yang keadaannya penuh dengan banyak luka, dan sekarat, dalam sekejap luka Takim menutup sendiri, dengan satu jari Sang Ratu, memindahkan pohon yang berada didekat Takim.


Sesuai keinginanmu Aku sudah menyelamatkan Saudaramu, kini giliran Kamu tepati janjimu, Aku akan memberi Kamu waktu untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Saudaramu itu. "ujar Sang Ratu, sambil beranjak menaiki kereta kencananya.


"kereta kencana membawa Sang Ratu kedasar laut, berlahan mata kanan Fitri kembali normal, burung-burung kembali beterbangan, ombak mulai bergerak menghantam karang, para Guru kembali berlari menuju Takim, batu dan pohon besar kembali keposisi semula.


Kalian tidak apa-apa, kemana batu dan pohon tadi, " ucap para Guru, dengan wajah yang kebinggungan.


"merasa tidak terjadi apa-apa merekapun kembali ketempatnya masing-masing, Siska menatap wajah Kakakknya yang terakhir kalinya.


Abang Aku sayang Abang, ingat Bang kalo kerja jangan berlebihan, selalu jaga kesehatan, "air mata mengalir deras dari Fitri.


"Takim menjadi binggung, perasaan ini sama seperti saat Ayahnya, terakhir kali ucapkan sebelum pergi jauh meninggalkannya, tanpa disadari Takim meneteskan air mata.

__ADS_1


Jaga Ibu yah, Kak, maaf. Fitri belum bisa menjadi Adik yang baik, yang pasti Fitri sangat sayang Abang. " ucap Fitri terseduh-seduh, dengan air mata yang mengalir tiada hentinya.


Takim jaga Ibu, dan juga Adikmu, maafkan bapak bu, yang belum bisa membahagiakan kalian. "kenangan Takim saat trakhir melihat Ayahnya.


Apa Kau juga ingin meninggalkan Abang? jawaab!!... ucapanmu sama saat terakhir bapak menghembuskan napas terakhirnya, apa Kau menukar nyawamu?. "teriak kesal, sedih, itulah yang dirasakannya.


"Fitri mendekap tubuh Takim dengan erat, Dia ingin tetap seperti ini selamanya. air mata Takim terus berjatuhan, sehingga membasahi pergelangan tangan Fitri yang saat itu sedang mendekap Takim.


Anggap saja seperti itu Bang. "jawab Fitri, yang terasa hambar, sambil mengusap-ngusap rambut Takim.


"Takim melepaskan dekapan Fitri, sambil melayangkan tangan kanannya kearah Fitri, guna untuk menyadarkannya, Takim sangat kesal mendengar ucapan Fitri, yang seolah-olah akan pergi jauh meninggalkannya.


Jangan Kau ucapkan kata-kata itu, bagaimana hidup Abang tanpamu, bagaim_____


"tiba-tiba, Fitri melompat kearah Takim, dan menutup mulutnya dengan bibirnya, nampak Takim terkejut dengan kelakuan Adiknya, yang tiba-tiba mencium Kakaknya didepan mata Maria.


"wajah Taki nampak terkejut dengan pernyataan Fitri kepadanya, disaat bersamaan cahaya hijau terpancar diseluruh tubuh Fitri, keberadaannya mulai memudar, Takim semakin terkejut berusaha mendekap tubuh Adiknya yang berlahan menghilang dihadapannya.


...Selamat tinggal Abangku tersayang....


tidak.... tiidaaakkk... TIIIDAAAKKKK....


"teriakan Takim yang cukup keras membuat semua orang berlarian menghampirinya, penglihatan Takim mulai memudar, dengan lenyapnya sang Adik tercinta, yang akhirnya Takim tidak sadarkan diri, Maria yang melihat kejadian itu, segera berlari kearahnya, mencoba melakukan pertolongan.


Kenapa Takim seperti ini? cepat bawa Dia masuk kekamarnya. "ucap Guru, yang mengajar dikelas Takim, sambil mengendongnya menuju kedalam kamar.


"seiringnya waktu berlalu, sudah 3hari setelah kejadian itu, Takim nampak murung memikirkan nasib Adiknya, yang menghilang secara tiba-tiba dihadapannya, sang Ibu yang melihat keadaan putranya yang seperti itu, tidak henti-hentinya menitiskan air mata, ditambah dengan hilangnya Fitri, putri satu-satunya yang entah tahu dimana sekarang keberadaannya.

__ADS_1


Takim makan dulu yuk, Nak. sudah lama Kamu tidak makan, ayo dimakan sedikit juga tidak apa-apa, "ucap Siti dengan terseduh-seduh, melihat keadaan putranya yang malang, sambil memeluk tubuh kurusnya.


"dari kejauhan Rohman bersama Maria datang untuk melihat keadaan Takim, berharap Dia sudah mulai membaik.


Bagaimana keadaan Takim Bu?. "tanya Rohman yang juga ikut mengkhawatirkan keadaan, calon mantunya.


"Maria yang melihat keadaan Takim yang semakin hari semakin memburuk, merasa sedih dan kesal, berlahan Maria mengangkat tangannya tinggi keatas, dan mengayunkan kewajah Takim yang tidak berdaya.


Apa dengan Kau seperti ini, bisa membawa Adikmu kembali pulang!! betapa menderitanya Dia disana menunggu Abangnya datang menolong, Dia sedang menunggumu disana, untuk dijemput olehmu, Tapi APA!!! Kau malah bermalas-malasan meratapi ketidak mampuanmu, Kakak macam Apa!! Kau ini?. "ucapan keras Maria, yang menghantam batinnya Takim, sambil menitiskan air mata.


"setelah melampiaskan amarahnya, Maria pergi kekamar Fitri menyembunyikan penyesalannya, yang telah menampar Takim, Dia menangis dengan terseduh-seduh, dengan bantal sebagai tempat bersandarnya.


"Takim yang menerima sebuah tamparan dan kata-kata yang menusuk hatinya, memandang sebuah teralis besi, begitu terkejutnya dengan sebuah wajah yang penuh putus asa, didalam teralis besi tersebut.


Benar apa yang dikatakan Maria, Aku tidak boleh sesantai ini, Aku harus mencari keberadaan Adikku, "seruan Takim dalam hati, mencoba bangkit dari bumi kelangit.


"Takim beranjak menghampiri Ibunya, bersimpuh meminta maaf dengan ketidak berdayaannya, dan berjanji akan menemukan Adiknya.


Ibu tidak usah khawatir Takim akan menemukan Fitri, dan membawanya kembali pulang. "ucap Takim dengan tatapan penuh keyakinan.


"merekapun masuk kedalam rumah dengan bersama-sama, Takim menghampiri Maria, Dia meminta maaf, dengan ketidak mampuanya. menyelamatkan Adiknya, Maria beranjak memeluk Takim yang sepertinya sudah kembali bersemangat.


Maafkan Aku yang membiarkan Kamu seperti ini, Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri, yang tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. "jeritan hati Maria, yang sambil memeluk Takim.


"Apa yang akan terjadi selanjutnya? mampukahTakim menemukan Adiknya?...


"BERSAMBUNG!!!.....

__ADS_1


__ADS_2