
Rasa senang Takim, Fitri, dan Tari, tidak terhingga dengan kembalinya ketempat yang seharusnya mereka berada, tanpa ada perbekalan, makanan, air, bahkan uang, mereka terus berjalan melewati dinginnya kutub utara.
rasa dingin yang menusuk sampai kedalam tulang, membuat Takim ingin sekali memeluk Adiknya, yang berjalan dengan kedua tangan terlipat seraya memeluk diri sendiri, dia menahan udara yang begitu dingin, hembusan angin utara membuat dia semakin menggigil. "kalau seperti ini, kita pasti mati. dinginnya minta ampun... Hachi..."gumam Fitri dengan mengeluarkan cairan dari dalam hidungnya.
Melihat Adiknya yang kedinginan sambil bersin, membuat Takim semakain ingin memeluknya, namun dia takut dikira sebagai maniak pecinta adik oleh Tari. "aduh bagaimana kalau Fitri sampai sakit. " gumam Takim dalam hati, dengan penuh kekehawatiran kepada Fitri.
Tari terus berjalan dengan menatap gerak-gerik Takim yang mencurigakan, rasa dingin semakin menusuk tulang-tulang mereka. "hai Takim, bukanya Kau bisa terbang. "ujar Tari dengan suara gigi yang mengigil kedinginan.
Tidak terpikir oleh Takim sedikitpun, tentang kemampuanya saat ini, mungkin karena sarap otaknya yang membeku, atau memang dia itu bodoh. "bener! juga yah, Kenapa Kamu baru bilang Tar. "ucap Takim, sambil memukul telapak tangannya.
Melihat sikap yang konyol dari Takim, Tari hanya mengkerutkan wajahnya saja. "ayo kita pulang kerumah, kalian pengangan yang erat yah. "ujar Takim, yang mulai mengeluarkan kekuatannya.
Takimpun terbang dalam pelukan 2 gadis cantik yang merasa kedinginan, terlihat wajah mesum Takim dengan sebuah cairan yang keluar dari mulutnya, perasaannya saat ini sangat berbunga-bunga, sepintas pikirannya melayang dengan gambaran 2 gadis cantik yang memeluknya saat ini. "wah... senangnya, tiap hari seperti ini, enak juga yah. "gumam Takim, dalam hati dengan senyum-senyum sendiri.
Tidak begitu lama mereka melihat sebuah lahan yang dipenuhi rerumputan ilalang, dengan pepohonan yang menjulang tinggi keatas, seluruh tubuh mereka mulai merasakan sinar terik matahari yang terpancar mengenai kulit mereka.
"hai lihat, kita sudah sampai didaerah Tropis, bagaimana kalau kita turun disini. "ujar Tari, dengan menunjuk kedaerah, yang penuh dengan rumput, dan pepohonan.
"lanjut sajalah, pengen cepet-cepet sampai kerumah nih. "saut Takim, yang sebenarnya tidak ingin terlepas dari pelukan mereka.
berkat Ajian bersilat lidah dari Takim, mereka terus melanjutkan perjalanannya, dengan perasaaan semangat yang mengebu-gebu, tanpa disadari Takim kehabisan energinya, tubuhnya terasa lemas, berlahan mereka terjatuh dari ketinggian 18 meter, teriakan mereka membuat Takim sedikit pusing, dan akhirnya mereka terjatuh menimpa sebuah dahan pohon, disertai burung-burung yang beterbangan dari sarangnya.
"adduh... sakitnya. "ujar Tari dengan keadaan terduduk kesakitan, sambil mengusap-ngusap bagian bawah belakangnya.
Takim yang masih pusing dengan keadaan tersungkur terbalik, dikelilingi banyak domba diatas kepalanya, yang terus berputar-putar ditempat. tiba-tiba kedua matanya terbelalat, melihat pemandangan yang luar biasa dari Tari. Takim terus menatap cela diantara kedua kaki Tari yang terbuka lebar, tanpa disadari. "Pink kembang-kembang. "gumam pelan Takim, dengan serius memanatap kearah cela kedua kaki Tari.
mendengar gumaman Takim, Tari segera menoleh kearahnya, melihat darah terus mengalir keluar dari hidungnya, dengan tatapan yang penuh imajinasi dikepalanya, Tari baru sadar, kalau Takim sedari tadi melihat CDnya. "dasar lelaki mesum. "ujat Tari sambil melemparkan sepatu kearah wajahnya.
__ADS_1
________________________________________________________
...Kota Jakarta...
Akhirnya mereka telah sampai dikota tempat mereka tinggal, dengan senyum kecil Takim dan Fitri mulai beranjak kerumah yang telah didapatkan Takim dari tempatnya bekerja. "Abang kita pulang kerumah. "ucap Fitri, yang tidak sabar ingin bertemu dengan Ibunya.
"iya, Fit, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. "saut Takim, yang tidak sadar sudah berada didepan rumah.
"ah, Abang, lanjutin apa! kita sudah didepan rumah nih. "saut Fitri, dengan mengerutkan wajah cantiknya.
...Tok... Tok... Tok......
..."Assalamu'alaikum"...
...Tok... Tok... Tok......
Terlihat Siti sedang memotong sayuran didapur, dengan samar-samar dia mendengar suara seorang perempuan diringi suara ketukan pintu. "siapa sih yang bertamu. "gumam Siti, sambil mendengar suara dari depan pintu utama.
..."Assalamu'alaikum"...
...Tok... tok... tok......
"Bu, Ibu.... Fitri sama Abang Takim pulang Bu. "ujar Fitri dari balik pintu luar rumah, sambil mengetuk-ngetuk pintu terus-menerus.
Setelah memastikan suara dibalik pintu itu, Siti terkejut senang. "itukan suara Fitri, anakku!. apa dia sudah kembali? Oh... "gumam senang Siti, yang tidak bisa berkata apa-apa, yang berlahan membuka pintu rumah.
..."Wa'alaikum Salam"...
__ADS_1
Pintu terbuka, nampak yang telihat wajah Fitri terlebih dahulu, disusul dengan wajah Takim yang agak kusut, kucel, dan kumel. "Fitri... Takim... "nampak Siti menitiskan air mata, terkejut senang, seolah-olah tidak percaya dengan semua yang terlihat dihadapanya.
Siti membuka pintu rumah selebar mungkin, berlahan menghampiri kedua anak-anaknya, merabah wajahnya, memastikan ini bukan mimpi, air mata Siti semakin bercucuran mengetahui Anak-anaknya telah kembali. "syukurlah Nak, Kalian tidak apa-apa, Ibu sangat khawatir dengan keadaan kalian, Ibu sangat kesepian tanpa Kalian berdua. "rintihan Siti, yang terus menangis terseduh-seduh, membuat Fitri memeluk erat tubuh Ibunya.
"Fitri juga kangen Bu, sama Ibu, hikz... hikz... "suara tangis Fitri membuat Siti semakin sedih, mereka menangis dalam saling memeluk.
Ibu, sehat-sehat sajakan. "ucap Takim dengan berlinang air mata, berharap dapat pelukan dari Ibunya, dengan menjulurkan kedua tangan kedepan, seraya ingin dapat pelukan.
Fit, kita masuk yuk, Ibu sudah siapin makan buatmu, "ujar Siti, yang berpura-pura tidak perduli dengan Takim.
"Haaa, "kejut heran Takim, dengan mulut terbuka lebar, masih dengan kedua tangan menjulur kedepan.
Kau juga masuk Takim, sampai kapan Kau berlagak seperti anak kecil disitu. "gumam Siti, dengan senyum manis kepada Takim, yang telah menepati janji mereka berdua.
Akhirnya keluarga mereka berkumpul kembali, kebahagiaan nampak terlihat jelas diwajah mereka, Takim menceritakan perjalanaannya kepada Ibunya, sambil duduk dimeja makan, Siti yang mendengar cerita Takim sedikit terkejut. "Sayang, ulangi cerita saat kamu datang kepantai selatan. "ucap Siti dengan memasang wajah terkejut.
"memangnya kenapa Bu?.... "cepat ulangi Ibu kurang jelas. "saut Siti yang memaksa Takim menceritannya lagi.
"Saat Aku datang kepantai selatan, Aku bertemu dengan seorang pria tua, dengan belangkon dikepala, beserta baju seperti dukun gitu dech. "lanjut cerita Takim dengan santai, sambil menyeruput segelas teh hangat.
Tiba-tiba, nampan yang dipegang Siti terlepas jatuh dari tangannya, Takim dan Fitri terkejut, melihat reaksi Ibunya yang terdiam kaget, setelah Takim menceritakan kembali tentang pria tua tersebut. "Ibu, Ibu... kenapa Bu? kok, Ibu terkejut seperti itu, mendengar cerita tentang pria tua yang menolong Takim! Ibu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Kamikan!. "ucap Takim, yang melihat Ibunya bertingkah aneh.
Sebenernya Siti, ingin menyembunyikan siapa pria tua itu, dalam kebinggungan antara bercerita atau tidak, tiba-tiba Siti terjatuh kelantai.
...Ibu... Ibu... IBU......
Bagaimana kisah selanjutnya?....
__ADS_1
"BERSAMBUNG!!!.....